MAKALAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA


KATA PENGANTAR

            Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan harapan dan waktu yang telah diberikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Irham Amin Sandani, M.Pd selaku dosen Pengantar Manajemen karena sudah memberikan kami kesempatan dan pengarahan untuk menyusun makalah ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang ikut membantu kami dalam mencari referensi dalam pembuatan materi makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat membantu dalam proses pembelajaran pada semester berikutnya dan semoga bermanfaat bagi semua yang membacanya. Kami harapkan pula agar para pembaca memperhatikan celah yang mungkin kurang sempurna dalam makalah ini sehingga kami dapat menyusun kembali yang lebih baik pada makalah berikutnya.

Surabaya, Dec 2011

                                                                                                                                     Ratna & Sri

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Rumusan Masalah

I.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Latar belakang Sosial Politik

         II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Kolonial Belanda

         II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Belanda

II.4 Kurikulum Pendidikan Zaman Belanda

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pada zaman kolonial pemerintah Belanda menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah-sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertical sehingga anak-anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan sempit.

Lahirnya suatu sistem pendidikan bukanlah hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain itu kejadian-kejadian di dunia luar, khususnya yang terjadi di Asia, mendorong dipercepatnya pengembangan sistem pendidikan yang lengkap yang akhirnya, setidaknya dalam teori, memberikan kesempatan kepada setiap anak desa yang terpencil untuk memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan hanya anak-anak yang mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.

I.2 Rumusan Masalah

  1. Apa alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia?
  2. Apa sajakah lembaga pendidikan zaman kolnial Belanda?
  3. Bagaimana sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda?
  4. Apa saja ciri umum politik pendidikan Belanda?

I.3 Tujuan Masalah

  1. Agar mengetahui alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia.
  2. Agar mengetahui faktor lembaga pendidikan zaman penjajahan Belanda.
  3. Agar mengetahui sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.
  4. Agar mengetahui ciri umum politik pendidikan Belanda.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA

II.1 Latar belakang Sosial – Politik

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu, karena kaum colonial belanda mempunyai misi yang ganda diantaranya Imperialis dan kristenisasi.

Memang diakui bahwa belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah Islam di Indonesia. Cukup banyak peristiwa di Indonesia, baik sebagai pedangang, perorangan kemudian diorganisasikan membentuk kongsi-kongsi dagang yang diberi nama VOC, maupun sebagai aparat pemerintah yang menjajah dan berkuasa. Oleh sebab itu, wajar bila kedatangan mereka mendapat tantangan dan perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja, dan tokoh agama setempat.

Tujuan Belanda datang ke Indonesia, tidak lain adalah untuk mengembangkan usaha perdagangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal Harganya di Eropa. Perseroan Amsterdam mengirim armada kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, dibawah pimpinan Cornelis de Houtman[1].

Melihat hasil yang diperoleh Perseroan Amsterdam itu, banyak perseroan lain yang berdiri juga ingin berdagang dan berlayar ke Indonesia. pada bulan maret 1602, perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten-General Republik dengan suatu piagam yang memeberi hak khusus kepada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar, dan memegang kekuasaan dikawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon, termasuk kepulauan Nuantara. Perseroan itu yang dikenal dengan VOC ( Vereenigde Oost Indische Compagnie).

VOC sejak semula memang diberi izin oleh pemerintah Belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. oleh karena itu, VOC dibantu oleh kekuatan militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan mempunyai wilayah, mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya. Dengan perlengkapan yang lebih maju, VOC melakukan politik Ekspansi. Dengan kata lain,abad ke-17 dan 18 adalah periode ekspansi dan monopoli dalam sejarah colonial di Indonesia. menjelang abad ke-18, ekspansi wilayah ini berhasil di Jawa.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya. Beberapa contoh diantaranya :

  1. Kerajaan Malaka Islam di Sumatera Utara lebih di dominasi oleh daerah Aceh yang waktu itu berada pada maa kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Karena Aceh merupakan pelabuhan transito, yang merupakan pelabuhan dagang, Aceh mencoba melakukan Ekspansi perluasan perdagangan dan perluasan Islam dengan menguasai Jambi,  Tiku, Pariaman dan Bengkulu. Iskandar Muda wafat dalam usia 46 tahun pada 27 Desember 1636. Ia digantikan oleh Sultan Tsani, sultan ini mampu mempertahankan kebesaran Aceh. Akan tetapi setelah Ia meninggal dunia, 15 Februari 1641, Aceh berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun. Ketika itulah, Aceh mengalamai kemunduran. Daerah-daerah di Sumatera yang dulu berada dibawah kekuasaanya mulai memerdekakan diri.[2]
  2. Di Jawa pusat kerajaan Islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman, yaitu Demak ke Pajang kemudian ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah Islam di jawa, diantranya : (1) kekuasaan dan system politk didasarkan atas basis garis, (2) peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga pelayar jawa, (3) terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke-17 dengan segala akibatnya.

Kemajuan itu berubah menjadi kemunduran setelah datangnya bangsa barat. Kedatangan bangsa barat disatu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi kemajuan teknologi tersebutbukan dinikmati penduduk pribumi, melainkan tujuannya hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahanya. Jelasnya kehadiran belanda di Indonesia justru menimbulkan berbagai reaksi, yang dimulai sejak awal kedatanganya, seperti serangan Adipati Unus terhadap Portugis Malaka, Sultan Agung, Trunojoyo, Diponegoro,Perang paderi, perang Aceh, dsb.

KH. Zainuddin Zuhri menggambarkan, bahwa rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam tidak memandang orang-orang barat tersebut melainkan sebagai penakluk dan penjajah, mereka kaum Imperalis, tidak peduli mereka katolik atau protestan. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuatnya ajaran dari politikus curang dan licik Machiavelli, yang anatara lain mengajarkan :

  1. Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah / Kolonial
  2. Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukan rakyat
  3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah-belah dan agar mereka berbuat untuk  mencari bantuan kepada pemerintah
  4. Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan
  5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara.[3]

Demikianlah, sejak Jan Pieters Zoon Coen (1587-1929) dengan meriam dan politk Machiavellinya menduduki Jakarta pada tgl 30 Mei 1619 serta mengganti nama Jakarta menjadi Batavia.

II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Indonesia merupakan Negara berpenduduk Mayoritas Islam. Agama Islam secara terus-menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkeraman pemerintah kafir. Perlawanan dari raja-raja Islam terhadap pemerintahan colonial bagai tak pernah henti. Padam disuatu tempat muncul tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawanan itu diinspirasi oleh ajaran Islam.

Dalam rangka membendung pengaruh Islam, pemerintah Belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia, terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka harus ditarik kearah westernisasi.[4]

Kebijaksanaan Belanda dalam mengatur jalanya pendidikan tentu saja dimaksudkan  untuk kepentingan mereka sendiri, teurtama untuk kepentingan agama Kristen. Hal ini terlihat jelas, misalnya ketika Van De Boss menjadi Gubernur Jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah-sekolah Gereja dianggap diperlukan sebagai sekolah pemerintah. Sedang departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu, sementara  disetiap daerah karesidenan didirikan satu sekolah Agama Kristen.

Jadi yang dipikirkan mereka dibidang pendidikan hanyalah untuk kepentingan mereka sendiri. Inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi adalah ketika Van De Capellen menjabat sebagai GubernurJenderal, dimana pada waktu itu dia memberikan surat edaran yang ditujukan kepada para Bupati, yang isinya adalah : “dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya kemampuan untuk membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hokum Negara  yang ditetapkan Belanda”.

Dengan demikian jelas terlihat, meskipun Benda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua adalah demi kepentingan mereka semata. Jiwa dari surat edaran yang dibuat Van De capellen tersebut diatas adalah menggambarkan tujuan dari didirikanya Sekolah Dasar pada Zaman itu. Pendidikan agama Islam yang telah ada di pondok pesantren mesjid dan mushalla atau yang lainnya dianggap tidak membantu pemerintah Belanda. Para santri pondok masih dianggap buta huruf latin, yang secara resmi menjadi acuan pada waktu itu.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan, diantaranya :

  1. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang mereka sebut Priesterraden.[5] Dari nasihat bdan inilah maka pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agama Islam harus terlebih dulu meminta izin kepada pemerintah Belanda.
  2. Tahun 1952 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan Islam, yaitu bahwa tidak semua orang Kyai boleh memberikan pelajaran mengaji kecuali mendapat semacam rekomondasi atas persetujuan pemerintah Belanda.
  3. Kemudian pada tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya beberapa kewenangan untuk memberantas dan menutup madrasah an sekolah yang tidak ada izinya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang disebut  Ordonasies Sekolah Liar  (Wilde School Ordonantie).

Tidak hanya sampai disitu, agama Islam dipelajari secara Ilmiah dinegeri Belanda. Seiring dengan itu, disana juga diselenggarakan indologie[6], ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk-beluk penduduk Indonesia. semua itu dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia. hasil dari kajian itu, lahirlah apa yang dikenal dengan “Politik  Islam”. Tokoh utama dan peletak dasarnya adalah Prof. Snouck Hurgronje. Dia berada di Indonesia antara tahun 1889 dan 1906. Berkat pengalamannya di Timur tengah, sarjana sastra semit ini berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia, yang menjadi pelopor pedoman bagi pemerintah Hindia-Belanda, terutama  Adviseur voor Inlandsche zaken,  Lembaga penasihat gubernur jenderal tentang segala sestuatu mengenai pribumi.[7]

Berdasarkan analisisnya, Islam dapat dibedakan menjadi dua bagian, yang satu Islam religius dan yang lain Islam Politik. Terhadap masalah agama, pemerintah belanda disarankan bersikap toleran yang dijabarkan didalam sikap  netral terhadap kehidupan keagamaan. Tolerenasi terhadapnya merupakan suatu yang mutlak demi ketenangan dan stabilitas. Akan tetapi Islam politik harus selalu dicurigai dan diteliti dari mana datangnya. Dan ternyata apa yang disaranka oleh Snouck Hurgrinje tersebut akhirnya justru menjadi kebijaksanaan pemerintah Hindia – Belanda terhadap Islam Indonesia. adapun intisari dan saran-saran Snouck Hurgronje  tersebut adalah :

  1. Menyarankan kepada pemerintha Hindia-belanda agar Netral terhadap agama yakni tidak ikut campur tangan dan tidak memihak kepada salah satu agama yang ada (tapi tampaknya hal ini bersifat teori belaka). menurut snouck,  fanatisme Islam itu akan luntur sedikit demi sedikit melalui proses pendidikan secara evolusi.
  2. Permerintah Belanda diharapkan dapat membendung masuknya Pan Islamisme yang sedang berkembang di Timur tengah, dengan jalan menghalangi masuknya buku-buku atau brosur dari luar ke wilayah Indonesia. mengawasi kontak langsung dan tidak langsung tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan tokoh luar, serta membatasi dan mengawasi orang-orang yang pergi ke Mekkah, dan bahkan kalau memungkinkan melarangnya sama sekali. Karena dikhawatirkan pengalaman yang didapatkanya dari luar akan dibawa pulang ke Indonesia dan mempengaruhi kelanggengan kekuasaan colonial. [8]

Demikian beberapa kebijaksanaan poemerintah colonial Belanda terhadap umat Islam di Indonesia. apapun politik terhadap Islam yang akan dilancarkan oleh kekuasaan non-Islam, hasilnya senatiasa berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan tersebut. Tekanan demi tekanan sama sekali tidak menggoyahkan mereka.

 

II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi(perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC.

Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Hal ini juga dikuatkan dari profil para guru di masa ini yang umumnya juga merangkap sebagai guru agama (Kristen). Dan sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan memiliki lisensi (surat izin) yang diterbitkan oleh VOC setelah sebelumnya mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi.[9]

Kondisi pendidikan di zaman VOC juga tidak melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya. Beberapa lembaga pendidikan yang adapa pada masa jaman penajajahn belanda adalah :

  1. MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua tahun.
  2. AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
  3. HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa Barat, khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun. Didirikan pada tahun 1860
  4. Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881
  5. Sekolah pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu
  6. Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
  7. Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
  8. Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda.
  9. dll

II.4 Kurikulum Pendidikan

Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut: [10]

  1. Pendidikan Dasar

1.Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara,berdiri tahun 1630); Dll.

  1. Sekolah Latin

2.Diawali dengan sistem numpang-tinggal In de kost di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.

  1. Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)

3.Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.

  1. Sekolah Cina

4.1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.

  1. Pendidikan Islam

5.Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.

Pada tahun 1893 timbullah differensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan:[11]

  1. Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu padat.
  2. Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang harus mendapat pengjaran itu bukan hanya lapisan atas saja.
  3. Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa bawah.

Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:

  1. Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
  2. Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:

Kelas I[12]

Tujuan: memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan  perusahaan.

Lama bersekolah: 5 tahun

Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.

Guru-guru: keluaran Kweekschool

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Kelas II

Tujuan: Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum

Lama bersekolah: 3 tahun

Mata paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.

Guru-guru: persyaratannya longgar

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah  lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

BAB III

KESIMPULAN

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar   bahasa   daerah   (IS,   VS,   VgS),   dan   sekolah   peralihan.   (2)   Pendidikan   lanjutan   yang   meliputi   pendidikan   umum   (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zuhairini, Dra,  Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2010

2. Hasbullah, Drs, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

3. M.A, Badri Yatim Dra, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008


[1] Sartono kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 , jilid 1, (Jakarta : PT Gramedia, 1987), hlm. 70.

[2] Ibid., hlm. 61.

[3] KH. Saifudin Zuhri,  Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembanganya di Indonesia, PT Al Ma’arif, Bandung, 1978, hlm. 532.

[4] S. Brojonegoro, Sejarah Pendidikan Islam, dan Diklat Kuliah Sejarah Pendidikan Islam, oleh HR Mubangid.

[5] HR. Mubangid, Diktat Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam.

[6] H. Aqib Suminto, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1985), hlm. 2 .

[7] Baca H. Aqib Sumito, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1986).

[8] E.Gobee dan C.Adriaanse,  Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda, seri khusus INIS VIII, Jakarta 1993.

[9] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 29

[11] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 36

[12] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 37

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s