“Mas Ibnu, Aku Mencintaimu….”


Rasa itu kembali muncul ketika aku melihatnya….

Aku tak tahu apakah ini memang hati nurani ataukah hanya buaian semata….

Begitu hangat dan penuh perhatian…

Semua tentangnya sangat menarik untukku simak baik yang dibuat oleh teman atau orang terdekat nya sekalipun…

Kisah Indah yang tak terlupakan…

Adapun kisah kelam  yang harus aku kubur dalam-dalam..

 

Rasa sakit yang tak kunjung usai, perih dan kadang tak terarah. Ketika ku mengingat Johannes. Johannes adalah nama kekasihku yang biasa ku panggil John. Sejak dua tahun lalu ia menjanjikan impian kebahagian bagiku. Seringkali ia menampakkan kemesraan dan kasih sayang walau kadang agak berlebihan. Akupun tak tahu dan sering mengungkap beribu tanya, apakah kemesraan yang ia tunjukkan selama ini  adalah simbol ketulusan atau hanya ingin mencari kepuasan atasku. Ibu sering menasihatiku tentang hal ini agar aku tidak dekat-dekat lagi dengannya, bahkan ibu menginginkan agar memutuskan hubungan yang terjalin antara kita. Aku tahu bahwa johannes berbeda denganku, ia seorang nasrani dan bahkan sejauh ini tidak ada keinginan untuknya masuk Islam. Kehidupan yang mewah sudah ia rasakan sejak kecil. Pergaulan bebas, gemerlap malam dan teman-temannya yang modis kadang membuatku minder. Sebetulnya tidak banyak rasaku padanya yang ku tahu hanya ia baik padaku dan selalu memberi apa yang ku mau, tapi aku juga tidak memungkiri bahwa ada sedikit hatiku untuknya.

Beberapa minggu ini banyak anggapan buruk tentang johannes. Banyak yang mengatakan John bukanlah orang baik, John adalah orang yang tidak lebih dari seorang brandal. Walaupun johannes sudah berada pada keluarga yang terbilang sangat lebih dari cukup dan berpendidikan tinggi namun ia sering melakukan hal-hal yang tidak terdidik. Sebut saja Elen adalah sahabat terdekat dan terbaikku, Elen bercerita padaku tentang John yang hendak melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada Anis yang juga menjadi temanku dan Elen.

“Sudahlah Fa, kamu putuskan saja John mu itu, aku tidak rela kamu terus-terusan di manfaatkan olehnya”, kata Elen padaku. Elen juga sama dengan ibuku yang selalu menasihatiku untuk tidak berhubungan lagi dengan John, karena Elen sudah sering melihat John sering mabuk dan berbuat tidak senonoh pada perempuan.

Mudah bagiku untuk memutuskan dan tidak berhubungan lagi dengan John, tapi ternyata tidak semudah itu, John mengancamku untuk menghentikan biaya kuliah adikku yang sedang menuntut ilmu di sebuah Universitas ternama di Jakarta. Masa depan adikku mungkin bisa dibilang ada di tangan John, biaya pendidikan Lukman adikku begitu besar. Aku dan ibu tidak mampu membiayai kuliah Lukman, apalagi semenjak ayah pergi meninggalkan kami menghadap Tuhan YME, penghasilanku hanya cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Oleh karena inilah aku bertahan menjalin hubungan dengan John. Aku tidak mau lukman bernasib sama denganku yang hanya sebagai pekerja serabutan, mungkin dengan pendidikan Lukman yang tinggi bisa merubah kehidupan keluarga.

Minggu lalu keluarga baru menempati rumah kosong disebelah rumahku, keluarga Bp. Rozak namanya. Sebelumnya ibu telah berkenalan dan hendak mampir kerumah tetangga baru kami ini, ibupun mengharapkanku untuk bersilaturahmi ke keluarga dan berkenalan dengan mereka. Ternayata ibu ada maksud lain di balik menyuruhku untuk berkunjung kesana, Ibu bercerita padaku ada pemuda tampan taat beragama yang sebaya denganku tepatnya ia adalah putra pak Rozak, Ibnu namanya.

 “Ibnu itu baik loh nduk, ibu sudah kenalan dengannya dan keluarganya, orangnya pintar masih kuliah, alim dan sopan. Gak seperti pacarmu itu, gak tahu tata krama dan brandalan”, tandas ibuku.

Ya.. tapi ya apa mas Ibnu mau sama Ifa bu, sedang ifa hanya lulusan SMP apalagi soal agama, sholat aja Ifa masih bolong-bolong”, jawabku.

Setiap hari aku hanya melihat Ibnu ketika ia hendak berangkat kuliah dan menyapa seperlunya, menurutku Ibnu adalah pemuda pemalu yang selalu menundukkan kepala dan melempar senyuman ketika ku sapa. Aku juga menaruhn kagum pada Ibnu yang rajin ibadah dan santun pada orang disekelilingnya terutama pada keluargaku.

Suatu hari ketika aku dan John hendak berjalan-jalan pergi ke bioskop, John memaksaku untuk memakai baju yang ia belikan. Baju yang minim, seksi dan sangat terbuka membuatku tidak ingin memakainya tapi John bersih keras untukku memakai baju itu, dengan terpaksa akupun memakainya. Suasana dirumah sangat sepi, waktu John kerumah untuk menjemputku Ibu sedang pergi. Aku juga tak tahu ibu pergi kemana, hanya ada aku dan John. Baju yang John belikan pun sudah kupakai, ketika aku berjalan kearahanya, ada tatapan yang tidak biasa dari John, ia melihatku dari ujung kaki hingga kepala, terasa aneh dan membuatku takut. John tiba-tiba mendekap dan berbuat tidak lazim padaku, aku takut, akupun tak kuasa mengahadapi John yang berbadan dempal yang mendekapku begitu erat.

“Apa yang hendak kau lakukan John”, tanyaku. “Tenang sayang, nikmati saja pasti kamu ketagihan”,  jawab john sambil mencumbuku. Dekapan itu semakin erat membuatku sesak nafas, aku takut John akan berbuat macam-macam padaku dalam benakku aku tidak mau kesucianku direnggut oleh orang yang tidak sepenuhnya aku cintai. Akupun berteriak, dan mencoba lepas dari dekapannya, John malah menamparku dan menyuruhku untuk diam tapi aku terus berteriak sekuat tenaga dan berharapa ada yang menolongku. Tiba-tiba aku dan John tersentak melihat Ibnu mendobrak pintu rumah dan menarik tangan John sambil menghantamkan tonjokkan ke muka John.

Eh… mau berbuat apa kamu?..  laki- laki bajingan”, teriak Ibnu dengan nada marah.

“hey.. siapa Loe berani-berninya masuk rumah orang tanpa permisi, ini rumah cewek gue, urusan gue mau ngapa-ngapain?, jawab John pada Ibnu.

Akupun terus meminta pertolongan pada Ibnu “Tolong aku mas Ibnu, dia mau perkosa aku..”, mintaku lirih sambil menangis. Tanpa berfikir panjang Ibnu langsung menghantamkan tonjokkan keduanya, dan mengusir John dari rumah. John mencoba melawan, namun karena sudah merasa kesakitan John pun pulang dengan gumaman. Tak sadar olehku, karena kejadian yang membuatku ketakutan ini, akupun memeluk Ibnu dengan erat sambil mengucap terimakasih atas pertolonganya, Ibnu mencoba melepaskan pelukanku dan menyuruhku berisitirahat.

Semenjak kejadian memalukan itu, aku selalu dibayang-bayangi oleh wajah Ibnu, wajahnya yang selalu bersinar dengan senyuman yang hangat bahkan ketika aku memeluknya aku merasa begitu nyaman dan aman. Sebaliknya dengan perasaanku ke John seakan-akan menyimpan kebencian padanya.

Kegiatan Ibnu  selain kuliah, dia juga sebagai pengajar anak-anak untuk mengaji di kampung kami. Hari ini aku memberanikan diri untuk mengikuti pengajian yang Ibnu berikan pada anak-anak, selain ada niatku untuk membenahi Ibadah aku juga ingin melihat senyum Ibnu yang selalu membayangiku di setiap ku waktu. Awalnya Ibnu kaget dengan kedatanganku, tapi ketika aku memberikan alasan untuk belajar mengaji Ibnu sangat senang. Ketika Ibnu mengajariku mengaji, John datang menemuiku. Ia meminta maaf padaku, Ibnu hanya memantau percakapan kami agar John tidak berbuat macam-macam lagi. Dengan penuh pertimbangan aku memtuskan untuk putus dengan John dan tidak mau menemuinya lagi. Dengan rasa kesal John mengancamku lagi untuk memberhentikan biaya kuliah lukman, tapi karena aku sudah lelah dan capek dengan sikap John ditambah kejadian yang kemarin John lakukan padaku dengan tegas aku tidak takut dengan ancaman John. Aku mempersilahkan John untuk menghentikan biaya kuliah Lukman dan aku sendiri yang akan menanggungnya. “OK, kalau itu yang Loe mau.. jangan kamu harap aku mau membantu beban hidupmu lagi, dasar cewek munak”, kata John padaku. Ibnu hanya melihat saja tentang ancaman John padaku. Akupun bergeas pulang sambil menangis tanpa pamit pada Ibnu karena aku sangat merasa malu.

Ini adalah hari ketiga semenjak aku memutuskan John, aku juga tidak mau menampakkan diri sama sekali di luar rumah. Aku hanya memikirkan bagaimana aku dapat biaya Lukman yang begitu banyak disamping itu aku juga membendung rasa malu pada Ibnu.

Seperti hari – hari sebelumnya aku hanya berifikir dan merenung tanpa bertindak apapun untuk memenuhi kebutuhan Lukman. Hingga sampai hari ini, hari ke-10 aku berdiam diri dirumah. Sore hari keluarga Pak. Rozak bertamu kerumaku, aku tak mau menemui mereka dengan keadaan seperti ini, wajah pucat dan rambut tak tersisir. Akhirya hanya ibu yang mengajak mereka ngobrol. Sudah 30 menit berlalu, aku tak tahu apa yang mereka obrolkan selama 30 menit ini. Tiba-tiba ibu memanggilku dan menyuruhku untuk berdandan rapi, aku menurut saja, “Tak tunggu di ruang tamu ya nduk,  dandan yang rapi” pesan ibu padaku. Setelah aku merasa rapi, aku bergegas menemui ibu diruang tamu, ternyata masih ada keluarga P. Rozak mereka belum pulang. Aku duduk disebelah ibu, dengan pelan dan sopan pak Rozak mengutarahkan maksud kedatanganya padaku, sontak aku merasa kaget ketika pak rozak mengatakan padaku bahwa kedatangan keluarganya kerumah untuk melamarku. Tangisan bahagiaku tak terbendung begitu beruntungnya aku dapat memiliki Ibnu. Tapi aku masih belum percaya.

“mas Ibnu tidak main-main kan?, mas Ibnu tidak malu menjadikan aku jadi istri mas, aku hanya lulusan SMP mas, Ibadahku juga tidak begitu bagus”, kataku.

“Tidak fa, aku tidak main-main padamu, aku ingin menjadi imammu untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, aku menikahimu karena Allah Fa dan kamu juga jangan khawatir aku juga kan membiayai semua kebtuhan kuliah adikmu”, jawab Ibnu. Tanpa berfikir panjang aku menerima pinangan Ibnu, karena aku mencintainya. Tak lama Ibnu meminangku 2 bulan kemudian Ibnu menikahiku.

Sungguh aku menjadi wanita yang sangat beruntung di dunia. Sejak pernikahanku dengan Ibnu, ia selalu mengajariku semua ibadah yang belum pernah ku mengerti. Aku lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih mengenal-Nya dan aku mencoba taat pada Suamiku tercinta, Ibnu. kini aku sudah mengubah penamplanku lebih anggun dengan memakai Jilbab panjang dan jubah yang indah.

Terimakasih Allah, Engkau Maha Segalanya yang mengatur semua jalan manusia, termasuk jalanku yang selalu Engkau beri nikmat.

“Ibnu Suamiku, aku mencintaimu karenamu aku lebih mengenal Tuhanku”

10 thoughts on ““Mas Ibnu, Aku Mencintaimu….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s