Penantian Ibu…


Cemas
Dak…dik…duk
Jantung berdebar keras

Takut
Resah
Gelisah

“Kemana sich, sudah jam segini!”
Gumam berkali-kali
Tetap Menanti
Berharap cepat kembali

Yang ditunggu T’lah tiba
Pelukan
Sedikit kesal
Namun terasa lega
“Dari masa saja???”

Hanya teguran
Bukan main tangan
karena Cinta dan kasihnya
Tulus
Selalu ada
Tak pernah marah…

“CURAHAN HATI”….


Sudah berualang kali aku dengar permintaan itu, namun hingga saat ini belum bisa aku patuhi. Entah bagaimana aku menjawabnya kembali jika pertanyaan yang menyiratkan permintaan serta desakan itu terlontar lagi.

Ya….  perbincangan kecil yang sering kami bicarakan. bapak dan mamak tercinta yang tiada hentinya menyelipkan pertanyaan “Kapan nduk??” dalam setiap perbincangan, walau itu dengan nada canda atau harapan untuk menjadi nyata.

Arti kapan bukan karena aku hendak pergi kemana-mana…

arti Kapan bukan karena menanyakan tahun keberapa aku lulus kuliah…

arti kapan juga bukan pula menayakan aku jadi Sarjana “!?!!”..

tapi “Kapan?” bermakna kapan mereka akan melihatku menikah.

aku hanya bisa tersipu jika mereka bertanya demikian, dan dengan jawaban rutin “Do’akan saja mak.. pak”.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti ini tak hanya dtanyakan padaku, tapi juga akhwat yang sudah remaja menginjak dewasa. contohnya saja temanku, baru-baru ini ia cerita ayah dan ibunya menginginkannya cepat menikah.

Aku dan temanku paham masalah ini, kami tahu mereka cemas. kegelisahan sudah mulai tumbuh di kala kami menginjak diatas umur 20th, mungkin semua ini dilatarbelakangi juga karena pernikahan mereka dulu yang terlalu muda.

Sering kami berpikir bahwa umur kami masih cukup muda untuk memikirkan hal ini, tapi masalah ini juga wajib kami pikirkan dan kami rembuk bersama untuk menghilangkan sedikit rasa kekhawatiran orangtua dan masa depan sendiri karena dalam hati kecil inipun berharap demikian.

Mak…

Pak…

Percayakan pada kami untuk masa depan ini..

Kami akan berikan yang terbaik untuk sendiri, Mak dan bapak..

Bukan karena kami ingin menyegerakan harapan mak dan bapak kami jadi salah pilih dan merugi..

Kami berharap Do’a bapak dan Mamak akan selalu mengiringi setiap keputusan kami…

by ; SRI HARTATIK