Sang Pengejar Impian Berjuang HIngga Akhir :)


Semangat!!

Semangat!!

Semangat!!

Kata “SEMANGAT” mengingatkan salah seorang yang berharga dalam hidupku kini. Sebut saja namanya Rafi.  Kegigihan dan kerja kerasnya bisa dibuat panutan yang luar biasa. Ya… sebuah perjuangan hebat yang mungkin tak terbayangkan olehku, olehmu bahkan kita semua.

Sebuah contoh nyata sedikit akan saya uraikan. Coba kita bayangkan kehidupan hari-harinya seakan tak mengenal 3L (Lesuh, lelah, lunglai) mungkin bisa jadi 4L (Lesuh, lelah, lunglai dan lemas)hehehe. Bagaimana tidak? Setiap hari Rafi menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berkerja tapi ibadah tak pernah dilupakannya. Seperti inilah yang membuat saya tersenyum manis dan gelisah dengan kegigihannya.

Rafi adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, 2 saudara laki-laki dan 1 kakak perempuan (kalau gak salah, lupa) dari keluarga yang mungkin bisa dibilang hidup seadanya. Untuk saat ini kehidupan keluarga mungkin bergantung pada penghasilan Rafi bekerja. Adik rafi yang baru saja daftar sekolah juga atas kerja keras Rafi. Begitu kerasnya perjuangan Rafi hingga ia terkadang lupa dengan waktu. Tak kenal pagi-, siang dan malam semua di anggapnya sama untuknya terus melangkah.  Mungkin jika saya ada di posisi Rafi persoalan seperti ini sangat rumit, tapi satu hal yang bikin saya bangga tuk mengenalnya. Rafi selalu mengejarkan kesabaran pada saya. Ya.. sabar itu yang ia terapkan pada hatinya walau kadang menyiksa, ucapan Alhamdulillah tak luput dari perkataanya J.

Suatu hari Rafi mengalami hal yang tak terduga,  menyebabkan uang tabungan yang terkumpul dengan keringat peluh habis tak tersisa. Ia cerita pada saya tentang hal ini, entah mengapa seakan saya tak terima. Spontan saya merasakan kesedihan yang pasti Rafi rasakan walau tak Nampak di raut wajahnya. Jika di hitung-hitung uang yang terkumpul bisa dijadikan modal sebuah usaha, niat yang mulia bahkan Impian-impiannya yang masih jadi buah pikiran.

Saya pun  mengeluh padanya “Kok bisa sich?”, perkataan sebal atas kejadian yang menimpanya. Niat saya untuk membantunya pun muncul, selain dorongan nurani ada rasa lain yang memaksa saya untuk ini. Tak bisa terbayangkan jika peristiwa ini menimpa pada saya sendiri, L pasti juga sedih dan bingung. Di tengah kebingungan dan kepanikan atas kejadian ini, ternyata tak terbesit sama sekali di benak Rafi. Ia berkata pada saya dengan senyuman “Sabar, semua ada hikmahnya, Kalau tidak begini manusia tidak bersyukur”.  SubhanaALLAH, saya begitu terpesona dengan kelapangan hatinya. Ia menyabarkan saya yang hanya sebagai pendengar cerita yang tersulut kekesalan, tapi Ia sendiri yang mengalami tak merasakan kekesalan itu J.

Semoga diluar sana banyak Rafi-Rafi yang lain, yang berjuang demi keluarga tanpa menengok dirinya sendiri. Berharap membahagiakan orang-orang terdekatnya walau mungkin ia tak sebahagia seperti orang-orang yang ia bahagiakan. Selalu beryukur walau hasilnya tak terasa bahkan kala musibah tiba ia ucapkan “Alhamdulillah”  

Teringat selalu pesannya pada saya “Berjuang Hingga Akhir Sang Pengejar Impian”

Jalan menuju Taubat-MU (Riko’s Story)


Cerita sederhana penuh hidayah. Sebuah cerita nyata yang sedikit akan kita simak bersama. Semoga cerita yang akan dituang, bisa membawa manfaat bagi semua yang membaca. Cerita ini mungkin terjadi sudah beberapa tahun yang lalu, tapi baru beberapa hari ini temanku, sebut saja namanya Riko berkenan membagi cerita.

Riko adalah nama seorang temanku yang baru ku kenal namun terasa nyaman berbagi dan berbincang menghabiskan waktu dengannya. Ramah, sopan, santun, simple dan taat beribadah begitulah sedikit gambaranku untuknya. Beberapa hari yang lalu Riko berbagi kisah hidupnya denganku. Kisah kelam dan pahit yang menyisahkan luka mendalam hingga kadang sedikit hilang akal, namun berakhir dengan kedamaian hakiki yang membuatnya menjadi lebih tawwakal seperti saat ini. Inilah kisah Riko yang menjadi latar belakang kembalinya Riko pada jalan menuju keridhoan Sang Maha Pengampun (Illahi Robbi).

Tulisan ini adalah sebuah rangkuman kisah hidup yang di tulisnya dengan pena berjuta rasa di hati.

Tulisan Riko yang sudah sedikit diubah ukiran penanya, inilah sepenggal kisahnya :

Rico’s Story…..

Beberapa tahun yang lalu terjalin kisah menitih kasih antaraku dan Rina kekasihku. Aku mencintainya, begitu pula sebaliknya ia padaku. Serasa hanya ada Rina yang ada di benak dan khayalku tanpa ada kesempatan untuk kupikirkan yang lain. Tapi entah mengapa hubunganku dan Rina tak semulus yang dibayangkan. Berita tak sedap kian meruncing hingga mencapai puncak, menyebabkan kami memutuskan untuk berpisah.

Orangtua beserta seluruh saudara seolah tak menginginkan aku denganya. Aku tahu bahwa cinta, harapan serta percayaku sepenuhnya untuk Rina. Namun semua tidak seperti yang aku kira, sanak saudara begitu yakin bahwa Rina bukanlah gadis terbaik pilihanku.

Aku memutuskan Rina tanpa kerelaan. Hatiku sakit dan perih, hanya dengan sepatah kata “Kita Putus” di akhir pertemuan yang pedih. Rina pun tercengang dengan keputusan yang kubuat. Bingung dan tak mengerti dengan perkara sebab keputusanku karena akupun tak mampu untuk menjelaskannya.

Di awal perpisahan sepertinya hatiku masih belum bisa menerima. Kadang-kadang aku bingung dengan cara yang ku buat , seakan-akan masa depanku kandas. Sempat terpikir olehku bahwa aku benar-benar tak bisa hidup tanpa Rina. Ia begitu melekat dan bersemayam di  hati dan pikiranku. “Rina maafkan aku”, tuturku dalam kesendirian dan kehampaan.

Hari demi haripun berlalu, aku tak mau hidupku terus tanpa arah dan hilang kendali.
“Astaghfirullah… Maafkan hamba Ya Robbi..”  ucap maafku pada Tuhan yang selama ini ku hilangkan dalam kehidupan. Aku benar-benar sudah terlelap hanya dalam kehidupan saja, tersadar olehku bahwa hanya karena cinta pada wanita yang belum tentu menjadi milikku aku menangis mengisak pilu. Sedangkan selama ini aku tak pernah menangis karena dosa-dosaku pada Illahi Robbi. Ku basuh wajah dan sebagian tubuhku dengan berwudhu, ku lantunkan do’a dengan sujud sholat lima waktu. Ku bersimpuh, memohon ampun atas segala dosa yang tak pernah kusadari.

Dalam kesakitan hati ini, seolah ALLah memberi berkah pada setiap langkahku. Sedikit demi sedikit akupun biasa tak merasakannya. Aku semakin erat pada Sang Maha Pencipta. Inilah awal taubatku, semoga menjadi taubatan Nasuha yang tak kan ku ulangi untuk membuat Tuhan marah.

“Bismillah… “ aku awali lembaran baru untuk melangkah kejalan yang lebih baik.

Tak lama kemudian muncul akhwat yang menggetarkan hatiku, seolah aku merasa semoga ia bisa menjadi pengganti Rina dengan jalan yang di Ridhoi, mungkin tanpa ada kata Pacaran. Sekilas kami pun berkenalan, terjalin hubungan bisnis di antara kami. Ya… walaupun bisnis kecil, tapi aku sedikit senang bisa mengenalnya, sebut saja namanya Dewi. Namun aku tak mau terlena kedua kalinya. Aku selalu ingat tujuan awal dan dosa yang belum bisa terbalas dengan kebaikan bahwa aku kembali hanya untuk-Nya, untuk Allah SWT.

Tak lama hubungan bisnis terjalin diantara kami Dewipun pergi entah kemana. Tapi aku menyadari bahwa kepergian Dewi dariku adalah karena perkataanku yang sedikit kasar hingga membuatnya terluka. Hal ini terulang kembali, tapi syukurlah aku tidak lagi merasakan kepedihan layaknya Rina putus dariku. Hatiku seolah terlapangkan oleh-Nya hingga aku berfikir bahwa memang ini jalan Allah karena tujuanku hanyalah berjalan diatas Ridho-Nya. Akupun yakin nanti ketika saat itu tiba wanita yang tertulis di lauful mahfud untukku akan datang membawa kesempurnaan, aku akan berikhtiyar di jalan yang penuh berkah, InsyaALlah.

Inilah jalanku..

Jalan menuju ridho-MU

Jalan panjang penuh belukar

Yang harus ku pangkas agar tak tertatih

Jalan taubat kikiskan dosa

Puji syukur ku panjatkan atas hidayah-MU

Menyadarkanku dalam Hina dan Dosa

Kembali dalam Rachmad-Mu

 

 Begitulah gambaran hidayah yang Allah berikan pada Riko, kesakitan hatinya menyadarkan atas segala kekhilafan dan amal buruk yang ia lakukan. Semoga allah selalu membuka pintu rachmad dan hidayahnya pada setiap kita yang mungkin menglami hal serupa.

“Mas Ibnu, Aku Mencintaimu….”


Rasa itu kembali muncul ketika aku melihatnya….

Aku tak tahu apakah ini memang hati nurani ataukah hanya buaian semata….

Begitu hangat dan penuh perhatian…

Semua tentangnya sangat menarik untukku simak baik yang dibuat oleh teman atau orang terdekat nya sekalipun…

Kisah Indah yang tak terlupakan…

Adapun kisah kelam  yang harus aku kubur dalam-dalam..

 

Rasa sakit yang tak kunjung usai, perih dan kadang tak terarah. Ketika ku mengingat Johannes. Johannes adalah nama kekasihku yang biasa ku panggil John. Sejak dua tahun lalu ia menjanjikan impian kebahagian bagiku. Seringkali ia menampakkan kemesraan dan kasih sayang walau kadang agak berlebihan. Akupun tak tahu dan sering mengungkap beribu tanya, apakah kemesraan yang ia tunjukkan selama ini  adalah simbol ketulusan atau hanya ingin mencari kepuasan atasku. Ibu sering menasihatiku tentang hal ini agar aku tidak dekat-dekat lagi dengannya, bahkan ibu menginginkan agar memutuskan hubungan yang terjalin antara kita. Aku tahu bahwa johannes berbeda denganku, ia seorang nasrani dan bahkan sejauh ini tidak ada keinginan untuknya masuk Islam. Kehidupan yang mewah sudah ia rasakan sejak kecil. Pergaulan bebas, gemerlap malam dan teman-temannya yang modis kadang membuatku minder. Sebetulnya tidak banyak rasaku padanya yang ku tahu hanya ia baik padaku dan selalu memberi apa yang ku mau, tapi aku juga tidak memungkiri bahwa ada sedikit hatiku untuknya.

Beberapa minggu ini banyak anggapan buruk tentang johannes. Banyak yang mengatakan John bukanlah orang baik, John adalah orang yang tidak lebih dari seorang brandal. Walaupun johannes sudah berada pada keluarga yang terbilang sangat lebih dari cukup dan berpendidikan tinggi namun ia sering melakukan hal-hal yang tidak terdidik. Sebut saja Elen adalah sahabat terdekat dan terbaikku, Elen bercerita padaku tentang John yang hendak melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada Anis yang juga menjadi temanku dan Elen.

“Sudahlah Fa, kamu putuskan saja John mu itu, aku tidak rela kamu terus-terusan di manfaatkan olehnya”, kata Elen padaku. Elen juga sama dengan ibuku yang selalu menasihatiku untuk tidak berhubungan lagi dengan John, karena Elen sudah sering melihat John sering mabuk dan berbuat tidak senonoh pada perempuan.

Mudah bagiku untuk memutuskan dan tidak berhubungan lagi dengan John, tapi ternyata tidak semudah itu, John mengancamku untuk menghentikan biaya kuliah adikku yang sedang menuntut ilmu di sebuah Universitas ternama di Jakarta. Masa depan adikku mungkin bisa dibilang ada di tangan John, biaya pendidikan Lukman adikku begitu besar. Aku dan ibu tidak mampu membiayai kuliah Lukman, apalagi semenjak ayah pergi meninggalkan kami menghadap Tuhan YME, penghasilanku hanya cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Oleh karena inilah aku bertahan menjalin hubungan dengan John. Aku tidak mau lukman bernasib sama denganku yang hanya sebagai pekerja serabutan, mungkin dengan pendidikan Lukman yang tinggi bisa merubah kehidupan keluarga.

Minggu lalu keluarga baru menempati rumah kosong disebelah rumahku, keluarga Bp. Rozak namanya. Sebelumnya ibu telah berkenalan dan hendak mampir kerumah tetangga baru kami ini, ibupun mengharapkanku untuk bersilaturahmi ke keluarga dan berkenalan dengan mereka. Ternayata ibu ada maksud lain di balik menyuruhku untuk berkunjung kesana, Ibu bercerita padaku ada pemuda tampan taat beragama yang sebaya denganku tepatnya ia adalah putra pak Rozak, Ibnu namanya.

 “Ibnu itu baik loh nduk, ibu sudah kenalan dengannya dan keluarganya, orangnya pintar masih kuliah, alim dan sopan. Gak seperti pacarmu itu, gak tahu tata krama dan brandalan”, tandas ibuku.

Ya.. tapi ya apa mas Ibnu mau sama Ifa bu, sedang ifa hanya lulusan SMP apalagi soal agama, sholat aja Ifa masih bolong-bolong”, jawabku.

Setiap hari aku hanya melihat Ibnu ketika ia hendak berangkat kuliah dan menyapa seperlunya, menurutku Ibnu adalah pemuda pemalu yang selalu menundukkan kepala dan melempar senyuman ketika ku sapa. Aku juga menaruhn kagum pada Ibnu yang rajin ibadah dan santun pada orang disekelilingnya terutama pada keluargaku.

Suatu hari ketika aku dan John hendak berjalan-jalan pergi ke bioskop, John memaksaku untuk memakai baju yang ia belikan. Baju yang minim, seksi dan sangat terbuka membuatku tidak ingin memakainya tapi John bersih keras untukku memakai baju itu, dengan terpaksa akupun memakainya. Suasana dirumah sangat sepi, waktu John kerumah untuk menjemputku Ibu sedang pergi. Aku juga tak tahu ibu pergi kemana, hanya ada aku dan John. Baju yang John belikan pun sudah kupakai, ketika aku berjalan kearahanya, ada tatapan yang tidak biasa dari John, ia melihatku dari ujung kaki hingga kepala, terasa aneh dan membuatku takut. John tiba-tiba mendekap dan berbuat tidak lazim padaku, aku takut, akupun tak kuasa mengahadapi John yang berbadan dempal yang mendekapku begitu erat.

“Apa yang hendak kau lakukan John”, tanyaku. “Tenang sayang, nikmati saja pasti kamu ketagihan”,  jawab john sambil mencumbuku. Dekapan itu semakin erat membuatku sesak nafas, aku takut John akan berbuat macam-macam padaku dalam benakku aku tidak mau kesucianku direnggut oleh orang yang tidak sepenuhnya aku cintai. Akupun berteriak, dan mencoba lepas dari dekapannya, John malah menamparku dan menyuruhku untuk diam tapi aku terus berteriak sekuat tenaga dan berharapa ada yang menolongku. Tiba-tiba aku dan John tersentak melihat Ibnu mendobrak pintu rumah dan menarik tangan John sambil menghantamkan tonjokkan ke muka John.

Eh… mau berbuat apa kamu?..  laki- laki bajingan”, teriak Ibnu dengan nada marah.

“hey.. siapa Loe berani-berninya masuk rumah orang tanpa permisi, ini rumah cewek gue, urusan gue mau ngapa-ngapain?, jawab John pada Ibnu.

Akupun terus meminta pertolongan pada Ibnu “Tolong aku mas Ibnu, dia mau perkosa aku..”, mintaku lirih sambil menangis. Tanpa berfikir panjang Ibnu langsung menghantamkan tonjokkan keduanya, dan mengusir John dari rumah. John mencoba melawan, namun karena sudah merasa kesakitan John pun pulang dengan gumaman. Tak sadar olehku, karena kejadian yang membuatku ketakutan ini, akupun memeluk Ibnu dengan erat sambil mengucap terimakasih atas pertolonganya, Ibnu mencoba melepaskan pelukanku dan menyuruhku berisitirahat.

Semenjak kejadian memalukan itu, aku selalu dibayang-bayangi oleh wajah Ibnu, wajahnya yang selalu bersinar dengan senyuman yang hangat bahkan ketika aku memeluknya aku merasa begitu nyaman dan aman. Sebaliknya dengan perasaanku ke John seakan-akan menyimpan kebencian padanya.

Kegiatan Ibnu  selain kuliah, dia juga sebagai pengajar anak-anak untuk mengaji di kampung kami. Hari ini aku memberanikan diri untuk mengikuti pengajian yang Ibnu berikan pada anak-anak, selain ada niatku untuk membenahi Ibadah aku juga ingin melihat senyum Ibnu yang selalu membayangiku di setiap ku waktu. Awalnya Ibnu kaget dengan kedatanganku, tapi ketika aku memberikan alasan untuk belajar mengaji Ibnu sangat senang. Ketika Ibnu mengajariku mengaji, John datang menemuiku. Ia meminta maaf padaku, Ibnu hanya memantau percakapan kami agar John tidak berbuat macam-macam lagi. Dengan penuh pertimbangan aku memtuskan untuk putus dengan John dan tidak mau menemuinya lagi. Dengan rasa kesal John mengancamku lagi untuk memberhentikan biaya kuliah lukman, tapi karena aku sudah lelah dan capek dengan sikap John ditambah kejadian yang kemarin John lakukan padaku dengan tegas aku tidak takut dengan ancaman John. Aku mempersilahkan John untuk menghentikan biaya kuliah Lukman dan aku sendiri yang akan menanggungnya. “OK, kalau itu yang Loe mau.. jangan kamu harap aku mau membantu beban hidupmu lagi, dasar cewek munak”, kata John padaku. Ibnu hanya melihat saja tentang ancaman John padaku. Akupun bergeas pulang sambil menangis tanpa pamit pada Ibnu karena aku sangat merasa malu.

Ini adalah hari ketiga semenjak aku memutuskan John, aku juga tidak mau menampakkan diri sama sekali di luar rumah. Aku hanya memikirkan bagaimana aku dapat biaya Lukman yang begitu banyak disamping itu aku juga membendung rasa malu pada Ibnu.

Seperti hari – hari sebelumnya aku hanya berifikir dan merenung tanpa bertindak apapun untuk memenuhi kebutuhan Lukman. Hingga sampai hari ini, hari ke-10 aku berdiam diri dirumah. Sore hari keluarga Pak. Rozak bertamu kerumaku, aku tak mau menemui mereka dengan keadaan seperti ini, wajah pucat dan rambut tak tersisir. Akhirya hanya ibu yang mengajak mereka ngobrol. Sudah 30 menit berlalu, aku tak tahu apa yang mereka obrolkan selama 30 menit ini. Tiba-tiba ibu memanggilku dan menyuruhku untuk berdandan rapi, aku menurut saja, “Tak tunggu di ruang tamu ya nduk,  dandan yang rapi” pesan ibu padaku. Setelah aku merasa rapi, aku bergegas menemui ibu diruang tamu, ternyata masih ada keluarga P. Rozak mereka belum pulang. Aku duduk disebelah ibu, dengan pelan dan sopan pak Rozak mengutarahkan maksud kedatanganya padaku, sontak aku merasa kaget ketika pak rozak mengatakan padaku bahwa kedatangan keluarganya kerumah untuk melamarku. Tangisan bahagiaku tak terbendung begitu beruntungnya aku dapat memiliki Ibnu. Tapi aku masih belum percaya.

“mas Ibnu tidak main-main kan?, mas Ibnu tidak malu menjadikan aku jadi istri mas, aku hanya lulusan SMP mas, Ibadahku juga tidak begitu bagus”, kataku.

“Tidak fa, aku tidak main-main padamu, aku ingin menjadi imammu untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, aku menikahimu karena Allah Fa dan kamu juga jangan khawatir aku juga kan membiayai semua kebtuhan kuliah adikmu”, jawab Ibnu. Tanpa berfikir panjang aku menerima pinangan Ibnu, karena aku mencintainya. Tak lama Ibnu meminangku 2 bulan kemudian Ibnu menikahiku.

Sungguh aku menjadi wanita yang sangat beruntung di dunia. Sejak pernikahanku dengan Ibnu, ia selalu mengajariku semua ibadah yang belum pernah ku mengerti. Aku lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih mengenal-Nya dan aku mencoba taat pada Suamiku tercinta, Ibnu. kini aku sudah mengubah penamplanku lebih anggun dengan memakai Jilbab panjang dan jubah yang indah.

Terimakasih Allah, Engkau Maha Segalanya yang mengatur semua jalan manusia, termasuk jalanku yang selalu Engkau beri nikmat.

“Ibnu Suamiku, aku mencintaimu karenamu aku lebih mengenal Tuhanku”

“STAIL Hidayatullah Surabaya kampusku”



  
            Sebuah cerita singkat warna-warni perjalanan perubahan hidup yang saya alami. Berawal dari pertemuan teman-teman dari sebuah sekolah tinggi yang belum terlalu familiar, kampus STAIL mereka menyebutnya. Ketika itu saya masih belum terlalu tertarik untuk bertanya lebih lanjut tentang apa-apa yang berkaitan dengan sekolah tinggi ini.

Teman-teman Mahasiswa dari Kampus ini terlihat aneh bagi saya, maklumlah saya terbilang anak yang bebas bergaul yang tak memandang laki-laki dan perempuan, yang belum tahu tentang arti Syariah Islam yang sebenarnya walaupun dari TK-SMP saya bersekolah di sekolah Islam.

Perkenalan kami bermula dari kegiatan Ekstrakurikuler bela diri yang ketika itu saya ikuti di sekolah, salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Surabaya yang letaknya tidak jauh dari kampus mereka sehingga mereka bisa ikut bergabung. Begitu tertutup, begitu santun dan lirih suara ketika berbicara walaupun mereka laki-laki, berpakaian kurang modis dan yang paling penting tidak mau membaur dengan teman-teman perempuan termasuk dengan saya. Hal ini bertolak belakang dengan sikap teman-teman yang lain diluar Mahasiswa STAIL termasuk saya sendiri. Kami (saya dan teman-teman dari SMK) terbilang orang-orang yang sangat rame, humoris dan slengekan baik terhadap teman sendiri, pelatih ataupun kepada teman-teman Mahasiswa STAIL.

Minggu demi minggu kami lalui dengan latihan bersama dan saya mulai terbiasa dengan sikap mereka , seperti sebelumnya saya masih menganggap mereka orang aneh . Namun ada satu moment yang membuat saya jadi terkesima. Suatu ketika kami berlatih untuk menghadapi komite kejuaraan nasional, kami mencoba berlatih serius walaupun slengekan . Kami berlatih dari pagi hingga malam, soal beribadah kami tidak pernah tinggalkan tapi soal waktu ibadah selalu tidak tepat waktu, yakni sebelum waktu batasan sholat berakhir, contoh ketika sholat ashar sekitar Pukul 14.45 kami kerjakan pukul 17.00, lain halnya bagi teman-teman Mahasiswa STAIL, ketika adzan berkumandang mereka berhenti dari aktivitas latihan, kemudian menanggalkan dogi (baju beladiri) kemudian berganti baju untuk siap2 sholat. Inilah yang membuat saya semakin penasaran dengan mereka dan ini adalah awal ketertarikan saya kepada STAIL. Belum pernah saya melihat pemadangan seperti ini, karena sebelumnya mereka hanya mengikuti latihan sesudah ashar dan sebelum maghrib. Namun sayang banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada mereka tentang STAIL mereka sudah berhenti mengikuti ekstrakulikuler di sekolah.

Tahun 2007 saya lulus sekolah dan melanjutkan untuk bekerja, sebelumnya setelah lulus saya sudah masuk kuliah ke 2 kampus, tapi karena kondisi biaya yang tidak mencukupi saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja dulu sambil menabung untuk keperluan kuliah .

Singkat cerita pada tahun 2010 saya bertemu dengan kakak kelas waktu dulu di SMK yang juga ikut ekskul beladiri, kami temu kangen dan saling bercerita. Saya kaget ketika ia bercerita bahwa ia sedang kuliah di STAIL, kampus yang membuat saya menyimpan banyak pertanyaan. Tahun 2010 inilah saya memutuskan untuk masuk STAIL, walaupun awalnya saya masih bingung dan belum mendapat gambaran tentang jurusan yang saya pilih.

Sekilas tentang STAIL Hidayatullah Surabaya Kampusku tecinta, STAIL mempunnyai kepanjangan kata dari Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim Hidayatullah yang beralamat di Jl. Kejawan Putih Tambak VI/1, Mulyorejo, Surabaya 60112 Jawa Timur Indonesia. Berdiri tahun 1987 yang bergerak dalam bidang Pendidikan, Dakwah dan Sosial dan mempersiapkan para Da’i dan kiyai yang siap ditugaskan ke daerah-daerah terpencil untuk mengemban misi dakwah.

Disini terdapat dua jurusan, yakni :

  1. Jurusan Dakwah, Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
  2. Jurusan Tarbiyah dengan Program Studi Kependidikan Islam (KI)

VISI    : “Menjadi Perguruan tinggi yang unggul dalam menghasilkan kader-leader dan profesional ”

MISI   :

  • Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang profesional, transparan, akuntabel • Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang mampu melahirkan sarjana yang kader, leader dan professional • Menyelenggarakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang bermanfaat.

TUJUAN :

  • Mewujudkan cita-cita perjuangan gerakan Islam Hidayatullah, yaitu lahirnya kader-kader perjuangan yang berkompeten di bidangnya, memiliki loyalitas terhadap kepemimpinan Hidayatullah dan komitmen terhadap perjuangan membela Islam dan umatnya.

Kini saya sudah semakin mengerti tentang STAIL Hidayatullah Surabaya Kampusku dan saya sudah mempunyai semua jawaban dari pertanyaan yang ku simpan atas teman-teman yang kuanggap aneh dulu, yakni jawaban diantaranya :

  • Mereka bukan mau tertutup dan tidak mau membaur tapi mereka mencoba menjaga hijab antara laki-laki dan perempuan
  • Mereka bukannya tidak modis tapi mereka tidak mau meniru budaya barat dan yahudi karena meniru budaya mereka berarti kita adalah temasuk bagian dari mereka, contoh : memakai celana Jeans.
  • Untuk masalah menunda waktu sholat, Seseorang berdosa jika menunda shalat apalagi sampai melewatkan waktu sholat

Sekarang saya sudah semester 4, saya merasa mengalami perubahan yang sangat signifikan, walaupun tidak sepenuhnya. Saya sudah berpenampilan sebagaimana muslimah sebenanrnya, disamping karena lingkungan STAIL yang islami juga karena hati saya yang sedikit-sedikti mulai terbuka, teman kuliah pun begitu bersahabat dan baik hati. Saya juga berusaha menjaga hijab, mencoba santun, belajar lemah lembut dan yang paling penting banyak ilmu agama yang baru saya ketahui dan yang terpenting saya juga berusaha sholat On time. Semoga akan semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya, Amin.

“STAIL Hidayatullah Surabaya Kampusku memang kecil tapi membuat perubahan besar untukku menjadi lebih baik”

 

“Aku membencimu Ibu…” (part I)


Bunda….

Salahkah aku  ketika  tak mengenalmu?

Bunda….

Salahkah aku jika ku tak inginkanmu?

Bunda….

Dosakah aku jika aku membencimu?

Bunda…..

Marahkah Tuhan  jika ku tak ingin dilahirkan olehmu?

 

Begitulah  tulisan tangan Asih diatas kertas coklat kusam tak bergaris yang menempel di dinding. sudah 4 hari  remaja putri yang baru duduk di kelas 2 SMA ini terdiam tanpa kata, hanya tangis dan penyesalan yang terukir di paras cantiknya. Kusam, lesu nampak lunglai. Sesekali ia berkata “kenapa? Kenapa harus aku?” ia pun terdiam kembali.

*************************************************************************************************************************************

“mbok yo makan toh nduk… ibu tahu perasaanmu, jangan bikin ibu khawatir melihat kondisimu seperti ini nduk…” tutur ibu asih pada anak yang ia besarkan sejak bayi itu.

“kenapa harus aku toh bu? Kenapa? Sudah, ibu jangan urusin asih, biar asih mati saja, asih gak sudi punya ibu seperti dia bu”, jawab asih dengan  isakan tangis duduk bersandar sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kearah pahanya.

“sudah nduk… sudah.. sudah, ibu ikhlas merawatmu sejak kecil, tapi bu ratmi juga ibu kandungmu. Kamu gak boleh seperti itu nduk” teriak ibu  asih disertai tangis sambil memegang wajah asih dan mengusap mata asih yang lebam karena tangisan.

Asih memang tampak letih dan lemah karena setetes air dan sebutir nasipun tak masuk keperutnya. Layaknya gadis remaja yang depresi berat, rambut lurusnya yang hitam dan lebat menjadi kaku dan penuh debu. wajahnya yang putih nan ayu, Nampak kusam tak terawat. Semua ini lantaran asih tak kuasa menahan kecewa setelah ia tahu bahwa ibu Ida yang membesarkannya selama ini bukanlah ibu kandungnya.

Ibu Ida pun sadar bahwa kesedihan dan keperpurukan anaknya itu sangat beralasan. semua Keterpurukan dan kesedihan asih itu bermula ketika seorang ibu datang kerumah Asih, dan semua ini menyangkut asal-usul masa kecil putrinya.

*************************************************************************************************************************************

Suatu ketika ibu Ida yang sedang asyik memasak untuk putri kesayangannya, tiba-tiba terdengar olehnya suara ketukan pintu. dengan rasa penasaran ibu Ida bergegas membukakan pintu rumahnya. terlihat oleh Ibu Ida  seorang tamu wanita paruh baya. Wajah itu tak asing memang  namun Ibu Ida tak percaya dan berkali-kali mengerutkan kening dan mngecilkan mata untuk memastikan kembali apakah wanita paruh baya berdandan nyentrik yang berdiri didepannya itu dikenalnhya.

“Assalamualaikum dek Ida, ini aku ratmi… masih ingat sampean sama aku?” sapa wanita itu pada ibu asuh Asih.

“wlkmsalam.. owalah… sampean toh mbk yu… ayo monggo masuk” jawab ibu asih singkat. Masuklah keduanya, bertanya besar dalam hati bu Ida, apa yang hendak dilakukan ibu ratmi. bingung dan cemas melanda ibu Ida menerima kehadiran ibu ratmi kerumahnya, karena ibu Ida tahu siapa ibu ratmi sebenarnya. hal ini membuatnya teringat kejadian 15 tahun yang lalu.

***** bu ratmi adalah ibu kandung asih yang tak pernah terlihat sejak 15 tahun silam. Bu ratmi menghilang begitu saja setelah ia melahirkan dan mencoba membuang asih di sungai beraliran deras di belakang rumah, hal ini dilakukan karena ibu ratmi malu menerima kehadiran bayi yang dilahirkannya akibat hubungan seksual yang yang kerap kali ia lakoni sebagai pekerjaanya (PSK). Melihat hal yang tidak seharusnya dilakukan ibu ratmi itu, ibu Ida pun bergegas mencegahnya, dan meminta agar Ia merawat dan membesarkan bayi yang hendak dibuang bu ratmi. Kejadian inilah yang tidak pernah  diketahui oleh asih , hingga kini ia hanya tahu ibu yang melahikran dan membesarkanya adalah ibu Ida.*****

Obrolan-obrolan singkat menjadi perbincangan awal dari pertemuan mereka, tak luput pertanyaan yang ditakutkan bu Ida pun muncul juga. “bagaimana kabar bayi yang dulu ku lahirkan dek Ida? Apa ia baik-baik saja? aku menyesal  telah mengabaikanya, di hari-hari ku yang semakin tua, aku butuh seseorang yang peduli padaku” keluhnya sambil memegang tangan bu Ida.  “Alhamdulillah baik mbakyu, kini ia sudah menjadi remaja putri yang manis, seharusnya mbak yu menyesal sejak dulu, penyesalan mbak yu tidak berarti karena belum tentu anak mbakyu bisa menerima mbak yu nantinya”.  Perbincangan keduanya pun terus berlanjut hingga bu Ida tak sadar waktu sudah menunjukkan jam kepulangan asih dari sekolah.

***********************************************************************************************************************************

Tepat pkl. 13.20 asih pun melangkahkan kakinya dengan penuh semangat. Semangat asih bergejolak lantaran ibunya berjanji memasak makanan kesukaanya. Tinggal beberapa langkah lagi asih sampai dirumahnya, tapi sejenak ia terhenti seketika ia mendengar percakapan yang sering menyebut-nyebut namanya. Didekatnya lagi ke arah pintu rumahnya yang tertutup, Ia pun dibuat penasaran akan hal ini, hingga terdengar olehnya “saya ingin asih anak saya kembali pada saya dek, saya menyesal telah membuangnya dulu”. Seketika itu pula ia langsung tersentak, dan tak kuasa menahan dirinya untuk masuk kedalam dan memastikan siapa yang berkata demikian  itu. (bersambung…)

by : Sri Hartatik