“Aku membencimu Ibu…” (part I)


Bunda….

Salahkah aku  ketika  tak mengenalmu?

Bunda….

Salahkah aku jika ku tak inginkanmu?

Bunda….

Dosakah aku jika aku membencimu?

Bunda…..

Marahkah Tuhan  jika ku tak ingin dilahirkan olehmu?

 

Begitulah  tulisan tangan Asih diatas kertas coklat kusam tak bergaris yang menempel di dinding. sudah 4 hari  remaja putri yang baru duduk di kelas 2 SMA ini terdiam tanpa kata, hanya tangis dan penyesalan yang terukir di paras cantiknya. Kusam, lesu nampak lunglai. Sesekali ia berkata “kenapa? Kenapa harus aku?” ia pun terdiam kembali.

*************************************************************************************************************************************

“mbok yo makan toh nduk… ibu tahu perasaanmu, jangan bikin ibu khawatir melihat kondisimu seperti ini nduk…” tutur ibu asih pada anak yang ia besarkan sejak bayi itu.

“kenapa harus aku toh bu? Kenapa? Sudah, ibu jangan urusin asih, biar asih mati saja, asih gak sudi punya ibu seperti dia bu”, jawab asih dengan  isakan tangis duduk bersandar sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kearah pahanya.

“sudah nduk… sudah.. sudah, ibu ikhlas merawatmu sejak kecil, tapi bu ratmi juga ibu kandungmu. Kamu gak boleh seperti itu nduk” teriak ibu  asih disertai tangis sambil memegang wajah asih dan mengusap mata asih yang lebam karena tangisan.

Asih memang tampak letih dan lemah karena setetes air dan sebutir nasipun tak masuk keperutnya. Layaknya gadis remaja yang depresi berat, rambut lurusnya yang hitam dan lebat menjadi kaku dan penuh debu. wajahnya yang putih nan ayu, Nampak kusam tak terawat. Semua ini lantaran asih tak kuasa menahan kecewa setelah ia tahu bahwa ibu Ida yang membesarkannya selama ini bukanlah ibu kandungnya.

Ibu Ida pun sadar bahwa kesedihan dan keperpurukan anaknya itu sangat beralasan. semua Keterpurukan dan kesedihan asih itu bermula ketika seorang ibu datang kerumah Asih, dan semua ini menyangkut asal-usul masa kecil putrinya.

*************************************************************************************************************************************

Suatu ketika ibu Ida yang sedang asyik memasak untuk putri kesayangannya, tiba-tiba terdengar olehnya suara ketukan pintu. dengan rasa penasaran ibu Ida bergegas membukakan pintu rumahnya. terlihat oleh Ibu Ida  seorang tamu wanita paruh baya. Wajah itu tak asing memang  namun Ibu Ida tak percaya dan berkali-kali mengerutkan kening dan mngecilkan mata untuk memastikan kembali apakah wanita paruh baya berdandan nyentrik yang berdiri didepannya itu dikenalnhya.

“Assalamualaikum dek Ida, ini aku ratmi… masih ingat sampean sama aku?” sapa wanita itu pada ibu asuh Asih.

“wlkmsalam.. owalah… sampean toh mbk yu… ayo monggo masuk” jawab ibu asih singkat. Masuklah keduanya, bertanya besar dalam hati bu Ida, apa yang hendak dilakukan ibu ratmi. bingung dan cemas melanda ibu Ida menerima kehadiran ibu ratmi kerumahnya, karena ibu Ida tahu siapa ibu ratmi sebenarnya. hal ini membuatnya teringat kejadian 15 tahun yang lalu.

***** bu ratmi adalah ibu kandung asih yang tak pernah terlihat sejak 15 tahun silam. Bu ratmi menghilang begitu saja setelah ia melahirkan dan mencoba membuang asih di sungai beraliran deras di belakang rumah, hal ini dilakukan karena ibu ratmi malu menerima kehadiran bayi yang dilahirkannya akibat hubungan seksual yang yang kerap kali ia lakoni sebagai pekerjaanya (PSK). Melihat hal yang tidak seharusnya dilakukan ibu ratmi itu, ibu Ida pun bergegas mencegahnya, dan meminta agar Ia merawat dan membesarkan bayi yang hendak dibuang bu ratmi. Kejadian inilah yang tidak pernah  diketahui oleh asih , hingga kini ia hanya tahu ibu yang melahikran dan membesarkanya adalah ibu Ida.*****

Obrolan-obrolan singkat menjadi perbincangan awal dari pertemuan mereka, tak luput pertanyaan yang ditakutkan bu Ida pun muncul juga. “bagaimana kabar bayi yang dulu ku lahirkan dek Ida? Apa ia baik-baik saja? aku menyesal  telah mengabaikanya, di hari-hari ku yang semakin tua, aku butuh seseorang yang peduli padaku” keluhnya sambil memegang tangan bu Ida.  “Alhamdulillah baik mbakyu, kini ia sudah menjadi remaja putri yang manis, seharusnya mbak yu menyesal sejak dulu, penyesalan mbak yu tidak berarti karena belum tentu anak mbakyu bisa menerima mbak yu nantinya”.  Perbincangan keduanya pun terus berlanjut hingga bu Ida tak sadar waktu sudah menunjukkan jam kepulangan asih dari sekolah.

***********************************************************************************************************************************

Tepat pkl. 13.20 asih pun melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Semangat asih bergejolak lantaran ibunya berjanji memasak makanan kesukaanya. Tinggal beberapa langkah lagi asih sampai dirumahnya, tapi sejenak ia terhenti seketika ia mendengar percakapan yang sering menyebut-nyebut namanya. Didekatnya lagi ke arah pintu rumahnya yang tertutup, Ia pun dibuat penasaran akan hal ini, hingga terdengar olehnya “saya ingin asih anak saya kembali pada saya dek, saya menyesal telah membuangnya dulu”. Seketika itu pula ia langsung tersentak, dan tak kuasa menahan dirinya untuk masuk kedalam dan memastikan siapa yang berkata demikian  itu. (bersambung…)

by : Sri Hartatik

6 thoughts on ““Aku membencimu Ibu…” (part I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s