Persatuan Islam (PERSIS)


  1. A.    Latar Belakang Tujuan Pendirian PERSIS

Keberadaan penjajah Belanda di Indonesia telah melahirkan semangat persatuan dan keberagamaan umat Islam. Sebab, kedatangan penjajah ke bumi Nusantara telah membawa sejumlah peradaban baru yang sebagian di antaranya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, tingkat keberagamaan umat Islam juga mulai bercampur dengan kebiasaan dan tradisi yang menurut beberapa tokoh tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya sejumlah organisasi keislaman di bumi Nusantara. Hingga saat ini, tercatat cukup banyak organisasi Islam di Indonesia. Salah satunya adalah Persatuan Islam (Persis).

Tampilnya jam’iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral.

Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan di kota Bandung pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, Kelompok tadarusan yang berjumlah sekitar 20 orang itu menelaah, mengkaji, dan menguji ajaran-ajaran Islam yang berkembang di tengah masyarakat.

Kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis), Ide terbentuknya Organisasi Islam ini bermula dari seorang alumnus Dâr al-‘Ulûm Mekkah bernama H. Zamzam yang sejak tahun 1910-1912 menjadi guru agama di sekolah agama Dâr al-Muta’alimîn yang menjadi pemimpin kelompok tadarus. Bersama teman dekatnya, H. Muhammad Yunus, seorang pedagang sukses yang sama-sama kelahiran Palembang, yang di masa mudanya memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan menguasai bahasa Arab, sehingga ia mampu autodidak melalui kitab-kitab yang jadi perhatiannya. Latar belakang pendidikan dan kultur yang sama ini, menyatukan mereka dalam diskusi-diskusi tentang keislaman. Tema diskusi biasanya mengenai beberapa masalah di sekitar gerakan keagamaan yang tengah berkembang saat itu, atau masalah agama yang dimuat dalam majalah al-Munîr terbitan Padang dan majalah al-Manâr terbitan Mesir, yang telah lama menjadi bacaan dan perhatian mereka.

Suatu ketika diskusi mereka berlangsung sesuai acara kenduri di rumah salah seorang anggota keluarga yang berasal dari Sumatera yang telah lama tinggal di Bandung. Materi diskusi itu adalah mengenai perselisihan paham keagamaan antara al-Irsyâd dan Jami’at Khair. Sejak saat itu, pertemuan-pertemuan berikutnya menjelma menjadi kelompok penelaah, semacam studi club dalam bidang keagamaan di mana para anggota kelompok tersebut dengan penuh kecintaan menelaah, mengkaji, serta menguji ajaran-ajaran yang diterimanya. Diskusi mereka juga dilakukan dengan para jama’ah shalat Jum’ah, sehingga frekuensi bertambah dan pembahasannya makin mendalam. Jumlah mereka tidak banyak hanya sekitar 12 orang hingga kemudian berkembang menjadi 20 orang. Diskusi tersebut semakin intensif dan menjadi tidak terbatas dalam persoalan keagamaan saja terutama dikhotomis tradisional-modernis Islam yang terjadi ketika itu, yang diwakili oleh Jamî’at Khair dan al-Irsyâd di Batavia, tetapi juga menyentuh pada masalah-masalah komunisme yang menyusup ke dalam Syarikat Islam (SI), dan juga usaha-usaha orang Islam yang berusaha menghadapi pengaruh komunikasi tersebut.

Maka sejak saat itu, timbulah gagasan di kalangan mereka untuk mendirikan organisasi Persatuan Islam atau nama lain yang diajukan oleh kelompok ini yaitu Permupakatan Islam, untuk mengembalikan ummat Islam kepada pimpinan al-Qur’an dan al-Sunnah. Organisasi yang didirikan di Bandung ini untuk menampung kaum muda maupun kaum tua, yang memiliki perhatian pada masalah-masalah agama. Kegiatan utamanya adalah diskusi. Setiap anggota dapat mengajukan masalah keagamaan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Di awal tahun 1926, Persatuan Islam masih belum menampakan sebagai organisasi pembaharu, karena di dalamnya masih bergabung kaum muda dan kaum tua. Yang penting setiap anggota saling mendorong untuk lebih mendalami Islam secara umum sebagai agama yang dibawa nabi terakhir, Muhammad SAW. Namun dari segi penamaan, organisasi ini sejak awal memang sudah bersifat liberal. Betapa tidak, nama Persatuan Islam yang disingkat PERSIS adalah nama Latin, yang dianggap sebagai pengaruh penjajah Belanda. Apalagi sakralitas dan pengidentikan Islam dengan Arab sangat kuat di kalangan umat Islam ketika itu. Artinya mereka siap menerima risiko dan mempertahankan pendirian serta keyakinan yang mereka miliki, atas pemberian nama latin tersebut. Padahal organisasi yang lebih dulu muncul seperti Jamî’at Khair, Muhammadiyah, dan al-Irsyâd, menggunakan nama dan bahasa Arab.

Dari segi ini, Persatuan Islam menghendaki apa yang seharusnya disakralkan dan apa yang tidak seharusnya disakralkan oleh umat Islam. Karena penilaian terhadap sesuatu yang bersifat sakral itu berkaitan erat dengan kualitas ketauhidan dan bahkan pula berkaitan dengan wawasan keislaman yang dimiliki. Jika setiap berbahasa Arab identik dengan Islam, disitu wawasan keislaman yang dimiliki seseorang adalah tergolong awam. Hal itu terbukti kemudian Persatuan Islam menjelma menjadi organisasi yang paling ekstrim dan liberal dibandingkan dengan Muhammadiyah dan al-Irsyâd dalam melakukan penentangan terhadap tradisi-tradisi yang dianggap merupakan ajaran agama Islam, melalui konsep bid’ah, khurafat dan takhayul.

Nama  PERSIS sendiri diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat Ali Imran, Ayat 103 :

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”

Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang berbunyi : “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.

  1. B.     Tujuan PERSIS

PERSIS merupakan gerakan “Reformasi” Islam yang di di bangun oleh tokoh-tokoh Intelektual untuk mempengaruhi masyarakat Islam agar melakukan pembaharuan. Seperti yang sudah diketahui bahwa PERSIS adalah salah satu gerakan pemurnian Islam, yang bertujuan dasar untuk :

  • Memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam, Mengembalikan ajaran Islam sebenarnya yang mengacu pada Al-Qur’an dan As-sunnah.
  • Terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
  1. C.    Konsep-konsep Pengkaderan

Adapun konsep-konsep pengkaderan yang digunakan oleh jamaah persatuan islam ini secara otomatis melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah atau pesantren. Ada beberapa konsep pengkaderan yang dijalankan PERSIS, yakni diantaranya memberikan wadah organisasi bagi para pemuda PERSIS agar tercipta kader yang unggul, diantara lembaga tarbiyah dan organisasi pemuda PERSIS yakni;

  1. Pesantren PERSIS, merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh PERSIS yang bergerak di bidang dakwah agar tercipta kader-kader PERSIS yang selalu bertakwa kepada Allah SWT dan berwawasan luas. Diantara wilayah  pondok pesantren PERSIS di Indonesia adalah; Pondok Psantren PERSIS Bangil, Pesantren Putri Bangil, Pondok pesantren PERSIS di Bogor, Tasikmalaya, dsb. Adapun di lembaga pendidikan PERSIS menerapkan beberapa system pendidikan, diantaranya; roudlatul Athfal 2 tahun (TK), ibtidaiyyah 6 tahun (SD), tsanawiyah 3 tahun (SMP), diniyyah ‘ula 6 tahun (program murni Islam tanpa ujian Negara), pesantren Aliyah 3 tahun (SMA), Pesantren luhur 4-5 tahun.
  2. STAI PERSIS Bandung, merupakan lembaga pendidikan bagi lulusan Aliyah/SMA sederajat untuk mencetak kader yang kritis dan sebagai pengembang dakwah. Ada dua jurusan didalamnya yakni dakwah dan tarbiyah.
  3. Pemuda Persatuan Islam (PEPERSIS), merupakan organisasi pemuda persis dengan tujuan mencetak kader pemimpin umat yang memahami, mengamalkan dan menda’wahkan aqidah, syari’ah, dan akhlaq Islam berdasarkan Al Quran dan As Sunnah dalam segala ruang dan waktu.

 

  1. D.    Kepemimpinan Persatuan Islam

Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya. Kelahiran PERSIS memberikan kekuatan dalam perssatuan Islam di Indonesia untuk melawan kekejaman penjajah pada waktu itu.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).

Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.

Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.

 

  1. E.     Metode Dakwah

Aktivitas utama PERSIS adalah dalam bidang dakwah, pendidikan, dan social kemasyarakatan. Melalui peran ini, PERSIS ingin berperan akif dalam memberikan kontribusi untuk meluruskan pemahaman umat Islam yang keliru terhadap agamanya. Ada dua agenda besar yang ingin di capai PERSIS, yakni memurnikan akidah umat (Islah al Aqidah) dan meluruskan ibdah umat (Islah al ibadah).

Untuk memperkuat visi dan misi PERSIS, maka dibentuklah sejumlah badan otonom dakwah seperti:

  1. Metode dakwah Online Yasalunaka,  diskusi tentang persoalan keagamaan.
  2. Metode media cetak (Majalah, buku, website, blog, dll)
  3. Pengajian umum
  4. Memlihara hubungan baik dengan segenap organisasi Islam
  5. Diskusi dan dialog

Persatuan Islam sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, saat ini telah memiliki sekita 215 pondok pesantren, 400 masjid, serta sejumlah lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan itu semua tersebar di seluruh Indinesia guna memperluas dakwah PERSIS.

Selain itu persis juga memakai media cetak dan online sebagai media dakwah, diantaranya:

  1. Majalah Pembela Islam (1929)
  2. Al-Fatwa (1931)
  3. Al-Lisan (1935)
  4. At-taqwa (1937)
  5. Al-hikam (1939)
  6. Aliran Islam (1948)
  7. Mahajalh SUnda Iber (1967)
  8. F.     Program-Program PERSIS

Adapun program-program PERSIS yang masih berjalan ialah:

  1. Tarbiyah, adalah program dimana dalam kajian tersebut membahas segala aspek tarbiyah jamaah persatuan islam. Adapun badan otonom dibawah bidang tarbiyah adalah Persistri, Pemuda persis, pemudi persis, HIMA persis dan HIMI persis.
  2. Jam’iyah, adalah merupakan program silahturahmi jamaah persis satu dengan yang lain.  
  3. Hisab dan Rukyat, penentuan keputusan ramadhan dan syawal
  4. Yasalunaka, adalah merupakan kajian yang melayani atau menjawab pertanyaan dari kaum muslimin yang disharekan di situ resmi persatuan islam (pertanyaan –pertanyaan seputar islam)
  5. JITU (Pengajian Sabtu)
  6. PEPERSIS
  7. HIMA PERSIS
  8. HIMI PERSIS
  9. Persatuan Islam Istri (PERSITRI), merupakan badan otonom yang diberikan kewenangan untuk kegiatan dakwah dengan kegiatan kajian Islam yang di bentuk oleh para ibu-ibu PERSIS.
  10. Persis menyelenggarakan bimbingan jamaah haji dan umrah dalam kelompok Qornul Manazil, mendirikan beberapa bank Islam skala kecil ( Bank Perkreditan Rakyat / BPR ), mengembangkan perguruan tinggi, mendirikan rumah yatim dan rumah sakit Islam, membangun masjid, seminar, serta lainnya.

 PERSIS 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/31/sejarah-persatuan-islam/

http://pwkpersis.wordpress.com/news/

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/pustaka/yasalunaka

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/berita/berita-tarbiyah

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/berita/berita-jamiyyah

http://abdaz.wordpress.com/ormas-islam/persatuan-islam-persis/

Dra Harun asrohah. M.Ag. sejarah Pendidikan Islam Jakarta: Logos wacana ilmu, 2001

Drs. Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,1999

M. Ali Hasan, Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidkan Agama Islam, Jakarta: Pedoman ilmu jaya,2003

Chodijah, Siti, Alumni PP PERSIS Bangil, Surabaya, 05 Desember’12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Persatuan Islam (PERSIS)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s