WP yang bikin kangen :)


Dear all,

Hello semua, jarang sekali nich nampang di blog ๐Ÿ™‚ kangen banget sama sobat WP semua.

Ha haiii biasalah pengantin belum genap setahun masih hangat2 tahi ayam, jadi agak lupa dengan kebiasaan berbagi cerita di dumay, heheheheh.

Usut punya usut “hehehe kayak kasus apa’an”…. dulu waktu sering iseng2 nulis di WP, saya punya segudang ceritaย  menyenangkan dan tidak terlupakan dengan sahabat-sahabat yang tak pernah terlihat parasnya. Dengan sosial media salah satu WP ini, orang lain yang tak kita kenal pun bisa menjadi sahabat akrab bahkan saudara jauh, meski kita gak pernah ketemu. sharing-sharing artikel, puisi dan cerita unik membuat kita merasakan keindahan kebersamaan. wah ngomong2 soal ini, saya jadi kangen dan keingat dengan teman-teman WP yang sangat saya kagumi. yang masing-masing dari mereka mempunyai blog / WP yang sangat berkualitas untuk dibaca postingannya. ya….meski isinya kebanyakan mendayu-dayu isi cinta romantis gitu :)…..

Berikut beberapa alamat WP teman dumay yang bagi saya menarik hati, mungkin diantaranya bisa menjadi isnpirasi teman-teman pembaca agar lebih aktif untuk menulis hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain di sosial media :), sorry nie yang kesbut maaf ya….. sambil cari-cari untung dikit ahhahahha ๐Ÿ™‚

1.ย  http://adf.ly/W7KWa

2. http://adf.ly/W7L4t

3. http://adf.ly/W7Lfd

4. http://adf.ly/W7Lqp

 

“Akulah Pengganti Setan di Bulan Ramadhan”


Setan

Bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah yang mana setiap muslim yang telah memenuhi syarat (baligh, berakal, mampu berpuasa) wajib menjalankan ibadah puasa setalah terlihatnya hilal atau bulan Syaโ€™ban genap 30 hari. Dalam sabdanya Rassulullah SAW memberikan kabarย  gembira tentang hadirnya bulan suci ini, adapun isinya adalah :

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'” ย (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Bagiย  umat Islam yang selalu taat dan selalu ingin mendekatkan diri (Taqarrub) kepada Allah SWT, bulan ramadhan sangat dinanti dan dirindu kehadirannya, bahkan mereka pun berandai-andai agar supaya 12 bulan yang ada dalam masa 1 tahun keseluruhannya adalah bulan ramadhan. Semua lantaran rasa senang dalam berlomba mencari kebaikan, karena dalam setiap amal kebaikan yang dilakukan bernilai 10x lipat bahkan sampai 700x lipatnya. Oleh karena itu selama bulan ramadhan hendaknya kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan perbanyak amalan untuk selalu berdzkir, membaca Al-Qurโ€™an, beristighfar, berdoโ€™a serta bersedekah yang dilakukan penuh keikhlasan, maka kita akan mendapat berlimpah pahala. Hal ini Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

“Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”

Selain dilipat gandakan pahala pada setiap amal, bulan suci ramadhan mempunyai ciri keistimewaan khusus, diantaranya yakni :

  1. Bulan Ramdhan adalah rukun Islam ke-4 yang diwajibkan kepada seluruh umat islam untuk melaksanakan ibadah puasa ramdhan dis samping mengimaninya.
  2. Bulan Nuzulul Qurโ€™an yakni diturunkannya AL-Qurโ€™an sebagai Hudan (petunjuk) dalam setiap permasalahan serta pembeda dari yang hak dan yang bathil
  3. Bulan khusus untuk menjalankan sholat sunnah Tarawih ย yang di kerjakanย  di setiap malam bulan ramadhan dalam mengikuti sunnah rasuluallah, para sahabat dan Khulafaur rasyidin.
  4. Bulan yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yakni malam seribu bulan. Dimalam ini dibukakan pintu-pintu kemuliaan dan di ampunan dosa.
  5. Bulan yang di bukakannya pintu Surga dan ditutupnya pintu neraka serta di ikatnya setan.

Selain berusaha menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari selama berpuasa kita di tuntut untuk menahan nafsu dan amarah agar mampu membentuk pribadi yang lebih sabar dan selalu beryukur kedepannya. Bagi seorang yang sudah terbiasa dengan ketenangan hati dan jiwa yang selalu membiasakan bertindak syukur, menerima dan sabar dalam setiap keadaan apapun yang menimpa maka ia akan selalu beristiqomah dalam menjalankan setiap aktivitas ibadah. Hal ini akan meningkatkan iman dan taqwanya untuk selalu bertafakkur kepada Allah SWT.

************************************************************ *************************

Keadaan yang sudah di sebutkan di atas akan berbalik kepada orang-orang yang enggan untuk beribadah puasa karena hatinya sudah terbiasa terselimuti dengan tindakan-tindakan hasutan setan padahal sudah dijelaskan bahwa setan akan selalu terikat selama bulan ramadhan, sehingga godaan setan pun akan ย berkurang. Dalam kondisi seperti ini seharusnya kita lebih khusuโ€™ menjalankan semua aktivias agar bernilai ibadah namun perbuatan untuk selalu berbuat bathil tetaplah ada. lalu pertanyaan sederhana pun muncul, โ€œApakah setan bisa terlepas untuk menggoda dan mengajak pada kebathilan?โ€. Jawabnya โ€œTidakโ€. ย Karena beberapa pendapat mengatakan setan yang terikat adalah setan-setan yang membangkang dan durhaka saja ุฑูŽุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูู†ูู‘, maka setan yang masih berkeliaran adalah setan-setan kecil dan setan dari kalangan manusia.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadiโ€˜i rahimahullahu menjelaskan bahwa walaupun senadainya seluruh setan dalam ikatan, namun kebathilan dan kemaksiatan bisa saja terjadi karena kepribadian manusia yang sudah menyerupai tingkah laku setan. Perilaku manusia yang hari-harinya sudah terbiasa melakukan kemaksiatan, yang dalam hatinya tidak ada niatan sedikitpun untuk bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT. lalu apakah kita layak di sebut โ€œSetan yang berwujud Manusia?โ€, Apakah kita pantas mendapat title setan pengganggu manusia untuk mengajak kepada kebathilan terutama di bulan ramadhan?. ย Maka berkata kalian tanpa berfikir dosa dengan rasa bangga โ€œAkulah pengganti setan di bulan Ramdhanโ€. ย Merangkul kepada kemungkaran, menggoda setiap yang berpuasa agar membatalkannya serta mengajak kepada kemaksiatan sehingga lupa bahwa hawa nafsunya semakin membara dan membuat noda besar di bulan ramadhan.

Mereka yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan, zinah dan ย berbagai bentuk kebathilan dalam kesehariannya, akan memutuskan untuk tidak menjalankan ibadah puasa. Bahkan tak sedikit mereka berkata โ€œPuasa Sia-sia hanya menambah dosa!!โ€ , naudzubilah. Waktupun terasa nikmat dalam dunia mereka padahal mereka sangat merugi.

Semoga kita tidak termasuk golongan tindakan setan yang selalu ingkar kepada perintah Allah SWT, memberikan bisikkan untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti amal buruk yang kita perbuat, sehingga bukan pahala yang kita dapatkan kelak, tapi siksa dan panas api neraka.

Marilah kita bersama-sama menyambut datangnya Ramadhan dengan rasa sukacita dan gembira sehingga ibadah akan terasa ringan dan kita terlepas dari kalimat โ€œAkulah pengganti setan di bulan ramadhanโ€.

ย 

PENTINGNYA SILATURRAHMI


Silaturrahmi merupakan salah satu ajaran dalam Islam akan tetapi masih banyak yang belum memahami hakikat dan faidah-faidah silaturahmi. Artikel ini mengupas pengertian, faidah dan tips dalam mempererat silaturahmi
Shilah artinya Hubungan atau menghubungkan sedangkan ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. Taraahamal-Qaumu artinya kaum itu saling berkasih sayang. Taraahama ‘Alayhi berarti mendo’akan seseorang agar mendapat rahmat. Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahmi apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa dan kema’siatan.Selain itu kata ar-Rahm atau ar-Rahim juga mempunyai arti peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Inilah keunikan Bahasa Arab, Satu kata saja sudah dapat menjelaskan definisinya sendiri tanpa bantuan kata-kata lain. Dengan demikian Shilaturrahmi atau Shilaturrahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab). Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturrahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara.Peliharalah Tali Silaturrahmi, maksudnya peliharalah hubungan kekeluargaan kamu. Jangan sampai kamu lupa dengan nasab kamu, orang tua kamu, saudara-saudara kamu dan kerabat-kerabat kamu. Setelah itu baru peliharalah hubungan kasih sayang dengan orang-orang mu`min sebagaimana dengan saudara sendiri.
Anjuran menjalin Silaturrahmi adalah anjuran untuk tidak melupakan nasab dan hubungan kekerabatan. Satu-satunya bangsa yang paling hebat dalam menjalankan silaturrahmi adalah bangsa Arab. Mengapa? Karena mereka tidak lupa nenek moyang mereka. Makanya mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan bapak, dan kakek-kakek mereka ke atas. Oleh karena itu dalam nama mereka pasti ada istilah bin atau Ibnu yang artinya anak.
Nabi kita Muhammad Saw mengetahui nasabnya sampai beberapa generasi sebelumnya. Nasab beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdul- Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Bukan hanya Nabi yang seperti itu, hampir seluruh orang-orang Arab mengetahui nasabnya masing-masing sampai beberapa generasi sebelumnya. Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan diantara mereka sangat kuat. Allah menjadikan mereka sebagai contoh untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan bangsa-bangsa lain dan bangsa kita yang kebanyakan mengetahui hanya sampai kakek dan buyut. Akibat pengetahuan nasab yang terbatas ini maka efeknya sangat memprihatinkan. Diantaranya tidak mengetahui saudaranya yang jauh, menganggap bahwa dirinya tidak punya saudara, tidak mendapat bantuan dan pertolongan bila dirinya mengalami kesengsaraan, tidak punya tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan kecuali orang lain. Akhirnya ujung-ujungnya timbullah kemiskinan, anak gelandangan, dan lain sebagainya. Padahal seandainya mereka mengetahui nasab mereka siapa tahu bahwa direktur perusahaan disamping gubuknya adalah saudaranya dari buyut kakeknya.
Inilah salah satu hikmah perintah bersilaturrahmi. Bersilaturrahmi atau menjalin hubungan kasih sayang yang kuat diantara saudara dan keluarga pihak kakek dan nenek ke atas. Kalau bisa kita menghafalnya sebagaimana bangsa Arab menghafal nasab-nasab mereka baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.
Allah dalam al-Qur`an secara spesifik memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturrahmi/ silaturrahim;

ูŠูŽุงุฃูŠู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุงุชูŽู‘ู‚ููˆู’ุง ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ูˆูŽุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ูˆูŽ ุจูŽุซูŽู‘ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฑูุฌูŽุงู„ุงู‹ ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุง ูˆูŽ ู†ูุณูŽุขุกู‹ ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆู’ุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ู‹ู‘ุฐููŠู’ ุชูŽุณูŽุขุกูŽู„ููˆู’ู†ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽ ุงู„ุฃุฑู’ุญูŽุงู…ูŽ ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฑูŽู‚ููŠู’ู€ุจู‹ุง (ุงู„ู†ุณุงุก : 1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (an-Nisa`:1)

Dari Miqdam ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชููƒูู…ู’ ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุฃุจุขุฆููƒูู…ู’ ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุจู ููŽุงู„ู’ุฃู‚ู’ุฑูŽุจู

Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwasiat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kamu agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu (Silsilah Hadits Shahih; al-Albani)

Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Saw bersabda:

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู‚ูŽุงุทูุนู ุฑูŽุญู’ู…ู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan (Muttafaq ‘Alaih)

Silaturrahmi tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman. Allah Swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mu`min yang lain. Namun dalam hubungan silaturrahmi yang diutamakan adalah sanak famili yang masih ada hubungan darah (senasab) baru kemudian orang-orang beriman yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Karena mereka-lah yang lebih dekat hubungannya dengan kita.

Begitu juga apabila kita meminta bantuan maka yang lebih layak kita minta adalah sanak famili kita, baru kemudian orang lain. Karena mereka dan kita sama-sama punya hak dan kewajiban untuk saling tolong-menolong.
Di dalam Islam anjuran berinfak ditujukan kepada kaum kerabat kita yang miskin dulu baru kepada orang lain. Allah berfirman :

… ูˆูŽ ุฃููˆู’ู„ููˆู’ุง ุงู„ุฃุฑู’ุญูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุจูุจูŽุนู’ุถู ูููŠู’ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽ ุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑููŠู’ู†ูŽ ุฅู„ุงูŽู‘ ุฃู†ู’ ุชูŽูู’ุนูŽู„ููˆู’ุข ุฅู„ูŽู‰ ุฃูˆู’ู„ููŠูŽุขุฆููƒูู…ู’ ู…ูŽู‘ุนู’ุฑููˆู’ูู‹ุง … (ุงู„ุฃุญุฒุงุจ : 6)

… Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) menurut Kitab Allah daripada orang-orang Mukmin (lain) dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada mereka (saudaramu seiman)โ€ฆ (al-Ahzab: 6)

Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.
Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturrahmi hanya karena gara-gara pekerjaan dan jabatan. Silaturrahmi lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah berfirman :

ููŽู‡ูŽู„ู’ ุนูŽุณูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฅู†ู’ ุชูŽูˆูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชูู…ู’ ุฃู†ู’ ุชููู’ุณูุฏููˆู’ุง ูููŠ ุงู„ุฃุฑู’ุถู ูˆูŽุชูู‚ูŽุทูŽูุนููˆู’ุข ุฃุฑู’ุญูŽุงู…ูŽูƒูู…ู’ (ู…ุญู…ุฏ: 22)

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim) ? (QS. Muhammad: 22)

Kiat-Kiat Mempererat Hubungan Silaturrahmi

1. Mendahulukan Sanak-Famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sehingga seorang anak wajib mencintai, menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orangtuanya berhak mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kesyirikannya. Apabila mereka faqir maka kewajiban kitalah yang membantunya pertama kali. Kemudian saudara-saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yang seiman. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi Saw :

ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุดูŽุนูุฑู’ุชูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุนูŽู…ูŽู‘ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ุตูŽู†ููˆู’ ุฃุจููŠู’ู‡ู

Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya.

2. Mengingat Kebaikan Sanak-Famili kita, tanpanya mungkin kita tidak akan berarti.

3. Menghafal Nasab dan seluruh nama-nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek ke atas sampai kepada keturunan-keturunan mereka. Untuk hal ini sebaiknya kita membuat diagram silsilah keluarga agar dapat diingat oleh generasi berikutnya supaya mereka tetap melanjutkan tali silaturrahmi setelah kita tiada (meninggal).

4. Jangan menyakiti, menzhalimi dan berbuat buruk kepada sanak-famili kita. Sebaiknya kita-lah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi akan diberkahi oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda :

ู…ูŽู†ู’ ุฃุญูŽุจูŽู‘ ุฃู†ู’ ูŠูุจู’ุณูŽุทูŽ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ู ูˆูŽ ูŠูู†ู’ุณูŽุฃ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุฃุซูŽุฑูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู„ู’ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)

Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi (Muttafaq ‘Alaih)

“Mengapa Harus Menikah??”


Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
โ€œBarang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
โ€œWahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
โ€œSegala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.โ€ (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, โ€œWahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.โ€ Beliau bersabda, โ€œBukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.โ€ Mereka bertanya, โ€œWahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?โ€ Beliau menjawab, โ€œBagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?โ€ (Mereka menjawab, โ€œYa, tentu.โ€ Beliau bersabda,) โ€œDemikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.โ€ (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, โ€œSemua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua rakaโ€™at Dhuha.โ€) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
โ€œSiapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.โ€ (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: โ€œSatu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.โ€ (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: โ€œDinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.โ€ (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: โ€˜Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?โ€ Beliau menjawab dengan bersabda, โ€œBerilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.โ€ (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: โ€œSesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin โ€˜Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: โ€œSeseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

โ€œDan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.โ€ (Sabaโ€™: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: โ€œSetiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: โ€œYa Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.โ€ Dan yang lain berdoa: โ€œYa Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Kontributor : Chandraleka, 06 Desember 2004

NOte : Males NUlis jadi COPAS aja dari E-BOOK

ETIKA MEMBACA AL-QUR’AN


  • Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
  • Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
  • Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”. (An-Nahl: 98).
  • Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allahย  berfirman yang Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).
  • Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
  • Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:
  • Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).
  • Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).
  • Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).
  • Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.
  • Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.
  • Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “รpabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).