ETIKA MEMBACA AL-QUR’AN


  • Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
  • Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
  • Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”. (An-Nahl: 98).
  • Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah  berfirman yang Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).
  • Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
  • Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:
  • Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).
  • Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).
  • Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).
  • Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.
  • Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.
  • Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ápabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).

 

MAKALAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA


KATA PENGANTAR

            Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan harapan dan waktu yang telah diberikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Irham Amin Sandani, M.Pd selaku dosen Pengantar Manajemen karena sudah memberikan kami kesempatan dan pengarahan untuk menyusun makalah ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang ikut membantu kami dalam mencari referensi dalam pembuatan materi makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat membantu dalam proses pembelajaran pada semester berikutnya dan semoga bermanfaat bagi semua yang membacanya. Kami harapkan pula agar para pembaca memperhatikan celah yang mungkin kurang sempurna dalam makalah ini sehingga kami dapat menyusun kembali yang lebih baik pada makalah berikutnya.

Surabaya, Dec 2011

                                                                                                                                     Ratna & Sri

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Rumusan Masalah

I.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Latar belakang Sosial Politik

         II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Kolonial Belanda

         II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Belanda

II.4 Kurikulum Pendidikan Zaman Belanda

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pada zaman kolonial pemerintah Belanda menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah-sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertical sehingga anak-anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan sempit.

Lahirnya suatu sistem pendidikan bukanlah hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain itu kejadian-kejadian di dunia luar, khususnya yang terjadi di Asia, mendorong dipercepatnya pengembangan sistem pendidikan yang lengkap yang akhirnya, setidaknya dalam teori, memberikan kesempatan kepada setiap anak desa yang terpencil untuk memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan hanya anak-anak yang mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.

I.2 Rumusan Masalah

  1. Apa alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia?
  2. Apa sajakah lembaga pendidikan zaman kolnial Belanda?
  3. Bagaimana sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda?
  4. Apa saja ciri umum politik pendidikan Belanda?

I.3 Tujuan Masalah

  1. Agar mengetahui alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia.
  2. Agar mengetahui faktor lembaga pendidikan zaman penjajahan Belanda.
  3. Agar mengetahui sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.
  4. Agar mengetahui ciri umum politik pendidikan Belanda.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA

II.1 Latar belakang Sosial – Politik

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu, karena kaum colonial belanda mempunyai misi yang ganda diantaranya Imperialis dan kristenisasi.

Memang diakui bahwa belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah Islam di Indonesia. Cukup banyak peristiwa di Indonesia, baik sebagai pedangang, perorangan kemudian diorganisasikan membentuk kongsi-kongsi dagang yang diberi nama VOC, maupun sebagai aparat pemerintah yang menjajah dan berkuasa. Oleh sebab itu, wajar bila kedatangan mereka mendapat tantangan dan perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja, dan tokoh agama setempat.

Tujuan Belanda datang ke Indonesia, tidak lain adalah untuk mengembangkan usaha perdagangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal Harganya di Eropa. Perseroan Amsterdam mengirim armada kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, dibawah pimpinan Cornelis de Houtman[1].

Melihat hasil yang diperoleh Perseroan Amsterdam itu, banyak perseroan lain yang berdiri juga ingin berdagang dan berlayar ke Indonesia. pada bulan maret 1602, perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten-General Republik dengan suatu piagam yang memeberi hak khusus kepada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar, dan memegang kekuasaan dikawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon, termasuk kepulauan Nuantara. Perseroan itu yang dikenal dengan VOC ( Vereenigde Oost Indische Compagnie).

VOC sejak semula memang diberi izin oleh pemerintah Belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. oleh karena itu, VOC dibantu oleh kekuatan militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan mempunyai wilayah, mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya. Dengan perlengkapan yang lebih maju, VOC melakukan politik Ekspansi. Dengan kata lain,abad ke-17 dan 18 adalah periode ekspansi dan monopoli dalam sejarah colonial di Indonesia. menjelang abad ke-18, ekspansi wilayah ini berhasil di Jawa.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya. Beberapa contoh diantaranya :

  1. Kerajaan Malaka Islam di Sumatera Utara lebih di dominasi oleh daerah Aceh yang waktu itu berada pada maa kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Karena Aceh merupakan pelabuhan transito, yang merupakan pelabuhan dagang, Aceh mencoba melakukan Ekspansi perluasan perdagangan dan perluasan Islam dengan menguasai Jambi,  Tiku, Pariaman dan Bengkulu. Iskandar Muda wafat dalam usia 46 tahun pada 27 Desember 1636. Ia digantikan oleh Sultan Tsani, sultan ini mampu mempertahankan kebesaran Aceh. Akan tetapi setelah Ia meninggal dunia, 15 Februari 1641, Aceh berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun. Ketika itulah, Aceh mengalamai kemunduran. Daerah-daerah di Sumatera yang dulu berada dibawah kekuasaanya mulai memerdekakan diri.[2]
  2. Di Jawa pusat kerajaan Islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman, yaitu Demak ke Pajang kemudian ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah Islam di jawa, diantranya : (1) kekuasaan dan system politk didasarkan atas basis garis, (2) peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga pelayar jawa, (3) terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke-17 dengan segala akibatnya.

Kemajuan itu berubah menjadi kemunduran setelah datangnya bangsa barat. Kedatangan bangsa barat disatu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi kemajuan teknologi tersebutbukan dinikmati penduduk pribumi, melainkan tujuannya hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahanya. Jelasnya kehadiran belanda di Indonesia justru menimbulkan berbagai reaksi, yang dimulai sejak awal kedatanganya, seperti serangan Adipati Unus terhadap Portugis Malaka, Sultan Agung, Trunojoyo, Diponegoro,Perang paderi, perang Aceh, dsb.

KH. Zainuddin Zuhri menggambarkan, bahwa rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam tidak memandang orang-orang barat tersebut melainkan sebagai penakluk dan penjajah, mereka kaum Imperalis, tidak peduli mereka katolik atau protestan. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuatnya ajaran dari politikus curang dan licik Machiavelli, yang anatara lain mengajarkan :

  1. Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah / Kolonial
  2. Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukan rakyat
  3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah-belah dan agar mereka berbuat untuk  mencari bantuan kepada pemerintah
  4. Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan
  5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara.[3]

Demikianlah, sejak Jan Pieters Zoon Coen (1587-1929) dengan meriam dan politk Machiavellinya menduduki Jakarta pada tgl 30 Mei 1619 serta mengganti nama Jakarta menjadi Batavia.

II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Indonesia merupakan Negara berpenduduk Mayoritas Islam. Agama Islam secara terus-menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkeraman pemerintah kafir. Perlawanan dari raja-raja Islam terhadap pemerintahan colonial bagai tak pernah henti. Padam disuatu tempat muncul tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawanan itu diinspirasi oleh ajaran Islam.

Dalam rangka membendung pengaruh Islam, pemerintah Belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia, terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka harus ditarik kearah westernisasi.[4]

Kebijaksanaan Belanda dalam mengatur jalanya pendidikan tentu saja dimaksudkan  untuk kepentingan mereka sendiri, teurtama untuk kepentingan agama Kristen. Hal ini terlihat jelas, misalnya ketika Van De Boss menjadi Gubernur Jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah-sekolah Gereja dianggap diperlukan sebagai sekolah pemerintah. Sedang departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu, sementara  disetiap daerah karesidenan didirikan satu sekolah Agama Kristen.

Jadi yang dipikirkan mereka dibidang pendidikan hanyalah untuk kepentingan mereka sendiri. Inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi adalah ketika Van De Capellen menjabat sebagai GubernurJenderal, dimana pada waktu itu dia memberikan surat edaran yang ditujukan kepada para Bupati, yang isinya adalah : “dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya kemampuan untuk membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hokum Negara  yang ditetapkan Belanda”.

Dengan demikian jelas terlihat, meskipun Benda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua adalah demi kepentingan mereka semata. Jiwa dari surat edaran yang dibuat Van De capellen tersebut diatas adalah menggambarkan tujuan dari didirikanya Sekolah Dasar pada Zaman itu. Pendidikan agama Islam yang telah ada di pondok pesantren mesjid dan mushalla atau yang lainnya dianggap tidak membantu pemerintah Belanda. Para santri pondok masih dianggap buta huruf latin, yang secara resmi menjadi acuan pada waktu itu.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan, diantaranya :

  1. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang mereka sebut Priesterraden.[5] Dari nasihat bdan inilah maka pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agama Islam harus terlebih dulu meminta izin kepada pemerintah Belanda.
  2. Tahun 1952 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan Islam, yaitu bahwa tidak semua orang Kyai boleh memberikan pelajaran mengaji kecuali mendapat semacam rekomondasi atas persetujuan pemerintah Belanda.
  3. Kemudian pada tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya beberapa kewenangan untuk memberantas dan menutup madrasah an sekolah yang tidak ada izinya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang disebut  Ordonasies Sekolah Liar  (Wilde School Ordonantie).

Tidak hanya sampai disitu, agama Islam dipelajari secara Ilmiah dinegeri Belanda. Seiring dengan itu, disana juga diselenggarakan indologie[6], ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk-beluk penduduk Indonesia. semua itu dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia. hasil dari kajian itu, lahirlah apa yang dikenal dengan “Politik  Islam”. Tokoh utama dan peletak dasarnya adalah Prof. Snouck Hurgronje. Dia berada di Indonesia antara tahun 1889 dan 1906. Berkat pengalamannya di Timur tengah, sarjana sastra semit ini berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia, yang menjadi pelopor pedoman bagi pemerintah Hindia-Belanda, terutama  Adviseur voor Inlandsche zaken,  Lembaga penasihat gubernur jenderal tentang segala sestuatu mengenai pribumi.[7]

Berdasarkan analisisnya, Islam dapat dibedakan menjadi dua bagian, yang satu Islam religius dan yang lain Islam Politik. Terhadap masalah agama, pemerintah belanda disarankan bersikap toleran yang dijabarkan didalam sikap  netral terhadap kehidupan keagamaan. Tolerenasi terhadapnya merupakan suatu yang mutlak demi ketenangan dan stabilitas. Akan tetapi Islam politik harus selalu dicurigai dan diteliti dari mana datangnya. Dan ternyata apa yang disaranka oleh Snouck Hurgrinje tersebut akhirnya justru menjadi kebijaksanaan pemerintah Hindia – Belanda terhadap Islam Indonesia. adapun intisari dan saran-saran Snouck Hurgronje  tersebut adalah :

  1. Menyarankan kepada pemerintha Hindia-belanda agar Netral terhadap agama yakni tidak ikut campur tangan dan tidak memihak kepada salah satu agama yang ada (tapi tampaknya hal ini bersifat teori belaka). menurut snouck,  fanatisme Islam itu akan luntur sedikit demi sedikit melalui proses pendidikan secara evolusi.
  2. Permerintah Belanda diharapkan dapat membendung masuknya Pan Islamisme yang sedang berkembang di Timur tengah, dengan jalan menghalangi masuknya buku-buku atau brosur dari luar ke wilayah Indonesia. mengawasi kontak langsung dan tidak langsung tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan tokoh luar, serta membatasi dan mengawasi orang-orang yang pergi ke Mekkah, dan bahkan kalau memungkinkan melarangnya sama sekali. Karena dikhawatirkan pengalaman yang didapatkanya dari luar akan dibawa pulang ke Indonesia dan mempengaruhi kelanggengan kekuasaan colonial. [8]

Demikian beberapa kebijaksanaan poemerintah colonial Belanda terhadap umat Islam di Indonesia. apapun politik terhadap Islam yang akan dilancarkan oleh kekuasaan non-Islam, hasilnya senatiasa berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan tersebut. Tekanan demi tekanan sama sekali tidak menggoyahkan mereka.

 

II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi(perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC.

Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Hal ini juga dikuatkan dari profil para guru di masa ini yang umumnya juga merangkap sebagai guru agama (Kristen). Dan sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan memiliki lisensi (surat izin) yang diterbitkan oleh VOC setelah sebelumnya mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi.[9]

Kondisi pendidikan di zaman VOC juga tidak melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya. Beberapa lembaga pendidikan yang adapa pada masa jaman penajajahn belanda adalah :

  1. MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua tahun.
  2. AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
  3. HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa Barat, khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun. Didirikan pada tahun 1860
  4. Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881
  5. Sekolah pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu
  6. Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
  7. Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
  8. Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda.
  9. dll

II.4 Kurikulum Pendidikan

Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut: [10]

  1. Pendidikan Dasar

1.Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara,berdiri tahun 1630); Dll.

  1. Sekolah Latin

2.Diawali dengan sistem numpang-tinggal In de kost di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.

  1. Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)

3.Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.

  1. Sekolah Cina

4.1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.

  1. Pendidikan Islam

5.Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.

Pada tahun 1893 timbullah differensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan:[11]

  1. Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu padat.
  2. Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang harus mendapat pengjaran itu bukan hanya lapisan atas saja.
  3. Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa bawah.

Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:

  1. Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
  2. Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:

Kelas I[12]

Tujuan: memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan  perusahaan.

Lama bersekolah: 5 tahun

Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.

Guru-guru: keluaran Kweekschool

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Kelas II

Tujuan: Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum

Lama bersekolah: 3 tahun

Mata paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.

Guru-guru: persyaratannya longgar

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah  lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

BAB III

KESIMPULAN

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar   bahasa   daerah   (IS,   VS,   VgS),   dan   sekolah   peralihan.   (2)   Pendidikan   lanjutan   yang   meliputi   pendidikan   umum   (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zuhairini, Dra,  Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2010

2. Hasbullah, Drs, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

3. M.A, Badri Yatim Dra, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008


[1] Sartono kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 , jilid 1, (Jakarta : PT Gramedia, 1987), hlm. 70.

[2] Ibid., hlm. 61.

[3] KH. Saifudin Zuhri,  Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembanganya di Indonesia, PT Al Ma’arif, Bandung, 1978, hlm. 532.

[4] S. Brojonegoro, Sejarah Pendidikan Islam, dan Diklat Kuliah Sejarah Pendidikan Islam, oleh HR Mubangid.

[5] HR. Mubangid, Diktat Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam.

[6] H. Aqib Suminto, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1985), hlm. 2 .

[7] Baca H. Aqib Sumito, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1986).

[8] E.Gobee dan C.Adriaanse,  Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda, seri khusus INIS VIII, Jakarta 1993.

[9] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 29

[11] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 36

[12] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 37

RANGKUMAN FIQIH MUAMALLAH


FIQIH MUAMALAH

 

BAB I : Jual-beli (Al-Bai’)        

  • Pengertian         : Al-bai’ menurut bahasa artinya memberikan sesuatu dengan imbalan sesuatu atau menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sedangkan menurut syara’ adalah menukarkan suatu harta benda dengan alat oembelian yang sah atau dengan harta benda yang lain dan keduanya menerima untuk dibelanjakan dengan ijab dan qabul menurut cara yang diatur oleh syara’
  • Hukum                   : Mubah
  • Rukun                    : -Penjual

-Pembeli
-Barang yang diperjualbelikan
-Alat untuk menukar dalam kegiatan jual beli (harga)
-Aqad, yaitu ijab dan qabul antara penjual dan pembeli

  • Syarat                   :a. baligh

                                 b. berakal sehat

c. tidak ada pemborosan

d. Suka sama suka

e. barang yan diperjual belikan suci, bermanfaat, jelas dan milik

sendiri

 

BAB II : AL – QORDHU

  • Pengertian          : Menyerahkan sesuatu kepada orang yg bisa memanfaatkannya,

                          kemudian meminta pengembalian sebesar uang tsb.

  • Hukum                   : sunnah bagi muqridh (pemberi pinjaman/kreditur).
  • Syarat                    : 1. Besarnya harus diketahui dgn takaran, timbangan,atau

jumlahnya.

2. Sifat dan usianya harus diketahui jika dalam bentuk hewan.

3. Pinjaman berasal dr orang yg layak dimintai pinjaman.

 

 

 

 

 

BAB III : RIBA

  • Pngertian            : Menurut Bahasa : Az ziyadah (tambahan), An numuw (berkembang), Al Irtifa’ (meningkat), Al Uluw (membesar). Menurut Ulama : Riba adalah kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan/gantinya.
  • Hukum                 : haram
  • Jenis Riba            : -Riba jual beli

Riba An Nasiah (Timbul akibat utang piutang yg tidak

memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko )

Riba Fadli (Pertukaran barang sejenis yg tidak memenuhi

kriteria sama kualitasnya)

 

BAB IV : AL – RAHN

  • Pengertian          : Menjamin hutang dgn barang dimana hutang dimungkinkan bisa dibayar

                          dengannya, atau dari hasil penjualannya.

  • Hukum                 : Boleh
  • Rukun gadai        :
  1. Orang yang menggadaikan atau yang menyerahkan jaminan.
  2. Orang yang memberi hutang atau yang menerima jaminan. Kedua orang ini disyaratkan orang yang berhak membelanjakan hartanya.
  3. Barang yang menjadi jaminan disyaratkan tidak rusak sebelum sampai kepada pembayaran hutang.
  4. Hutang atau sesuatu yang menjadikan adanya gadai.
    1. Aqad (ijab dan qabul).
  • Syarat                  :-kedua belah pihak harus berakal dan mumaiyid

 -Marhin bih hendaklah barang yang wajib diserahkan.

-Marhun bih memungkinkan dapat dibayarkan.

– Hak atas marhun bih harus jelas.

– dll

BAB V : AL –ARIYYAH

  • Pengertian            : Al-‘ariyah menurut bahasa artinya sama dengan pinjaman, sedangkan menurut istilah syara’ aialah aqad berupa pemberian manfaat suatu benda halal dari seseorang kepada orang lain tanpa ada imbalan dengan tidak mengurangi atau merusak benda itu dan dikembalikannya setelah diambil manfaatnya.
  • Hukum                 : Sunnah
  • Rukun                  :
  1. 1.      Orang yang meminjamkan syaratnya :
    1. Berhak berbuat kebaikan tanpa ada yang menghalangi. Orang yang dipaksa atau anak kecil tidak sah meminjamkan.
    2. Barang yang dipinjamkan itu milik sendiri atau menjadi tanggung jawab orang yang meminjamkan.
  1. Orang yang meminjam syaratnya :
    1. Berhak menerima kebaikan. Oleh sebab itu orang gila atau anak kecil tidak sah meminjam karena keduanya tidak berhak menerima kebaikan.
    2. Hanya mengambil manfaat dari barang yang dipinjam.
  2. Barang yang dipinjam syaratnya :
    1. Ada manfaatnya.
    2. Barang itu kekal (tidak habis setelah diambil manfaatnya). Oleh sebab itu makanan yang setelah diambil manfaatnya menjadi habis atau berkurang zatnya tidak sah dipinjamkan.
  3. Aqad, yaitu ijab qabul.
  • Syarat                          :

a)              Mu’ir berakal sehat, dengan demikian, orang gila dan anak kecil yang tidak berakal tidak akan dapat meminjamkan barang.

b)             Pemegang barang oleh peminjam ariyah adalah transaksi dalam berbuat kebaikan, yang dianggap sah memegang barang adalah peminjam, seperti halnya dalam hibah.

c)              Barang (musta’ar) dapat dimamfaatkan tampa merusak zatnya, jika must’ar tidak dapat dimamfaatkan, akad tidak syah .

 

BAB VI : AL IJARAAH

  • Pengertian            : Kata “al-ijaarah” menurut bahasa artinya upah atau sewa, sedangkan menurut istilah syara’ ialah memberkan sesuatu benda kepada orang lain untuk diambil manfaatnya dengan ketentuan orang yang menerima benda itu memberikan imbalan sebagai bayaran penggunaan manfaat barang yang dipergunakan.
  • Hukum                 : mubah (boleh)
  • Rukun Sewa-menyewa
    1. Orang yang menyewa.
    2. Orang yang menyewakan.
    3. Benda yang disewakan.
    4. Upah (bayaran) sewa-menyewa.
    5. Aqad.
  • Syarat Sewa-menyewa
  1. Orang yang menyewa dan yang menyewakan disyaratkan :
    1. Baligh (dewasa)
    2. Berakal (orang gila tidak sah melakukan sewa-menyewa)
    3. Dengan kehendak sendiri (tidak dipaksa)
  2. Benda yang disewakan disyaratkan :
    1. Benda itu dapat diambil manfaatnya
    2. Benda itu diketahui jenisnya, kadarnya, sifatnya, dam jangka waktu disewanya
  3. Sewa (upah) harus diketahui secara jelas kadarnya.

BAB VII : AL QI-RADH

  • Pengertian            : al-qiradh” ialah menyerahkan harta milik, baik berupa uang, emas atau bentuk lain kepada seseorang sebagai modal usaha kerja dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dan keuntungan tersebut dibagi dua menurut perjanjian ketika aqad.
  • Hokum                 : Qiradh hukumnya mubah atau
  • Rukun Qiradh     :
  1. Modal berupa uang tunai atau emas atau benda erharga lainnya yang dapat diketahui jumlah dan nilainya.
  2. Pemilik modal dan yang menjalankan modal hendaknya orang yang sudah baligh, berakal sehat dan merdeka.
  3. Lapangan kerja, yaitu pekerjaan berdagang yang tidak dibatasi waktu, tempat usaha ataupun barang-barang yang diperdagangkan.
  4. Keuntungan ditentukan terlebih dahulu pada waktu mengadakan perjanjian.
  5. Ijab/qabul (aqad qiradh).

 

 BAB VIII : AS-SYIRKHAH

  • Pengertian            : Musyarakah kepemilikan (misal, krn waris)
  • Hokum                 : boleh
  • Rukun                  : –para pihak yang bersyirkhah

  –porsi kerja sama

 –Proyek usaha

 –ijab-qobul

 –nisbah

  • Syarat                   : 1. Merupakan transaksi yang bias diwakilkan

  2. persentase pembagian hasil jelas

3. keuntungan diambil dari hjasil laba

 

BAB IX : AL –LUQHATAH

  • Pengertian            : Al-luqathah” menurut bahasa artinya barang temuan, sedangkan

menurut istilah syara’ ialah barang yang ditemukan di suatu tempat dan tidak diketahui siapa pemiliknya.

  • Hukum luqathah :
  1. Wajib (mengambil barang itu), apabila menurut keyakinan yang menemukan barang itu, jika tidak diambil akan sia-sia.
  2. Sunnah, apabila yang menemukan barang itu sanggup memeliharanya, dan sanggup mengumumkan kepada masyarakat selama satu tahun.
  3. Makruh apabila yang menemukan barang itu tidak percaya pada dirinya untuk melaksanakan amanah barang temuan itu dan khawatir ia akan khianat terhadap barang itu.

BAB X : AL-WAKALAH

  • Pengertian          : wakalah adalah suatu ungkapan yang mengandung suatu pendelegasian sesuatu oleh seseorang kepada orang lain supaya orang lain itu melaksanakan apa yang boleh dikuasakan atas nama pemberi kuasa.
  • Hokum                : boleh
  • Syarat & rukun :

 Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil)

i.      Seseoarang yang mewakilkan, pemberi kuasa, disyaratkan memiliki hak untuk bertasharruf pada bidang-bidang yang didelegasikannya.

ii.      Pemberi kuasa mempunyai hak atas sesuatu yang dikuasakannya, disisi lain juga dituntut supaya pemberi kuasa itu sudah cakap bertindak atau mukallaf. Tidak boleh seorang pemberi kuasa itu masih belum dewasa yang cukup akal serta pula tidak boleh seorang yang gila.

Orang yang diwakilkan. (Al-Wakil)

i.            Penerima kuasa pun perlu memiliki kecakapan akan suatu aturan-aturan yang mengatur proses akad wakalah ini.

ii.            Seseorang yang menerima kuasa ini, perlu memiliki kemampuan untuk menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. ini berarti bahwa ia tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas, kecuali atas kesengajaanya,

Obyek yang diwakilkan.

i.      Obyek mestilah sesuatu yang bisa diwakilkan kepada orang lain

ii.      Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah badaniyah, seperti shalat, dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah maliyah seperti membayar zakat, sedekah, dan sejenisnya. Selain itu hal-hal yang diwakilkan itu tidak ada campur tangan pihak yang diwakilkan.

iii.                Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Sehingga obyek yang akan diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.

Shighat

i.                    Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. Dari mulai aturan memulai akad wakalah ini, proses akad, serta aturan yang mengatur berakhirnya akad wakalah ini.

ii.                  Isi dari perjanjian ini berupa pendelegasian dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa

iii.                Tugas penerima kuasa oleh pemberi kuasa perlu dijelaskan untuk dan atas pemberi kuasa melakukan sesuatu tindakan tertentu.

 

BAB IX : MUZARA’AH

  • Pengertian            : Muzara’ah ialah suatu aqad yang terjadi antara pemilik tanah dan pengelola tanah untuk digarap dengan ketentuan bahwa benih yang akan ditanam adalah dari pemilik tanah tersebut.
  • Hokum                 : boleh
  • Rukun                  : -pemilik tanah

  -penggarap tanah

 -objek tanah

-ijab-qobul

  • Syarat                   : -berakal, baligh, tanah yang digarap jelas dll

 

 

 

 

 

 

DILEMA MENIKAH


Malam sedingin ini aku masih duduk di kursi kayu tua depan rumah. ku tatap alang-alang menghampar luas yang tumbuh hijau diatas genangan sawah tak berpadi. Ini adalah malam kedua aku termenung. Banyak kegelisahan dan ketakutan yang membayangiku dalam seminggu ini. 

 

“kamu gak tidur? Lagi mikirin apa?” Tanya wati temanku,

“belum… tidurlah dulu sudah malam, nanti anakmu mencari”, jawabku lirih sedikit malas.

Tak tersadar olehnya apa yang kupikirkan sepekan terakhir ini adalah dia. Ya.. dia “Wati”.

 

Wati adalah teman semasa aku masih duduk di bangku sekolah kejuruan Negeri (SMKN), kita satu angkatan, namun tak sejurusan. Awal kedekatan kami dari ekstra beladiri disekolah. Kami begitu dekat dan terbuka satu sama lain. Singkatnya, wati memutuskan untuk menikah setamat sekolah, suami wati tak lain adalah pelatih beladiri kami. Alhamdulillah kini Allah telah  memberi mereka seorang putra.

 

Masih teringat olehku seminggu yang lalu ketika wati merengek, menangis meminta untuk tinggal dirumah kecilku dengan buah hatinya. Akupun bisa apa, hanya terucap kata “IYA” begitu saja. satu alasan yang tak begitu tepat menurutku untuk wati meninggalkan rumah hanya karena adu mulut dengan suaminya. Inilah awal dilema yang melandaku kini.

 

“AKU INGIN CERAI”, kalimat yang selalu terucap dari mulut wati diiringi ratapan tangis setiap ia cerita tentang suaminya yang menurutnya tak cinta lagi denganya.

“Ia sering main tangan” tambahnya.

Akankah nantinya hal semacam ini terjadi padaku?

 

Dulu, sejak usiaku diawal 20th aku selalu berimajinasi tinggi. terbayangkan indah dan ramainya pesta pernikahan yang kelak ku bangun bagai putri yang duduk diatas kursi singgasana megah bersama pangeran yang AlLah kirimkan kelak. Namun, semua impian indah itu hilang, bahkan ingin kumusnahkan. Akupun tak tahu kenapa, sempat takut kadang gelisah. Orang bilang wanita seumuranku sudah waktunya membina rumah tangga, ini juga sejalan dengan wujud impianku tuk jadi putri semalam yang selalu kubayangkan. Tapi, hal ini sangat kontra ketika banyak realita yang mengancam biduk rumah tangga yang dibangun berlandaskan cinta diawalnya.

 

ADU MULUT/ARGUMENTASI, CARA PIKIR YANG TAK SEJALAN,  mungkin selalu ada setiap mereka yang berkeluarga, namun jika tak satupun mengalah KEKERASAN berjalan. Bukankan jelas dalam Al-Quran tertulis jika cinta itu pupus, masih ada amanah yang harus terpelihara selama setiap pasangan beragama:

 

“Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak” (QS Al-Nisa’ [4]: l9).

 

Akankah semua akhwat muda sama denganku terlintas takut dan gelisah tuk melangkah kesana??? Mungkin .. mungkin iya.

 

Astaghfirullah… semoga ini salah satu asumsiku yang salah, aku sadar Perkawinan menurut Hukum Islam adalah perikatan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholidan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya adalah ibadah.

 

Semoga dilema ini tidak berkepanjangan untukku dan untuk akhwat yang lain. Hal ini tak patut kupikirkan lagi, ini hanya mematahkan niat salah satu ibadahku hingga mungkin aku dan akhwat lainnya enggan membuka hati untuk ikhwan berbagi kasih dijalan ALllah, aku pantas menjadi putri semalam di singgasana Impian. akupun beranjak dari duduk ku dan berdiri dengan senyum semangat tegasku berkata “Bismillah, semoga tak terjadi padaka Ya Robbi”. ku ayunkan langkah persiapan mimpi indah malam ini. amien.. allahuma amien

 

 

BY :

Sri Hartatik

“Aku membencimu Ibu…” (part I)


Bunda….

Salahkah aku  ketika  tak mengenalmu?

Bunda….

Salahkah aku jika ku tak inginkanmu?

Bunda….

Dosakah aku jika aku membencimu?

Bunda…..

Marahkah Tuhan  jika ku tak ingin dilahirkan olehmu?

 

Begitulah  tulisan tangan Asih diatas kertas coklat kusam tak bergaris yang menempel di dinding. sudah 4 hari  remaja putri yang baru duduk di kelas 2 SMA ini terdiam tanpa kata, hanya tangis dan penyesalan yang terukir di paras cantiknya. Kusam, lesu nampak lunglai. Sesekali ia berkata “kenapa? Kenapa harus aku?” ia pun terdiam kembali.

*************************************************************************************************************************************

“mbok yo makan toh nduk… ibu tahu perasaanmu, jangan bikin ibu khawatir melihat kondisimu seperti ini nduk…” tutur ibu asih pada anak yang ia besarkan sejak bayi itu.

“kenapa harus aku toh bu? Kenapa? Sudah, ibu jangan urusin asih, biar asih mati saja, asih gak sudi punya ibu seperti dia bu”, jawab asih dengan  isakan tangis duduk bersandar sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kearah pahanya.

“sudah nduk… sudah.. sudah, ibu ikhlas merawatmu sejak kecil, tapi bu ratmi juga ibu kandungmu. Kamu gak boleh seperti itu nduk” teriak ibu  asih disertai tangis sambil memegang wajah asih dan mengusap mata asih yang lebam karena tangisan.

Asih memang tampak letih dan lemah karena setetes air dan sebutir nasipun tak masuk keperutnya. Layaknya gadis remaja yang depresi berat, rambut lurusnya yang hitam dan lebat menjadi kaku dan penuh debu. wajahnya yang putih nan ayu, Nampak kusam tak terawat. Semua ini lantaran asih tak kuasa menahan kecewa setelah ia tahu bahwa ibu Ida yang membesarkannya selama ini bukanlah ibu kandungnya.

Ibu Ida pun sadar bahwa kesedihan dan keperpurukan anaknya itu sangat beralasan. semua Keterpurukan dan kesedihan asih itu bermula ketika seorang ibu datang kerumah Asih, dan semua ini menyangkut asal-usul masa kecil putrinya.

*************************************************************************************************************************************

Suatu ketika ibu Ida yang sedang asyik memasak untuk putri kesayangannya, tiba-tiba terdengar olehnya suara ketukan pintu. dengan rasa penasaran ibu Ida bergegas membukakan pintu rumahnya. terlihat oleh Ibu Ida  seorang tamu wanita paruh baya. Wajah itu tak asing memang  namun Ibu Ida tak percaya dan berkali-kali mengerutkan kening dan mngecilkan mata untuk memastikan kembali apakah wanita paruh baya berdandan nyentrik yang berdiri didepannya itu dikenalnhya.

“Assalamualaikum dek Ida, ini aku ratmi… masih ingat sampean sama aku?” sapa wanita itu pada ibu asuh Asih.

“wlkmsalam.. owalah… sampean toh mbk yu… ayo monggo masuk” jawab ibu asih singkat. Masuklah keduanya, bertanya besar dalam hati bu Ida, apa yang hendak dilakukan ibu ratmi. bingung dan cemas melanda ibu Ida menerima kehadiran ibu ratmi kerumahnya, karena ibu Ida tahu siapa ibu ratmi sebenarnya. hal ini membuatnya teringat kejadian 15 tahun yang lalu.

***** bu ratmi adalah ibu kandung asih yang tak pernah terlihat sejak 15 tahun silam. Bu ratmi menghilang begitu saja setelah ia melahirkan dan mencoba membuang asih di sungai beraliran deras di belakang rumah, hal ini dilakukan karena ibu ratmi malu menerima kehadiran bayi yang dilahirkannya akibat hubungan seksual yang yang kerap kali ia lakoni sebagai pekerjaanya (PSK). Melihat hal yang tidak seharusnya dilakukan ibu ratmi itu, ibu Ida pun bergegas mencegahnya, dan meminta agar Ia merawat dan membesarkan bayi yang hendak dibuang bu ratmi. Kejadian inilah yang tidak pernah  diketahui oleh asih , hingga kini ia hanya tahu ibu yang melahikran dan membesarkanya adalah ibu Ida.*****

Obrolan-obrolan singkat menjadi perbincangan awal dari pertemuan mereka, tak luput pertanyaan yang ditakutkan bu Ida pun muncul juga. “bagaimana kabar bayi yang dulu ku lahirkan dek Ida? Apa ia baik-baik saja? aku menyesal  telah mengabaikanya, di hari-hari ku yang semakin tua, aku butuh seseorang yang peduli padaku” keluhnya sambil memegang tangan bu Ida.  “Alhamdulillah baik mbakyu, kini ia sudah menjadi remaja putri yang manis, seharusnya mbak yu menyesal sejak dulu, penyesalan mbak yu tidak berarti karena belum tentu anak mbakyu bisa menerima mbak yu nantinya”.  Perbincangan keduanya pun terus berlanjut hingga bu Ida tak sadar waktu sudah menunjukkan jam kepulangan asih dari sekolah.

***********************************************************************************************************************************

Tepat pkl. 13.20 asih pun melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Semangat asih bergejolak lantaran ibunya berjanji memasak makanan kesukaanya. Tinggal beberapa langkah lagi asih sampai dirumahnya, tapi sejenak ia terhenti seketika ia mendengar percakapan yang sering menyebut-nyebut namanya. Didekatnya lagi ke arah pintu rumahnya yang tertutup, Ia pun dibuat penasaran akan hal ini, hingga terdengar olehnya “saya ingin asih anak saya kembali pada saya dek, saya menyesal telah membuangnya dulu”. Seketika itu pula ia langsung tersentak, dan tak kuasa menahan dirinya untuk masuk kedalam dan memastikan siapa yang berkata demikian  itu. (bersambung…)

by : Sri Hartatik