Persatuan Islam (PERSIS)


  1. A.    Latar Belakang Tujuan Pendirian PERSIS

Keberadaan penjajah Belanda di Indonesia telah melahirkan semangat persatuan dan keberagamaan umat Islam. Sebab, kedatangan penjajah ke bumi Nusantara telah membawa sejumlah peradaban baru yang sebagian di antaranya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, tingkat keberagamaan umat Islam juga mulai bercampur dengan kebiasaan dan tradisi yang menurut beberapa tokoh tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya sejumlah organisasi keislaman di bumi Nusantara. Hingga saat ini, tercatat cukup banyak organisasi Islam di Indonesia. Salah satunya adalah Persatuan Islam (Persis).

Tampilnya jam’iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral.

Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan di kota Bandung pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, Kelompok tadarusan yang berjumlah sekitar 20 orang itu menelaah, mengkaji, dan menguji ajaran-ajaran Islam yang berkembang di tengah masyarakat.

Kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis), Ide terbentuknya Organisasi Islam ini bermula dari seorang alumnus Dâr al-‘Ulûm Mekkah bernama H. Zamzam yang sejak tahun 1910-1912 menjadi guru agama di sekolah agama Dâr al-Muta’alimîn yang menjadi pemimpin kelompok tadarus. Bersama teman dekatnya, H. Muhammad Yunus, seorang pedagang sukses yang sama-sama kelahiran Palembang, yang di masa mudanya memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan menguasai bahasa Arab, sehingga ia mampu autodidak melalui kitab-kitab yang jadi perhatiannya. Latar belakang pendidikan dan kultur yang sama ini, menyatukan mereka dalam diskusi-diskusi tentang keislaman. Tema diskusi biasanya mengenai beberapa masalah di sekitar gerakan keagamaan yang tengah berkembang saat itu, atau masalah agama yang dimuat dalam majalah al-Munîr terbitan Padang dan majalah al-Manâr terbitan Mesir, yang telah lama menjadi bacaan dan perhatian mereka.

Suatu ketika diskusi mereka berlangsung sesuai acara kenduri di rumah salah seorang anggota keluarga yang berasal dari Sumatera yang telah lama tinggal di Bandung. Materi diskusi itu adalah mengenai perselisihan paham keagamaan antara al-Irsyâd dan Jami’at Khair. Sejak saat itu, pertemuan-pertemuan berikutnya menjelma menjadi kelompok penelaah, semacam studi club dalam bidang keagamaan di mana para anggota kelompok tersebut dengan penuh kecintaan menelaah, mengkaji, serta menguji ajaran-ajaran yang diterimanya. Diskusi mereka juga dilakukan dengan para jama’ah shalat Jum’ah, sehingga frekuensi bertambah dan pembahasannya makin mendalam. Jumlah mereka tidak banyak hanya sekitar 12 orang hingga kemudian berkembang menjadi 20 orang. Diskusi tersebut semakin intensif dan menjadi tidak terbatas dalam persoalan keagamaan saja terutama dikhotomis tradisional-modernis Islam yang terjadi ketika itu, yang diwakili oleh Jamî’at Khair dan al-Irsyâd di Batavia, tetapi juga menyentuh pada masalah-masalah komunisme yang menyusup ke dalam Syarikat Islam (SI), dan juga usaha-usaha orang Islam yang berusaha menghadapi pengaruh komunikasi tersebut.

Maka sejak saat itu, timbulah gagasan di kalangan mereka untuk mendirikan organisasi Persatuan Islam atau nama lain yang diajukan oleh kelompok ini yaitu Permupakatan Islam, untuk mengembalikan ummat Islam kepada pimpinan al-Qur’an dan al-Sunnah. Organisasi yang didirikan di Bandung ini untuk menampung kaum muda maupun kaum tua, yang memiliki perhatian pada masalah-masalah agama. Kegiatan utamanya adalah diskusi. Setiap anggota dapat mengajukan masalah keagamaan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Di awal tahun 1926, Persatuan Islam masih belum menampakan sebagai organisasi pembaharu, karena di dalamnya masih bergabung kaum muda dan kaum tua. Yang penting setiap anggota saling mendorong untuk lebih mendalami Islam secara umum sebagai agama yang dibawa nabi terakhir, Muhammad SAW. Namun dari segi penamaan, organisasi ini sejak awal memang sudah bersifat liberal. Betapa tidak, nama Persatuan Islam yang disingkat PERSIS adalah nama Latin, yang dianggap sebagai pengaruh penjajah Belanda. Apalagi sakralitas dan pengidentikan Islam dengan Arab sangat kuat di kalangan umat Islam ketika itu. Artinya mereka siap menerima risiko dan mempertahankan pendirian serta keyakinan yang mereka miliki, atas pemberian nama latin tersebut. Padahal organisasi yang lebih dulu muncul seperti Jamî’at Khair, Muhammadiyah, dan al-Irsyâd, menggunakan nama dan bahasa Arab.

Dari segi ini, Persatuan Islam menghendaki apa yang seharusnya disakralkan dan apa yang tidak seharusnya disakralkan oleh umat Islam. Karena penilaian terhadap sesuatu yang bersifat sakral itu berkaitan erat dengan kualitas ketauhidan dan bahkan pula berkaitan dengan wawasan keislaman yang dimiliki. Jika setiap berbahasa Arab identik dengan Islam, disitu wawasan keislaman yang dimiliki seseorang adalah tergolong awam. Hal itu terbukti kemudian Persatuan Islam menjelma menjadi organisasi yang paling ekstrim dan liberal dibandingkan dengan Muhammadiyah dan al-Irsyâd dalam melakukan penentangan terhadap tradisi-tradisi yang dianggap merupakan ajaran agama Islam, melalui konsep bid’ah, khurafat dan takhayul.

Nama  PERSIS sendiri diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat Ali Imran, Ayat 103 :

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”

Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang berbunyi : “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.

  1. B.     Tujuan PERSIS

PERSIS merupakan gerakan “Reformasi” Islam yang di di bangun oleh tokoh-tokoh Intelektual untuk mempengaruhi masyarakat Islam agar melakukan pembaharuan. Seperti yang sudah diketahui bahwa PERSIS adalah salah satu gerakan pemurnian Islam, yang bertujuan dasar untuk :

  • Memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam, Mengembalikan ajaran Islam sebenarnya yang mengacu pada Al-Qur’an dan As-sunnah.
  • Terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
  1. C.    Konsep-konsep Pengkaderan

Adapun konsep-konsep pengkaderan yang digunakan oleh jamaah persatuan islam ini secara otomatis melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah atau pesantren. Ada beberapa konsep pengkaderan yang dijalankan PERSIS, yakni diantaranya memberikan wadah organisasi bagi para pemuda PERSIS agar tercipta kader yang unggul, diantara lembaga tarbiyah dan organisasi pemuda PERSIS yakni;

  1. Pesantren PERSIS, merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh PERSIS yang bergerak di bidang dakwah agar tercipta kader-kader PERSIS yang selalu bertakwa kepada Allah SWT dan berwawasan luas. Diantara wilayah  pondok pesantren PERSIS di Indonesia adalah; Pondok Psantren PERSIS Bangil, Pesantren Putri Bangil, Pondok pesantren PERSIS di Bogor, Tasikmalaya, dsb. Adapun di lembaga pendidikan PERSIS menerapkan beberapa system pendidikan, diantaranya; roudlatul Athfal 2 tahun (TK), ibtidaiyyah 6 tahun (SD), tsanawiyah 3 tahun (SMP), diniyyah ‘ula 6 tahun (program murni Islam tanpa ujian Negara), pesantren Aliyah 3 tahun (SMA), Pesantren luhur 4-5 tahun.
  2. STAI PERSIS Bandung, merupakan lembaga pendidikan bagi lulusan Aliyah/SMA sederajat untuk mencetak kader yang kritis dan sebagai pengembang dakwah. Ada dua jurusan didalamnya yakni dakwah dan tarbiyah.
  3. Pemuda Persatuan Islam (PEPERSIS), merupakan organisasi pemuda persis dengan tujuan mencetak kader pemimpin umat yang memahami, mengamalkan dan menda’wahkan aqidah, syari’ah, dan akhlaq Islam berdasarkan Al Quran dan As Sunnah dalam segala ruang dan waktu.

 

  1. D.    Kepemimpinan Persatuan Islam

Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya. Kelahiran PERSIS memberikan kekuatan dalam perssatuan Islam di Indonesia untuk melawan kekejaman penjajah pada waktu itu.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).

Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.

Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.

 

  1. E.     Metode Dakwah

Aktivitas utama PERSIS adalah dalam bidang dakwah, pendidikan, dan social kemasyarakatan. Melalui peran ini, PERSIS ingin berperan akif dalam memberikan kontribusi untuk meluruskan pemahaman umat Islam yang keliru terhadap agamanya. Ada dua agenda besar yang ingin di capai PERSIS, yakni memurnikan akidah umat (Islah al Aqidah) dan meluruskan ibdah umat (Islah al ibadah).

Untuk memperkuat visi dan misi PERSIS, maka dibentuklah sejumlah badan otonom dakwah seperti:

  1. Metode dakwah Online Yasalunaka,  diskusi tentang persoalan keagamaan.
  2. Metode media cetak (Majalah, buku, website, blog, dll)
  3. Pengajian umum
  4. Memlihara hubungan baik dengan segenap organisasi Islam
  5. Diskusi dan dialog

Persatuan Islam sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, saat ini telah memiliki sekita 215 pondok pesantren, 400 masjid, serta sejumlah lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan itu semua tersebar di seluruh Indinesia guna memperluas dakwah PERSIS.

Selain itu persis juga memakai media cetak dan online sebagai media dakwah, diantaranya:

  1. Majalah Pembela Islam (1929)
  2. Al-Fatwa (1931)
  3. Al-Lisan (1935)
  4. At-taqwa (1937)
  5. Al-hikam (1939)
  6. Aliran Islam (1948)
  7. Mahajalh SUnda Iber (1967)
  8. F.     Program-Program PERSIS

Adapun program-program PERSIS yang masih berjalan ialah:

  1. Tarbiyah, adalah program dimana dalam kajian tersebut membahas segala aspek tarbiyah jamaah persatuan islam. Adapun badan otonom dibawah bidang tarbiyah adalah Persistri, Pemuda persis, pemudi persis, HIMA persis dan HIMI persis.
  2. Jam’iyah, adalah merupakan program silahturahmi jamaah persis satu dengan yang lain.  
  3. Hisab dan Rukyat, penentuan keputusan ramadhan dan syawal
  4. Yasalunaka, adalah merupakan kajian yang melayani atau menjawab pertanyaan dari kaum muslimin yang disharekan di situ resmi persatuan islam (pertanyaan –pertanyaan seputar islam)
  5. JITU (Pengajian Sabtu)
  6. PEPERSIS
  7. HIMA PERSIS
  8. HIMI PERSIS
  9. Persatuan Islam Istri (PERSITRI), merupakan badan otonom yang diberikan kewenangan untuk kegiatan dakwah dengan kegiatan kajian Islam yang di bentuk oleh para ibu-ibu PERSIS.
  10. Persis menyelenggarakan bimbingan jamaah haji dan umrah dalam kelompok Qornul Manazil, mendirikan beberapa bank Islam skala kecil ( Bank Perkreditan Rakyat / BPR ), mengembangkan perguruan tinggi, mendirikan rumah yatim dan rumah sakit Islam, membangun masjid, seminar, serta lainnya.

 PERSIS 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/31/sejarah-persatuan-islam/

http://pwkpersis.wordpress.com/news/

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/pustaka/yasalunaka

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/berita/berita-tarbiyah

http://www.persatuanislam.or.id/home/front/view/berita/berita-jamiyyah

http://abdaz.wordpress.com/ormas-islam/persatuan-islam-persis/

Dra Harun asrohah. M.Ag. sejarah Pendidikan Islam Jakarta: Logos wacana ilmu, 2001

Drs. Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,1999

M. Ali Hasan, Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidkan Agama Islam, Jakarta: Pedoman ilmu jaya,2003

Chodijah, Siti, Alumni PP PERSIS Bangil, Surabaya, 05 Desember’12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASA 3 KERAJAAN BESAR ISLAM


  BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Runtuhnya khalifah Abbasiyah di Baghdad serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilyah kekukasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan Saling memerangai. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.

Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yakni : Usmani di Turki, Mughal di India, dan Syafawi di Persia. Kerajaan Usmani, disamping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Usmani?
  2. Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Mughal?
  3. Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Syafawi?

C. TUJUAN PEMBAHASAN

  1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah tentang Kerajaan Usmani
  2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah tentang Kerajaan Mughal
  3. Untuk mengetahui bagaimana sejarah tentang Kerajaan Syafawi

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

MASA TIGA KERAJAAN BESAR (1500 – 1800 M)

A. KERAJAAN USMANI                             

1. Asal-usul Dinasti Usmani

Awal mula adanya dinasti Usmani yakni suku bangsa pengembara Qoyigh Oghuz, salah satu anak suku Turki yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, yang dipimpin oleh Sulaiman.  Dibawah tekanan mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri kedaerah barat dan mencari tempat tinggal pengungsian di tengah-tengah saudara mereka, orang-orang turki seljuk di dataran tinggi tinggi Asia kecil.[1]Tatkala Dinasti Saljuk berperang melawan Romawi Timur (Bizantium), Ertogrol ibn Sulaiman membantunya sehingga Dinasti Saljuk mengalami kemenangan.[2] Atas jasa baik itu, Sultan Alaudin II (Sultan Dinasti Saljuk saat itu) menghadiahkan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibukota.[3]

Ertoghrol meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh Usman, putranya. Usman memerintah antara tahun 1290 – 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa.

Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alaudin terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman-pun menyatakan kemerdekannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang disebut Usman I.[4]

Dinasti Usmani berkuasa kurang lebih selama tujuh abad. Adapun sultan-sultannya  adalah sebagai berikut :[5]

No.

Nama

Lahir / Meninggal

Tahun Memerintah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

Usman I

Orkhan

Murad I

Bayazid I

Muhammad I

Murad II

Muhammad II

Bayazid II

Salim I

Sulaiman I

Salim II

Murad III

Muhammad III

Ahmad I

Mustafa I

Usman II

Mustafa I

Murad IV

Ibrahim

Muhammad IV

Sulaiman II

Ahmad II

Mustafa II

Ahmad III

Mahmud I

Usman III

Mustafa III

Abdul Hamid I

Salim III

Mustafa IV

Mahmud II

Abdul Majid

Abdul Aziz

Abdul Hamid II

Muhammad V Muhammad VI

1258 – 1323/1324

1288 – 1359

1326 – Juni 1389

1360 – 8 Maret 1403

1379/1389 – 26 Mei 1403

1403/1404 – 3 Feb 1451

30 Mar 1432 – 3 Mei 1481

1447/1448 – 26 Mei 1512

1466/1467 – 22 Sep 1520

6 Nop1494 – 5 Sept 1566

30 Mei 1524 – 13 Des 1574

4 Juli 1546 – 14 Jan 1595

26 Mei 1566 – 22 Des 1617

18 Apr 1590 – 22 Nop 1617

1592 – 20 Jan 1639

3 Nov 1604 – 20 Mei 1622

1592 – 20 Jan 1639

27 Juli 1612 – 9 Feb 1640

4 Nov 1615 – 18 Agust 1648

2 Jan 1642 – 6 Jan 1693

15 Apr 1642 – 23 Jun 1691

1 Agust 1642 – 8 Feb 1693

5 Juni 1664 – 29 Des 1703

12 Des 1673 – Juni 1737

2 Agust 1696 – 14 Des 1754

2 Jan 1699 – 30 Okt 1757

28 Jan 1717 – 21 Jan 1774

20 Mar 1725 – 7 Apr 1789

24 Des 1761 – 29 Juli 1808

8 Sep 1774 – 16 Nov 1808

20 Juli 1785 – 1 Juli 1839

23 Apr 1823 – 24 Juni 1861

9 Feb 1830 – 4 Juni 1874

22 Sept 1842 – 10 Feb 1918

3 Nov 1844 – 2 Juli 1918

2 Feb 1861 – 15 Mei 1926

1300 – 1326

1326 – 1359

1359 – 1389

1389 – 1403

1402 – 1421

1421 – 1451

1451 – 1481

1481 – 1512

1512 – 1520

1520 – 1566

1566 – 1574

1574 – 1595

1595 – 1603

1603 – 1617

1617 – 1618

1618 – 1622

1622 – 1623

1623 – 1640

1640 – 1648

1648 – 1687

1687 – 1691

1691 – 1695

1695 – 1703

1703 – 1730

1730 – 1754

1754 – 1757

1757 – 1773

1773 – 1789

1789 – 1807

1807 – 1808

1808 – 1839

1839 – 1861

1861 – 1876

1876 – 1909

1909 – 1918

1918 – 1823

2. Perluasan Wilayah

Pada saat masa kepemimpan Usman I, Ia mengumumkan diri sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Binzatium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, lalu dijadikan sebagai ibukota kerajaan pada tahun 1326 M.

Pada massa Orkhan, pembentukan pasukan tangguh/pasukan baru yang dikenal Inkhisyariyah (Janissary). Pasukan Inkhisyariyah adalah tentara Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armeria yang baru masuk Islam. Pada masa Orkhan, ia berhasil menaklukan Izmi (Asia kecil), san Ankara dan Galipoli (daerah dibagian benua Eropa yang pertama kali di duduki kerajaan Usmani).[6]

Ketika Murod I, pengganti Orkhan berkuasa (761 H/1359 M – 789H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Andrianopel (kemudian dijadikan ibukota kerajaan yang baru), Macedona, Sopia, Saloia dan seluruh wilayah utara Yunani. Merasa cemas terhadap ekspansi kerajaan Usmani tersebut, Paus mengobarkan semangat perang. Pasukan Eropa yang dipimpin Sijisman Raja Horgaria disiapkan, namun Sultan Bayazid I (1389 – 1043M) pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut.5

Pada tahun 1402, Dinasti Usmani di bawah pemerintahan Bayazid I digempur oleh pasukan Timur Lenk (Penguasa Mongol) yang jumlahnya tidak kurang dari 800.000.- orang, sementara pasukan Bayazid I 120.000,- orang. Dalam pertempuran itu Bayazid kalah dan ditawan bersama putranya Musa, kemudian tewas dalam penjara berikut sejumlah besar pasukannya. Akibat kekalahan itu wilayah Usmani hampir seluruhnya jatuh ke tangan Timur Lenk. Kekalahan tersebut menyebabkan perpecahan diantara putra-putra Bayazid I untuk merebutkan kekuasaan (Muhammad I/Elebi, Isa, Sulaiman). Muhammad I mencoba keras  membangaun kekuatan kembali. Usahanya ialah untuk mengembalikan kekuasaan yang hilang selama pendudukan Timur Lenk.

Tahun 1421 Muhammad I digantikan oleh Murad II. Ekspansi pada masa Murad II diteruskan sampai ke wilayah Venesia, Salonika dan Horgaria. Pemerintahan berlanjut pada kepemimpinan Muhammad II, pada masa inilah puncak ekspansi terjadi, sehingga Muhammad II dikenal dengan gelar al-Fatih (Sang Penakluk). Kota penting yang ditaklukkan adalah Constatinopel (1453) ibukota Romawi Timur, yang namanya diubah menjadi Istanbul (Tahta Islam). Hal ini menyebabkan mudahnya tentara Usmani menaklukkan wilayah Serbia, Albaria, dan Horgania.

Faktor penyebab kesuksesan Dinasti Usmani dalam perluasan wilayah Islam[7], yaitu:

  1. Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghonimah (harta rampasan perang).
  2. Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana
  3. Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam
  4. Letak Istanbul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan
  5. Kondisi kerajaan-kerajaan disekitarnya yang kacau

3. Hasil Peradaban

Bidang Militer dan Pemerintahan

1)      Kekuatan militer yang kuat dengan terbentuknya pasukan Inkisyariyah pada masa pemerintahan Orkhan, kelompok militer Thaujiah yaitu tentara kaum Feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Angkatan laut-pun dibentuk karena punya peranan besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani.

2)      Dalam mengelola wilayah yang luas, sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr al-Azm (Perdana menteri) yang membawahi pasya (Guberbur). Di bawahnya terdapat beberapa oarang al-Zanaziq/al-Alawiyah (Bupati).

Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya

1)      Dalam bidang  intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan  terkemuka dari Turki Usmani, karena mereka lebih mementingkan bidang kemiliteran. Namun demikian mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah seperti Masjid al-Muhammadi (Masjid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih), Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub al-Anshari. Aya Sophia merupakan masjid yang terkenal karena keindahan kaligrafinya yang asalnya adalah gereja kristen.[8]

2)      Dalam bidang pendidikan, dinasti Usmani mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah Usmani pertama didirikan di Izmir (1331) dengan mendatangkan Ulama dari Iran dan Mesir dibeberapa wilayah teritorial yang baru. Madrasah tingkat terendah mengajarkan nahwu (tata bahasa Arab) dan Sharaf (Sintaksis), Manthiq (Logika), Teologi, astronomi, Geometri, dan Retorika. Perguruan tingkatan tertinggi mengajarkan Hukum dan Teologi.[9]

Bidang keagamaan

Agama mempunyai peranan penting dalam tradisi masyarakat turki, dalam pemerintahanpun kerajaan sangat terikat dengan syariat. Beberapa kemajuan di bidang keagamaan turki usmani yakni :

1)      Ulama juga berperan penting di bidang pemerintahan dan politik serta perluasan wilayah kekuasaan. Islam di benua Eropa.

2)      Berkembangnya tarekat islam yang banyak di ikuti oleh masyarakt sipil serta militer.[10]

 

B. KERAJAAN SYAFAWI

1. Asal-usul Kerajaan Syafawi

Kerajaan Syafawi berdiri sejak 1503-1722 M.[11] Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil sebuah kota di Azerbaijan, tarekat ini beraliran Syiah yang taat dari keturunan imam ketujuhnya, yaitu Musa al-Kazim. Tarekat ini diberi nama tarekat Syafawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan kerajaan Usmani. Nama Syafawiyah diambil dari nama pendirinya, Syafi al-Din[12] (1252-1334) dan nama Syafawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.[13] Berikut silsilah raja-raja kerajaan Syafawi:[14]

Safi al-Din (1252-1334 M)

Sadar al-Din Musa (1334-1339 M)

Khawaja Ali (1339-1427 M)

Ibrahim (1427-1447 M)

Juneid (1447-1460 M)

Haidar (1460-1494 M)

Ali (1494-1501 M)

(1)                                   (2)                             (3)                                   (4)

Ismail I                      Tahmasp I                    Ismail II           Muhammad Khudabanda

(1501-1524      (1524-1576 M)            (1576-1577 M)            (1577-1588 M)

(5)                                  (6)                             (7)                                   (8)

Abas I                       Syafi Mirza                  Abbas II                     Sulaiman

(1588-1628 M)            (1628-1642 M)            (1642-1667 M)            (1667-1694  M)

(9)                                          (10)                                             (11)

Husein                                 Tahmasp II                                 Abbas III

(1694-1722  M)                       (1722-1732  M)                       (1732-1736 M)

Dinasti syafawi mengalami perkembangan politik konrit pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M) kemudian dinasti syafawi meperluas gerakannya dengan menambahakan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan, sehingga perluasan kegiatan ini menimbulakn konflik antara Juneid dengan penguasa koro koyunlu (domba hitam) yakni salah satu pemimpin suku turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut Juneid kalah saingan kemudian diasingkan kesuatu tempat.

Ditempat pengasingan Juneid mendapat perlidungan dari penguasa Dyar Bakr, Ak-koyunlu (Domba Putih), juga suku turki. Haidar tinggal di Istana yakni Uzun Hasan yang pada saat itu   menguasai sebagian Persia.[15]

Dalam pengasingan Juneid tidak tingggal diam malah ia mampu menghimpun kekuatan politik dengan Uzun Hasan. Juneid menikah dengan salah satu putri dari Uzun Hasan. Pada tahun 1460 M, Juneid terbunuh  dalam peperangan merebut wilayah Sircassia namun tentaranya dihadang oleh tentara Sirwan.[16] Ketika Juneid dibunuh anak Junedi bernama Haidar masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat saat Haidar menikahi putri Uzun Hasan secara Resmi dinasti Syafawi diserahkan pada Haidar pada tahun 1470 M. Dari perkawinan ini lahirlah Ali sebagai pengganti Haidar sebelum adiknya Ismail yang kemudian secara resmi menjadi pendiri  Kerajaan Syafawi di Persia.[17]

2. Perluasan Wilayah

Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash(Baret Merah) menyerang dan mengalahkan Ak-Koyunlu di Sharur, dekat bnakhchiran. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menakhlukkan Tabriz, Ibu Kota Ak-Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama Dinasti Syafawi. Ia disebut juga Ismail I.

Ismail I berkuasa sekitar 23 tahun (1501-1524). Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Ak-Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1505-1507M) Baghdad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).

 

3. Hasil Peradaban

Bidang Ekonomi

Stabilitas politik kerajaan Syafawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Syafawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandara Abbas. Di samping sektor perdagangan, kerajaan Syafawi juga mengalami kemajuan di sekitar pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur.

Bidang Ilmu Pengetahuan

Dalam sejarah Islam bangsa Persia di kenal sebagai bangsa yang beradaban tinggi dan berjasa  megembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan Syafawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut. Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis Istora:

1)      Baha al-Din al-Syerazi generalis ilmu pengetahuan

2)      Sadr al-Din al-Syerazi seoranga filosof

3)      Muhammad Baqir ibn Muhammad Damad seorang filsof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah.

Bidang pembangunan Fisik dan Seni

Pada bidang pembangunan fisik yakni dibangunnya Isfahan sebagai ibukota kerajaan menjadi kota yang sangat indah dengan taman-taman wisata yang sangat menarik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 Masjid, 48 Akademi, 1802 Penginapan, dan 273 Pemandian umum. Pada bidang seni, kemajuan nampak begitu terlihat dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada Masjid Syah (1611 M), dan Masjid Syaikh Lutf Allah (1603 M).19

C. KERAJAAN MUGHAL

1. Asal-usul Kerajaan Mughal

Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur (1526 – 1530 M). Secara Geneologis Babur merupakan cucu Timur Lenk (dari pihak ayah) dan keturunan Jengis Khan (dari pihak ibu). Ekspansinya ke India dimulai dengan menundukkan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan bantuan Alam Khan (paman Lodi) dan gubernurLahore. Tahun 1525 M ia berhasil menguasai punjab dan meneruskannya ke Delhi tahun 1526 M. Sejak saat itu babur dapat menguasai India dan mendirikan dinasti Mughal yang beribukota di Delhi.[18] Kerajaan Mughal mulai berkuasa sejak 1526 sampai 1707 M. kerajaan ini memiliki sultan-sultan yang besar dan terkenal pada abad ke-17 yaitu Akbar (1556 – 1606 M), Jengahir (1605 –1627 M), dengan permaisurinya Nur Janah, Syah jehan (1628 – 1658 M), dan Aurengzeb (1659 – 1707 M).

2. Perluasan Wilayah

Penguasa Mughal setelah Babur adalah Nashirudin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun (1530 – 1540 dan 1555 – 1556 M), putranya sendiri. Sepanjang pemerintahannya kondisi negera tidak stabil, karena banyak terjdi perlawanan dari musuh-musuhnya. Kekuasaan Humayun dilanjutkan oleh anaknya, Akbar Khan. Gelarnya Sultan Abdul Fath Jalaludin Akbar Khan. Sewaktu naik tahta berumur 5 tahun dan memerintah India selama 50 tahun (1556 – 1605 M). Karena usianya masih muda, pemerintahan diserahkan kepada Bairam Khan. Masa pemerintahan Akbar penuh dengan ekspansi, sehingga wilayah dinasti Mughal semakin luas. Daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan adalah Chundar, Ghand, Khashmir, Chitar, Behar, Gujarat, Orissa, Deccan, Gawilganj, Ahmad Nagar dan Ashgar.

Penguasa Mughal ketiga adalah Jahangir, putra Akbar (1605 –1628 M). Jahangir adalah penganut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sehingga Din –i-Ilahi yang dibentuk ayahnya menjadi hilang pengaruhnya. Pemerintahan Jahangir juga diwarnai dengan pemberontakan di Ambar yang tidak mampu dipadamkan.

Penguasa selanjutnya adalah Shah Jehar, putra Jahangir (1627 –1658 M). pemerintahannya diwarnai dengan timbulnya pemberontakan dan perselisihan di kalangan keluarganya sendiri.

Aurangzeb menjadi penguasa Mughal setelah berhasil memenangkan perang saudara. Masa pemerintahannya berlangsung mulai tahun 1658 – 1707 M. Dia bergelar Alamgir padshah Ghazi. Di akhir pemerintahannya dia berhasil menguasai Deccar, Bangla, dan Aud. Aurangzeb adalah penguasa Mughal pertama yang membalik kebijakan konsiliasi dengan Hindu. Diantara kebijakannya adalah melarang minuman keras, perjudian, prostitusi, penggunaan narkotika (1659 M).

Tindakan Aurangzeb tersebut menyulut kemurahannya orangorang Hindu. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan pemberontakan di masanya. Namun karena Aurangzeb sangat kuat, pemberontakan itu pun dapat dipadamkan. Meskipun pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, tetapi tidak sepenuhnya tuntas. Hal ini terbukti ketika Aurangzeb meninggal (1118 H/1707 M) banyak propinsi-propinsi yang letaknya jauh dari pusat kerajaan memisahkan diri.

Penguasa-penguasa Mughal setelah Aurangzeb tidak berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mughal. Masa pemerintahan yang pendek dan banyaknya pemberontakan serta lemahnya kekuatan menjadi faktor penyebab kemunduran Mughal. Penguasa-penguasa Mugahal sesudah Aurangzeb antara lain: Bahadur Syah (1707 – 1712 M), Jhandar Shah (1712 – 1713 M), Azim-us Shah (1713 M), Farukh Syiyar (1713 – 1719 M), Muhammad Syah (1719 – 1748 M).

3. Hasil Peradaban

Bidang Pemerintahan

Sistem pemerintahan Akbar adalah militeristik. Pemerintah pusat dipegang oleh raja, sedangkan pemerintah daerah dipegang oleh Sipah Salar atau kepala komandan. Sedangkan subdistik dikepalai Faudjar atau komandan.

Bidang Keagamaan

Dalam bidang agama Akbar menciptakan Din –i-Ilahi yaitu menjadikan semua agama yang ada di India menjadi satu, tujuannya adalah stabilitas politik.

Bidang Ekonomi

Kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Di sektor pertanian, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil pertanian yang terpenting adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.

Bidang Seni

Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India. Karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan antara lain:

  1. Istana Fatpur Sikri di Sikri, Cila dan Masjid-masjid yang indah pada masa Akbar
  2. Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore pada masa Syah Jehan[19]

Bidang Ilmu Pengetahuan

Pada masa Shah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan Fatawa –i-Alamgiri.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Dinasti Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qoyigh Oghuz, beribukota di Syukud. Pada tahun 1300 M, Kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut Usman I. Dinasti Usmani berkuasa kurang lebih selama tujuh abad, dengan sekitar 36 sultan selama kekuasaannya. Pasukan Janissary bentukan Orkhan yang terkenal tangguh merupakan pasukan pertama yang berhasil menaklukkan beberapa wilayah sehingga daerah kekuasaan Usmani semakin luas. Peradaban yang dihasilkan meliputi bidang militer, pemerintahan, ilmu pengetahun dan budaya. Kemunduran Usmani dimulai ketika wafatnya sultan Sulaiman al-Qoruni tahun 1566 M.
  2. Kerajaan Syafawi berdiri sejak 1503-1722 M. Kerajaan Syafawi berasaldari sebuah gerakan tarekat Syafawiyah, yang didirikan di Ardabil. Nama Syafawiyah diambil dari nama pendirinya, Syafi al-Din. Nama Syafawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik, bahkan hingga gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan. Hasil peradaban kerajaan Syafawi meliputi bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, bagunan fisik dan seni.  Kemunduran Syafawi berturut-turut sepeninggal Abbas I.
  3. Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur (1526 – 1530 M). Dan Peradaban yang diukir oleh kerajaan Mughal yakni pada bidang ekonomi, seni, dan ilmu pengetahuan. Kemunduran Kerajaan Mughal disebabkan karena terjadi strategi dalam pembinaan kekuatan, kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-idenya, semua pewaris tahta kerajaan adalah orang yang lemah dalam kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. 1.      Ensiklopedi Islam, Jilid 4, Cet. 11. 2003, PT. Ichtiar Baru van Hoeve : Jakarta
  2. 2.      Maryam dkk, Siti. Sejarah Peradaban Islam – Dari Masa Klasik Hingga Modern. Cet. II. 2003. LESFI : Yogyakarta.
  3. 3.      Supriadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Cet. X. 2008. CV. Pustaka Setia : Bandung.
  4. 4.      Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam – Dirasah Islamiyah II. 2008. PT.Rajagrafindo Persada : Jakarta.


[1] Hasan Ibrahim Hassan , Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), hlm. 324-325.

[2] Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam – Dari Masa Klasik Hingga Modern,

Yogyakarta: LESFI, 2003. Cet. II. hal. 127-128.

[3] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Usmani, (jakarta: kalam Mulia,1988), hlm. 2.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam – Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT.

Rajagrafindo Persada, 2008. hal. 130

[5] Siti Maryam dkk, Opcit, hal. 129

[6] Ibid, hal. 130-131

[7] Ibid, hal. 130-131

[8] Badri Yatim, Opcit. hal. 134-136

[9] Siti Maryam dkk, Opcit, hal. 137

[10] Philip K. Hitti, O. Cit, hlm. 75

[11] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2008. Cet. X.

hal. 252

[12] Syekh Safiuddin Ardabeli (Ensiklopedi Islam, Jakarta, PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2003,

Jilid 4, Cet. 11. hal. 196

[13] Badri Yatim, Opcit. hal. 138

[14] Ibid. hal. 146

[15] P.M. Holt, OP cit, hlm.36

[16] Carl Brockemann, Tarikh al-Syu’ub al-Islamiyah, (beirut : Dar Al-‘ilm, 1974), jlm. 494.

[17] Ibid, hlm 495.

[18] Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam – Dari Masa Klasik Hingga Modern,

Yogyakarta: LESFI, 2003. Cet. II. hal. 184

[19] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam – Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT.

Rajagrafindo Persada, 2008. hal. 150-151

MASA ORIENTASI SISWA BARU (MOS)


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Orientasi siswa baru penting dilaksanakan karena merupakan kegiatan yang sangat strategis dalam pembinaan kesiswaan yang bertujuan mengantarkan siswa untuk beradaptasi di sekolah. Pada saat orientasi siswa baru, siswa belajar mengenal lingkungan sekolah yang baru, teman baru, guru baru, budaya belajar, tata tertib sekolah, dan lain-lain. Saat itu, siswa juga dibekali materi kepribadian, Adiwiyata, keterampilan, dan ketangkasan. Jadi, kegiatan orientasi siswa baru diharapkan dapat membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah secara cepat.
Yang perlu diperhatikan, orientasi siswa baru bukan perpeloncoan siswa baru. Panitia dan pembina orientasi siswa baru dilarang melakukan tindakan yang bersifat perpeloncoan, baik secara fisik maupun psikis. Perpeloncoan fisik antara lain pemberian hukuman atau perlakuan yang mengarah pada penganiayaan, sedangkan perpeloncoan psikis antara lain tindakan atau perintah yang dapat mempermalukan atau mempersulit peserta orientasi siswa baru. Misalnya, peserta orientasi siswa baru harus mengenakan ”atribut” tertentu, membawa ”benda” tertentu, atau mencari ”hal” tertentu yang tidak mendidik.
Oleh karena itu, makalah ini akan membahas pengaturan orientasi siswa baru, meliputi alasan dan batasan orientasi siswa baru, tujuan orientasi siswa baru, fungsi orientasi siswa baru, pengaturan hari-hari pertama sekolah, serta kegiatan yang dilaksanakan pada masa orientasi siswa baru.

I.2 Rumusan Masalah
1. Apa alasan dilaksanakannya orientasi siswa baru dan bagaimana batasannya?
2. Apa saja tujuan pelaksanaan orientasi siswa baru?
3. Apa saja fungsi pelaksanaan orientasi siswa baru?
4. Bagaimana hari-hari pertama siswa di sekolah?
5. Bagaimana pelaksanaan masa orientasi siswa baru?
I.3 Tujuan
1. Memahami alasan dilaksanakannya orientasi siswa baru dan bagaimana batasannya.
2. Mengetahui tujuan pelaksanaan orientasi siswa baru.
3. Mengetahui fungsi pelaksanaan orientasi siswa baru.
4. Memahami bagaimana hari-hari pertama siswa di sekolah.
5. Mengetahui bagaimana pelaksanaan masa orientasi siswa baru.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Alasan dan Batasan Orientasi Siswa Baru
Lingkungan sekolah siswa yang lama telah ditinggalkan dan mereka berganti dengan lingkungan sekolah yang baru dengan penghuni dan budaya baru. Oleh karena itu, siswa perlu orientasi. Dengan orientasi tersebut, siswa akan siap menghadapi lingkungan dan budaya baru di sekolah yang mungkin berbeda jauh dengan sebelumnya.
Kian tinggi jenjang lembaga pendidikan, kian berat tuntutan yang harus dipenuhi oleh siswa. Daya saing lingkungan baru tersebut relatif lebih ketat dibandingkan dengan lingkungan sebelumnya. Orientasi siswa baru diharapkan dapat mengantarkan siswa pada suasana baru yang berbeda dengan sebelumnya. Dengan demikian, siswa akan menyadari bahwa lingkungan baru di mana dia akan memasukinya, membutuhkan pikiran, tenaga, dan waktu yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan lingkungan sekolah sebelumnya.
Yang dimaksud dengan orientasi adalah perkenalan. Perkenalan ini meliputi lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Lingkungan fisik sekolah meliputi prasarana dan sarana sekolah, seperti jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tempat bermain di sekolah, lapangan olahraga, gedung dan perlengkapan sekolah, serta fasilitas-fasilitas lain yang disediakan di sekolah. Sedangkan lingkungan sosial sekolah meliputi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan selain guru, teman sebaya seangkatan, dan siswa senior di sekolah.

II.2 Tujuan Orientasi Siswa Baru
Tujuan orientasi siswa baru adalah sebagai berikut:
1. Agar siswa mengenal lebih dekat mengenai diri mereka sendiri di tengah-tengah lingkungan barunya.
2. Agar siswa mengenal lingkungan sekolah, baik lingkungan fisiknya maupun lingkungan sosialnya.
3. Pengenalan lingkungan sekolah sangat penting bagi siswa dalam hubungannya dengan:
a. Pemanfaatan semaksimal mungkin layanan yang diberikan oleh sekolah.
b. Sosialisasi diri dan pengembangan diri secara optimal.
c. Menyiapkan siswa secara fisik, mental, dan emosional agar siap menghadapi lingkungan baru sekolah.

II.3 Fungsi Orientasi Siswa Baru
1. Bagi siswa sendiri, orientasi siswa baru berfungsi sebagai:
a. Wahana untuk menyatakan dirinya dalam konteks keseluruhan lingkungan sosialnya.
b. Wahana untuk mengenal bagaimana lingkungan barunya serta siapa dan apa saja yang ada di sana sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan sikap.
2. Bagi personalia sekolah dan lembaga kependidikan, dengan mengetahui siapa siswa barunya, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam memberikan layanan-layanan yang mereka butuhkan.
3. Bagi para siswa senior, dengan adanya orientasi siswa baru, akan mengetahui lebih dalam mengenai siswa penerusnya di sekolah tersebut. Hal ini sangat penting terutama berkaitan dengan estafet kepemimpinan organisasi siswa di sekolah tersebut.

II.4 Hari-hari Pertama di Sekolah
Pada hari-hari pertama di sekolah, siswa menghadapi hal-hal yang serba baru. Karena itu, rasa ingin tahu mereka terhadap lingkungan baru tersebut sangat besar. Siapa saja guru di sekolah tersebut, siapa saja pejabat-pejabat di sekolah tersebut, bagaimana penampilan orangnya, apa yang menjadi keahlian gurunya, serta bidang studi apa yang akan diajarkan adalah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali ingin diketahui oleh siswa baru.
Para siswa baru juga seringkali tidak sabar dengan keingintahuannya tentang perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, serta berbagai jenis layanan yang didapatkan di sekolah. Hal itu wajar mengingat lingkungan baru sekolah yang lebih tinggi dibandingkan sekolah mereka sebelumnya, menimbulkan persepsi lebih bagi siswa terhadap sekolah barunya.
Tidak jarang siswa baru sebenarnya sudah mengenal sekolah tersebut melalui brosur, berita di koran, serta cerita dari teman-temannya sehingga dia ingin mengetahui kenyataan sekolah tersebut begitu dia diterima sebagai siswanya. Oleh karena itu, pada hari-hari pertama di sekolah, siswa diperkenalkan secara menyeluruh dan global mengenai sekolahnya, personalianya, jenis-jenis layanan yang dapat dimanfaatkan, dan sebagainya. Perkenalan secara menyeluruh tersebut dilakukan bersama dengan penerimaan siswa secara resmi oleh kepala sekolah.
Pada penerimaan siswa secara resmi, siswa dikumpulkan di gedung pertemuan yang dapat menampung mereka secara keseluruhan. Di depan para siswa, kepala sekolah duduk bersama guru-guru dan karyawan sekolah. Dengan demikian, pada saat mereka diperkenalkan, para siswa akan dapat melihat mereka dengan mudah.
Jika gedung pertemuan sekolah tidak cukup untuk menampung seluruh siswa, penerimaan siswa secara resmi dan perkenalan secara garis besar bisa dilaksanakan di lapangan atau halaman sekolah. Penerimaan secara resmi dapat dilakukan melalui upacara resmi di sekolah.
Pada saat penerimaan siswa secara resmi tersebut, kepala sekolah memberikan sambutan penerimaan. Isi sambutan penerimaan antara lain sejarah singkat sekolah, prestasi-prestasi yang pernah diraih sekolah, serta pernyataan penghargaan kepada siswa yang telah memilih sekolah tersebut. Selanjutnya, kepala sekolah memperkenalkan wakil kepala sekolah, guru-guru beserta keahlian dan pengalamannya, personalia sekolah dengan jenis-jenis layanan yang akan diberikan, tokoh-tokoh organisasi siswa, dan sebagainya.

II.5 Masa Orientasi Siswa Baru
Masa orientasi siswa adalah kelanjutan dari orientasi hari-hari pertama masuk sekolah. Jika pada hari-hari pertama masuk sekolah siswa diperkenalkan dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial sekolah secara global, pada masa orientasi siswa ini mereka diperkenalkan secara rinci.
Lingkungan sekolah yang diperkenalkan secara rinci tersebut adalah peraturan dan tata tertib sekolah, guru dan personalia sekolah, perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, kafetaria sekolah, bimbingan dan konseling, layanan kesehatan sekolah, layanan asrama sekolah, orientasi program studi, cara belajar yang efektif dan efisien, dan organisasi siswa.
1. Peraturan dan Tata Tertib Sekolah
Para siswa baru perlu diperkenalkan dengan tata tertib sekolah karena tata tertib sekolah mengatur perilaku siswa di sekolah. Tata tertib sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di antaranya:
a. Siswa wajib berpakaian sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh sekolah.
b. Siswa wajib memelihara dan menjaga kebersihan dan ketertiban, serta menjunjung tinggi nama baik sekolah.
c. Siswa harus hadir di sekolah paling lambat lima menit sebelum pelajaran dimulai.
d. Siswa harus siap menerima pelajaran yang telah ditetapkan sekolah.
e. Selama jam sekolah berlangsung, siswa dilarang meninggalkan sekolah tanpa izin kepala sekolah.
f. Setiap siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran harus menunjukkan keterangan yang sah.
g. Pelanggaran atas tata tertib sekolah bisa menjadi penyebab dikeluarkannya siswa dari sekolah setelah mendapat peringatan lisan, tertulis, dan skorsing sementara.
2. Guru dan Personalia Sekolah
Para siswa harus diperkenalkan kepada guru-guru dan personalia sekolah secara detail. Perkenalan ini meliputi tempat dan tanggal lahir, status, jumlah anak, alamat, latar belakang pendidikan, bidang keahlian, pengalaman, prestasi-prestasi yang pernah dicapai, dan karya-karyanya.
Perkenalan secara detail itu penting agar siswa mengetahui lebih banyak tentang gurunya dan personalia sekolah. Siswa akan mengetahui kepada guru mana dia harus menanyakan mata pelajaran yang tidak diketahuinya. Dia juga mengetahui kepada siapa mengadukan masalah yang dialaminya.
Orientasi terhadap guru dan personalia sekolah ini juga menyangkut struktur mereka dalam organisasi sekolah serta deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pemahaman mengenai struktur organisasi sekolah ini akan mengantarkan siswa pada pemahaman mengenai hubungan organisasional di sekolah. Dengan demikian, siswa dapat memanfaatkan layanan-layanan pendidikan yang disediakan sekolah.
3. Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah harus diperkenalkan kepada siswa. Yang diperkenalkan menyangkut siapa yang mengelola dan mengepalai, serta apa saja tugas dan tanggung jawab mereka. Siswa perlu diberi tahu berapa jumlah koleksi bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah, macam-macam dan jenis koleksi yang dimiliki perpustakaan, serta dari mana koleksi yang dimiliki selama ini. Siswa juga diberi tahu mengenai layanan yang diberikan oleh perpustakaan, misalnya layanan baca, layanan peminjaman, layanan pemesanan, dan layanan pengembalian.
Agar siswa dapat menggunakan perpustakaan semaksimal mungkin tanpa mengganggu penyelenggaraannya, siswa perlu diberi informasi mengenai persyaratan menjadi anggota perpustakaan, tata cara peminjaman, pemesanan, dan pengembalian buku. Siswa juga diberi penjelasan tentang tata tertib berkunjung, membaca di ruangan, peminjaman, pemesanan, pengembalian buku, serta sanksi atas pelanggarannya.
4. Laboratorium Sekolah
Layanan laboratorium perlu diperkenalkan kepada siswa baru. Siswa terlebih dahulu diperkenalkan kepada para petugas laboratorium serta tugas dan tanggung jawabnya.
Siswa juga diberi informasi mengenai macam-macam laboratorium yang dimiliki sekolah serta sarana prasarana, perlengkapan, dan fasilitas yang tersedia. Tata cara menggunakan masing-masing laboratorium, petunjuk teknisnya, serta bahaya-bahaya dari sebagian peralatan yang ada juga perlu disampaikan kepada siswa baru.

BAB III
PENUTUP

Orientasi siswa baru dilaksanakan pada awal tahun ajaran sebelum siswa menerima pelajaran. Acara orientasi biasanya diisi dengan kegiatan:
1. Perkenalan dengan guru dan staf sekolah lainnya.
2. Perkenalan dengan siswa lama.
3. Perkenalan dengan pengurus OSIS.
4. Penjelasan tentang tata tertib sekolah.
5. Penjelasan program-program sekolah.
6. Penjelasan dan peninjauan fasilitas yang ada di sekolah.
Kegiatan orientasi siswa baru dilaksanakan agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah barunya secara cepat.

Demikianlah makalah ini kami susun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Manajemen Kesiswaan (Peserta Didik). Jakarta

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2179172-ruang-lingkup-manajemen-kesiswaan/

http://osissmp247.blogspot.com/2011/06/masa-orientasi-siswa-baru.html

MAKALAH KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN


MAKALAH

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

PERAN & PERANAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

                                    Oleh         : Sri Hartatik

                                    Semester   : IV

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM

SURABAYA

2012

 

DAFTAR ISI

BAB I PERAN KEPEMIMPINAN

1.1   Pengertian Peran Kepemimpinan………………………………………………………………1

1.2   Kepemimpinan Dalam Organisasi Pendidikan……………………………………………..2

1.3   Peranan Kepemimpinan Dalam Pendidikan…………………………………………………2

BAB II MACAM-MACAM PERANAN KEPEMIMPINAN

2.1   Peran Kepemimpinan dalam  Manajemen Sumber Daya Manusia…………………4

2.2  Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan…………………………………..4

2.3   Peran Kepemimpinan dalam Membangun Tim…………………………………………….5

2.4   Peran Pembangkit Semangat……………………………………………………………………6

2.5   Peran Menyampaikan Informasi………………………………………………………………..6

BAB III PERANAN KONFLIK

3.1   Pengertian Konflik……………………………………………………………………………………7

3.2   Jenis-Jenis Konflik……………………………………………………………………………………7

3.3   Sumber Konflik………………………………………………………………………………………..8

3.4   Peranan Pemimpin Dalam Mengendalikan Konfilk……………………………………….8

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Sudah diketahui bahwa kepemimpinan dalam manajemen pendidikan sangat diperlukan didalam manajemen pendidikan karena pada dasarnya setiap instansi atau lembaga pendidikan diperlukan sebuah figur seorang pemimpin, alsan pemiliham judul didalam artikel ini adalah untuk mengetahui hakikat pemimpin, tipe-tipe dari pemimpin, dan faktor- faktor yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan didalam manajemen pendidikan. Menurut Bachtiar Surin yang dikutip oelh maman Ukas bahwa perkataan khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke Bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat”; “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi Khalifah di muka Bumi”. Menurut Bachtiar Surin yang dikutif oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu”.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum berbasis kecakapan hidup (life skill)?
    2. Apa  saja yang menjadi landasan hukum kurikulum  berbasis  kecakapan  hidup (life skill)?
    3. Apa saja jenis kurikulum berbasis kecakapan hidup (life skill)?
    4. Bagaimana Konsep dalam kurkulum berbasis kecakapan hidup (life skill)?
    5. Tujuan Masalah
    6. Memahami dam mengerti  definisi dari kurikulum berbasis kecakapan hidup (life skill).
    7. Mengetahui dasar hukum landasan kurikulumberbasis kecakapan hidup (life skill)
    8. Mengetahui jenis dan prinsip kurikulum yang berbasis kecakapan hidup (life skill).
    9. Memahami konsep / pola kurikulum berbasis kecakapan hidup (life skill).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PERAN DAN PERANAN KEPEMIMPINAN

1.1 Pengertian Peranan

Definisi Kepemimpinan (Leadership)  :

  • Proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[1]
  • Kemampuan dan keterampilanseseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi orang lain, terutama bawahannya, untuk berfikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.
    • Kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan kelompok itu yang merupakan tujuan bersama (D. Weber).
    • Hubungan kerja antara anggota-anggota kelompok dimana pemimpin memperoleh status melalui partisipasi aktif Dan dengan memperlihatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas kerjasama dengan usaha mencapai tujuan (Stogdill).
    • Perilaku dari seseorang ketika dia mengarahkan kegiatan-kegiatan dari kelompoknya ke arah pencapaian tujuan (Hemphill & Coons).
    • Cara  interaksi  dengan  orang-orang  lain  yang merupakan suatu  proses  sosial  yang  mencakup  tingkah  laku  pemimpin  yang  diangkat (Jenings)

Definisi Peranan :

  • Perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu.
  • Aspek dinamika dari status (kedudukan) apabila seseorang atau beberapa orang atau sekelompok orang atau oraganisasi yang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan jabatanya (Soerjono Soekanto)[2]

Definisi Peranan Kepemimpinan :

  • Seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang sesuai kedudukannya sebagai seorang pemimpin.

1.2 Kepemiminan Dalam Organisasi Pendidikan

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, antara lain:

  • Dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan
  • Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang
  • Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk “membaca” situasi
  • Skill dan Kemampuan tidak tumbuh begitu saja melainkan melalui pertumbuhan dan perkembangan
  • Kehidupan organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan dalam pendidikan hakikatnya melibatkan banyak stake holder yang sangat berperan penting dalam kelangsungan proses pengembangan kualitas pendidikan, diantaranya :

  1. Kepala Sekolah : Kepala Sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Kedua, Kepala Sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya.
  2. Guru : Guru adalah pemimpin  yang menentukan kondisi kenyamanan proses belajar mengajar di dalam kelas. Guru adalah pemimpin yag menciptakan siswa yang berkualitas.
  3. Orangtua / Masyarakat : Orangtua adalah motivator peserta didik untuk selalu hadir dalam proses pembelajaran.

1.3 Peranan Kepemimpinan Dalam Pendidikan

Peranan Pemimpin dalam organisasi : [3]

  • Membantu menciptakan iklim sosial yang baik
  • Membantu kelompok untuk mengorganisasikan diri
  • Membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja
  • Mengambil tanggungjawab untuk menetapkan keputusan bersama dengan kelompok
  • Memberi kesempatan pada kelompok untuk belajar dari pengalaman

Dalam organisasi pendidikan antara lain adalah sekolah, secara formal Kepala sekolah adalah Pemimpin keseluruhan, Sehingga Kepala sekolah harus memahami Fungsi kedudukan, diantaranya:

  1. Membawa perubahan yang signifikan.
  2. Menciptakan Visi dan menuangkan Misi dalam kenyataan.
    1. Menetapkan  kebijakan  dan  tujuan  yang  hendak dicapai
    2. Mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun dan menggerakkan seluruh anggota (Sumber daya) untuk mencapai tujuan yang telah disepaati bersama.[4]

Antara kepemimpinan dan manajerial tidak dapat dipisahkan. Pemimpin dalam memanage atau mengelola sekolah adalah mengatur agar seluruh potensi sekolah berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi, dan mengevaluasi, seluruh kegiatan pendidikan di sekolah. Berikut peranan Kepala Sekolah dalam tugas dan tanggungjawabnya :

  1. Mengatur proses belajar mengajar
  2. Memperkirakan  dan mengalokasikan sumber daya
  3. Mengatur administrasi Sekolah
  4. Mengatur pembinaan kemuridan/kesiswaan
  5. Mengatur hubungan dengan masyarakat

Tujuan dari tindakan peranan pemimpin sekolah adalah tercapainya tujuan organisasi yakni :

  1. Sumber daya (input)

ü  Pemilihan Kepala sekolah yang berkualitas

ü  Guru yang kompeten

ü  Peserta didik yang memenuhi standart seleksi

  1. Strategi sekarang (porses)
  2. Kinerja (output)

 

BAB II

MACAM-MACAM PERANAN KEPEMIMPINAN

2.1 Peran Pemimpin dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MMSDM)

Peranan seorang pemimpin dalam manajemen SDM adalah :

  1. Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk memperoleh hasil yang ditargetkan yang telah menjadi kesepakatan bersama.
  2. Mengembangkan dan memperbaiki sistem agar program pengembangan mutu SDM berhasil sesuai harapan.
  3. Melaksanakan beberapa hal yang benar “People who do the right thing” (karakter seorang pemimpin) dan melaksanakan sesuatu secara benar atau disebut “People who do things right” (karakter seorang manajer).
  4. Menentukan suatu elemen manajemen mutu SDM yang dibuktikan nyata dalam pelaksanaan program  untuk pencapaian tujuan.

2.2  Peran Pemimpin Dalam Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:

  1. Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif
  2. Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.
  3. Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.

Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu  proses dan gaya pengambilan keputusan[5].

ü  Proses pengambilan keputusan, dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:

  1. Identifikasi masalah
  2. Mendefinisikan masalah
  3. Memformulasikan dan mengembangkan alternative
  4. Implementasi keputusan
  5. Evaluasi keputusan

ü  Gaya pengambilan keputusan, Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi:

  1. Cara berpikir, terdiri dari:
    1. Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial
    2. Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.
    3. Toleransi terhadap ambiguitas
      1. Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas
      2. Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.

2.2 Peran Pemimpin Dalam Pembangunan Tim

Definisi Tim :

  • Tim adalah kelompok kerja yang dibentuk dengan tujuan untuk menyukseskan tujuan bersama sebuah kelompok organisasi atau masyarakat.
  • Unit kerja yang solid yang mempunyai identifikasi keanggotaan maupun kerja sama yang kuat[6].

Peranan kepemimpinan dalam tim :

  • Memperlihatkan gaya pribadi
  • Proaktif dalam sebagian hubungan
  • Mengilhami kerja tim
  • Memberikan dukungan timbal balik
  • Membuat orang terlibat dan terikat
  • Memudahkan orang lain melihat peluang dan prestasi
  • Mencari orang yang ingin unggul dan dapat bekerja secara kontruktif
  • Mendorong dan memudahkan anggota untuk bekerja
  • Mengakui prestasi anggota tim
  • Berusaha mempertahankan komitmen
  • Menempatkan nilai tinggi pada kerja tim.

2.3 Peran Pemimpin Sebagai Pembangkit Semangat

Peran pemimpin dalam pemberian semangat dapat dilakukan dengan cara :

  • Memberikan pujian dan dukungan
  • Memberikan penghargaan  berupa kata-kata dan insentif
  • Penambahan sarana kerja
  • Penambahan staf yag berkualitas
  • Perbaikan lingkungan kerja
  • Memberikan Drive/dorongan yang  akan  menghasilkan  inisiatif,  dan  menimbulkan  energi  yang tinggi dan hasrat untuk berprestasi (Motivation)
  • Menumbuhkan Self  Confidence/percaya  diri
  • Knowledge/pengetahuan, pemahaman yang penuh tentang organisasi.

2.4 Peran Menyampaikan Informasi

Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik.

Pemimpin harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.

BAB III

PERANAN KONFLIK

3.1 Pengertian Konflik

Definisi konflik :

  • Perbedaan, Pertentangan dan Perselisihan (menurut bahasa)
  • Pertentangan dalam hubungan kemanusiaan ( intrapersonal dan interpersonal ) antara satu pihak dengan pihak yang lain dalm mencapai suatu tujuan, yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan, emosi/ psikologi, dan nilai.

Komponen Konflik

  • Interest (kepentingan)
  • Emotion (emosi)
  • Values (nilai)

3.2 Jenis-jenis konflik

Jenis-jenis konflik yakni :

  1. Konflik  peranan  yang  terjadi  di  dalam  diri  seseorang  ”Personale conflict
  2. Konflik  antarperan ”Interrole  conflict
  3. Konflik  yang  timbul  karena  seseorang  harus  memenuhi  harapan beberapa  orang  ”Intersender  conflict”
  4. Konflik  yang  timbul  karena  disampaikannya  informasi  yang  saling bertentangan ”Intrasender conflict”

Konfik  tidak  selamanya menyusahkan  akan  tetapi memiliki  segi-segi  positif, seperti :

1)      Konflik Dalam :

  • Penggantian  pimpian  yang  lebih  berwibawa, penuh  ide  baru & semangat baru
  • Perubahan  tujuan  organisasi  yang  lebih mencerminkan  nilai-nilai  yang disesuaikan dengan perubahan situasi dan kondisi;
  • Pelembagaan  konflik  itu  sendiri

2)      Konflik dengan organisasi lain :

  • Lebih mempersatukan para anggota organisasi
  • Mendatangkan kehidupan baru di dalam tujuan serta nilai organisasi
  • Lebih menyadarkan para anggota terhadap strategi serta taktik lawan;
  • Sebagai suatu lembaga pengawasan.

3.3 Sumber Konflik

Sumber- sumber konflik dapat dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu :

  1. Frustasi
  2. Persaingan ( rivalitas )
  3. Struktural
  4. Budaya dan Ideologi
  5. Konvergensi (gabungan)

Beberapa sumber lain menyebutkan :

ü  Kebutuhan untuk membagi sumberdaya-sumber daya yang terbatas

ü  Perbedaan-perbedaan dalam berbagai tujuan.

ü  Saling ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja

ü  Perbedaan nilai-nilai atau persepsi

ü  Kemenduaan organisasional (ambiguous).

ü  Gaya-gaya individual

3.4 Peranan Pemimpin dalam Mengendalikan Konflik

Untuk dapat mengatasi konflik-konflik yang ada peranan pemimpi dalam hal ini yakni :

  1. Memecahkan masalah melalui sikap koopertaif
  2. Mempersatukan tujuan
  3. Menghindari konflik (Avoidance)
  4. Memperhalus konflik
  5. Kompromi (Negotation)
  6. Tidakan Otoriter
  7. Mengubah struktur individual dan struktur organisasi

Menurut Nader and Todd peran mengatasi konflik yakni :

  • Bersabar
  • Penghindaran (Avoidance)
  • Kekerasan atau paksaan (Coercion)
  • Konsiliasi (Conciliation)
  • Mediasi (Mediation)
  • Arbritasi (Arbritation)
  • Peradilan (Adjudication)

Pendekatan sebagai kontribusi peran kepemimpinan dalam mengendalikan/menyelesaikan konflik :

  • Sanggup menyampaikan pokok masalah penyebab timbulnya konflik
  • Bersedia melatih diri untuk mendengarkan dan mempelajari perbedaan
  • Sanggup mengajukan usul atau nasehat.
  • Meminimalisasi ketidakcocokan
  • Adaptasi diri (penyesuaian diri) dengan prinsip anti konflik

Seni mengelolah konflik

ü  Membuat standar-standar penilaian

ü  Menemukan masalah-masalah kontroversial dan konflik-konflik

ü  Menganlisa situasi dan mengadakan evaluasi terhadap konflik

ü  Memilih  tindakan-tindakan  yang  tepat  untuk  melakukan  koreksi  terhadap penyimpangan dan kesalahan-kesalahan

ü  Menentukan Teknik-teknik untuk menstimulir konflik  :

  • Komunikasi diputuskan atau dikacaukan
  • Mengacau struktur organisasi
  • Menempatkan  orang-orang  yang  neurotis  ringan  dan  mempunyai banyak masalah batin menjadi tenaga pemimpin.

Maka seni manajemen-konflik dengan jalan :

v  Menstimulir/merangsang konflik

v  Mengendalikan

v  Menyelesaikan  secara  sistematis  tanpa menimbulkan  banyak  korban  dan kesusahan,  merupakan  determinan  (faktor  penentu)  yang  paling  gawat-kritis bagi suksesnya pemimpin.

BAB IV

PENUTUP

Begitu kompleksnya tugas dan peran pimpinan dalam kependidikan untuk tercapainya tujuan yang harus dicapai memerlukan tanggung jawab dan sikap yang konsisten akan atasan yang berlaku dengan tidak melupakan unsur kearifan. Pemimpin harus melakukan beberapa peran untuk menunjang keberlangsungan organisasi mereka, terlebih pada organisasi pendidikan yang sangat penting bagi perkembangan kualitas SDM di Indonesia.

Demikianlah penulis akhiri makalah ini, tak lupa kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penulis harapkan dari semua pihak

DAFTAR PUSTAKA

  1. Asep Suryana, M.Pd, Kepemimpinan Dalam Pendidikan, 2010.
  2. Adair, John,  Kepemimpinan yang Memotivasi, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2008.
  3. Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Pengawasan, Kepemimpinan, Diklat, 2007.
  4. Mastuti, Fauziah, Filsafat Kepemimpinan, Makalah, Semarang, 2009.
  5. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sarana Pendidikan. Pedoman Umum Penyelenggaraan Administrasi Sekolah Menengah Jakarta; t.t.
  6. http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/04/definisi-kepemimpinanpendidikan.html
  7. Slamet, PH,  Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan, 2000.
  8. http://agungprabowo234.wordpress.com/2010/04/01/peran-kepemimpinan-di-dalam-manajemen-pendidikan/

[1] Griffin W. Ricky dan Ebert J. Ronald, Business, edisi-5 (New Jersey: Prentice Hall International Inc, 1999) h. 228.

[2] Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, PT Raja Grafindo Persada Jakart a, 1987, hal 220.

[3] Asep Suryana, M.Pd 2010, Kepemimpinan Pendidikan, hal 13

[4] Noordin (2001:23)

[5] Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 152

[6] Ibid, hal. 176

Image

MAKALAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA


KATA PENGANTAR

            Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan harapan dan waktu yang telah diberikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Irham Amin Sandani, M.Pd selaku dosen Pengantar Manajemen karena sudah memberikan kami kesempatan dan pengarahan untuk menyusun makalah ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang ikut membantu kami dalam mencari referensi dalam pembuatan materi makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat membantu dalam proses pembelajaran pada semester berikutnya dan semoga bermanfaat bagi semua yang membacanya. Kami harapkan pula agar para pembaca memperhatikan celah yang mungkin kurang sempurna dalam makalah ini sehingga kami dapat menyusun kembali yang lebih baik pada makalah berikutnya.

Surabaya, Dec 2011

                                                                                                                                     Ratna & Sri

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Rumusan Masalah

I.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Latar belakang Sosial Politik

         II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Kolonial Belanda

         II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Belanda

II.4 Kurikulum Pendidikan Zaman Belanda

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pada zaman kolonial pemerintah Belanda menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah-sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertical sehingga anak-anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan sempit.

Lahirnya suatu sistem pendidikan bukanlah hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain itu kejadian-kejadian di dunia luar, khususnya yang terjadi di Asia, mendorong dipercepatnya pengembangan sistem pendidikan yang lengkap yang akhirnya, setidaknya dalam teori, memberikan kesempatan kepada setiap anak desa yang terpencil untuk memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan hanya anak-anak yang mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.

I.2 Rumusan Masalah

  1. Apa alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia?
  2. Apa sajakah lembaga pendidikan zaman kolnial Belanda?
  3. Bagaimana sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda?
  4. Apa saja ciri umum politik pendidikan Belanda?

I.3 Tujuan Masalah

  1. Agar mengetahui alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia.
  2. Agar mengetahui faktor lembaga pendidikan zaman penjajahan Belanda.
  3. Agar mengetahui sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.
  4. Agar mengetahui ciri umum politik pendidikan Belanda.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN BELANDA

II.1 Latar belakang Sosial – Politik

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu, karena kaum colonial belanda mempunyai misi yang ganda diantaranya Imperialis dan kristenisasi.

Memang diakui bahwa belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah Islam di Indonesia. Cukup banyak peristiwa di Indonesia, baik sebagai pedangang, perorangan kemudian diorganisasikan membentuk kongsi-kongsi dagang yang diberi nama VOC, maupun sebagai aparat pemerintah yang menjajah dan berkuasa. Oleh sebab itu, wajar bila kedatangan mereka mendapat tantangan dan perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja, dan tokoh agama setempat.

Tujuan Belanda datang ke Indonesia, tidak lain adalah untuk mengembangkan usaha perdagangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal Harganya di Eropa. Perseroan Amsterdam mengirim armada kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, dibawah pimpinan Cornelis de Houtman[1].

Melihat hasil yang diperoleh Perseroan Amsterdam itu, banyak perseroan lain yang berdiri juga ingin berdagang dan berlayar ke Indonesia. pada bulan maret 1602, perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten-General Republik dengan suatu piagam yang memeberi hak khusus kepada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar, dan memegang kekuasaan dikawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon, termasuk kepulauan Nuantara. Perseroan itu yang dikenal dengan VOC ( Vereenigde Oost Indische Compagnie).

VOC sejak semula memang diberi izin oleh pemerintah Belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. oleh karena itu, VOC dibantu oleh kekuatan militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan mempunyai wilayah, mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya. Dengan perlengkapan yang lebih maju, VOC melakukan politik Ekspansi. Dengan kata lain,abad ke-17 dan 18 adalah periode ekspansi dan monopoli dalam sejarah colonial di Indonesia. menjelang abad ke-18, ekspansi wilayah ini berhasil di Jawa.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya. Beberapa contoh diantaranya :

  1. Kerajaan Malaka Islam di Sumatera Utara lebih di dominasi oleh daerah Aceh yang waktu itu berada pada maa kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Karena Aceh merupakan pelabuhan transito, yang merupakan pelabuhan dagang, Aceh mencoba melakukan Ekspansi perluasan perdagangan dan perluasan Islam dengan menguasai Jambi,  Tiku, Pariaman dan Bengkulu. Iskandar Muda wafat dalam usia 46 tahun pada 27 Desember 1636. Ia digantikan oleh Sultan Tsani, sultan ini mampu mempertahankan kebesaran Aceh. Akan tetapi setelah Ia meninggal dunia, 15 Februari 1641, Aceh berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun. Ketika itulah, Aceh mengalamai kemunduran. Daerah-daerah di Sumatera yang dulu berada dibawah kekuasaanya mulai memerdekakan diri.[2]
  2. Di Jawa pusat kerajaan Islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman, yaitu Demak ke Pajang kemudian ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah Islam di jawa, diantranya : (1) kekuasaan dan system politk didasarkan atas basis garis, (2) peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga pelayar jawa, (3) terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke-17 dengan segala akibatnya.

Kemajuan itu berubah menjadi kemunduran setelah datangnya bangsa barat. Kedatangan bangsa barat disatu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi kemajuan teknologi tersebutbukan dinikmati penduduk pribumi, melainkan tujuannya hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahanya. Jelasnya kehadiran belanda di Indonesia justru menimbulkan berbagai reaksi, yang dimulai sejak awal kedatanganya, seperti serangan Adipati Unus terhadap Portugis Malaka, Sultan Agung, Trunojoyo, Diponegoro,Perang paderi, perang Aceh, dsb.

KH. Zainuddin Zuhri menggambarkan, bahwa rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam tidak memandang orang-orang barat tersebut melainkan sebagai penakluk dan penjajah, mereka kaum Imperalis, tidak peduli mereka katolik atau protestan. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuatnya ajaran dari politikus curang dan licik Machiavelli, yang anatara lain mengajarkan :

  1. Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah / Kolonial
  2. Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukan rakyat
  3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah-belah dan agar mereka berbuat untuk  mencari bantuan kepada pemerintah
  4. Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan
  5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara.[3]

Demikianlah, sejak Jan Pieters Zoon Coen (1587-1929) dengan meriam dan politk Machiavellinya menduduki Jakarta pada tgl 30 Mei 1619 serta mengganti nama Jakarta menjadi Batavia.

II.2 Kebijakan Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Indonesia merupakan Negara berpenduduk Mayoritas Islam. Agama Islam secara terus-menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkeraman pemerintah kafir. Perlawanan dari raja-raja Islam terhadap pemerintahan colonial bagai tak pernah henti. Padam disuatu tempat muncul tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawanan itu diinspirasi oleh ajaran Islam.

Dalam rangka membendung pengaruh Islam, pemerintah Belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia, terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka harus ditarik kearah westernisasi.[4]

Kebijaksanaan Belanda dalam mengatur jalanya pendidikan tentu saja dimaksudkan  untuk kepentingan mereka sendiri, teurtama untuk kepentingan agama Kristen. Hal ini terlihat jelas, misalnya ketika Van De Boss menjadi Gubernur Jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah-sekolah Gereja dianggap diperlukan sebagai sekolah pemerintah. Sedang departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu, sementara  disetiap daerah karesidenan didirikan satu sekolah Agama Kristen.

Jadi yang dipikirkan mereka dibidang pendidikan hanyalah untuk kepentingan mereka sendiri. Inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi adalah ketika Van De Capellen menjabat sebagai GubernurJenderal, dimana pada waktu itu dia memberikan surat edaran yang ditujukan kepada para Bupati, yang isinya adalah : “dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya kemampuan untuk membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hokum Negara  yang ditetapkan Belanda”.

Dengan demikian jelas terlihat, meskipun Benda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua adalah demi kepentingan mereka semata. Jiwa dari surat edaran yang dibuat Van De capellen tersebut diatas adalah menggambarkan tujuan dari didirikanya Sekolah Dasar pada Zaman itu. Pendidikan agama Islam yang telah ada di pondok pesantren mesjid dan mushalla atau yang lainnya dianggap tidak membantu pemerintah Belanda. Para santri pondok masih dianggap buta huruf latin, yang secara resmi menjadi acuan pada waktu itu.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan, diantaranya :

  1. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang mereka sebut Priesterraden.[5] Dari nasihat bdan inilah maka pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agama Islam harus terlebih dulu meminta izin kepada pemerintah Belanda.
  2. Tahun 1952 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan Islam, yaitu bahwa tidak semua orang Kyai boleh memberikan pelajaran mengaji kecuali mendapat semacam rekomondasi atas persetujuan pemerintah Belanda.
  3. Kemudian pada tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya beberapa kewenangan untuk memberantas dan menutup madrasah an sekolah yang tidak ada izinya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang disebut  Ordonasies Sekolah Liar  (Wilde School Ordonantie).

Tidak hanya sampai disitu, agama Islam dipelajari secara Ilmiah dinegeri Belanda. Seiring dengan itu, disana juga diselenggarakan indologie[6], ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk-beluk penduduk Indonesia. semua itu dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia. hasil dari kajian itu, lahirlah apa yang dikenal dengan “Politik  Islam”. Tokoh utama dan peletak dasarnya adalah Prof. Snouck Hurgronje. Dia berada di Indonesia antara tahun 1889 dan 1906. Berkat pengalamannya di Timur tengah, sarjana sastra semit ini berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia, yang menjadi pelopor pedoman bagi pemerintah Hindia-Belanda, terutama  Adviseur voor Inlandsche zaken,  Lembaga penasihat gubernur jenderal tentang segala sestuatu mengenai pribumi.[7]

Berdasarkan analisisnya, Islam dapat dibedakan menjadi dua bagian, yang satu Islam religius dan yang lain Islam Politik. Terhadap masalah agama, pemerintah belanda disarankan bersikap toleran yang dijabarkan didalam sikap  netral terhadap kehidupan keagamaan. Tolerenasi terhadapnya merupakan suatu yang mutlak demi ketenangan dan stabilitas. Akan tetapi Islam politik harus selalu dicurigai dan diteliti dari mana datangnya. Dan ternyata apa yang disaranka oleh Snouck Hurgrinje tersebut akhirnya justru menjadi kebijaksanaan pemerintah Hindia – Belanda terhadap Islam Indonesia. adapun intisari dan saran-saran Snouck Hurgronje  tersebut adalah :

  1. Menyarankan kepada pemerintha Hindia-belanda agar Netral terhadap agama yakni tidak ikut campur tangan dan tidak memihak kepada salah satu agama yang ada (tapi tampaknya hal ini bersifat teori belaka). menurut snouck,  fanatisme Islam itu akan luntur sedikit demi sedikit melalui proses pendidikan secara evolusi.
  2. Permerintah Belanda diharapkan dapat membendung masuknya Pan Islamisme yang sedang berkembang di Timur tengah, dengan jalan menghalangi masuknya buku-buku atau brosur dari luar ke wilayah Indonesia. mengawasi kontak langsung dan tidak langsung tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan tokoh luar, serta membatasi dan mengawasi orang-orang yang pergi ke Mekkah, dan bahkan kalau memungkinkan melarangnya sama sekali. Karena dikhawatirkan pengalaman yang didapatkanya dari luar akan dibawa pulang ke Indonesia dan mempengaruhi kelanggengan kekuasaan colonial. [8]

Demikian beberapa kebijaksanaan poemerintah colonial Belanda terhadap umat Islam di Indonesia. apapun politik terhadap Islam yang akan dilancarkan oleh kekuasaan non-Islam, hasilnya senatiasa berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan tersebut. Tekanan demi tekanan sama sekali tidak menggoyahkan mereka.

 

II.3 Lembaga Pendidikan Zaman Penjajahan Belanda

Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2 (dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi(perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Berbeda dengan kondisi di negeri Belanda sendiri dimana lembaga pendidikan dikelola secara bebas oleh organisasi-organisasi keagamaan, maka selama abad ke-17 hingga 18 M, bidang pendidikan di Indonesia harus berada dalam pengawasan dan kontrol ketat VOC.

Jadi, sekalipun penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan oleh kalangan agama (gereja), tetapi mereka adalah berstatus sebagai pegawai VOC yang memperoleh tanda kepangkatan dan gaji. Dari sini dapat dipahami, bahwa pendidikan yang ada ketika itu bercorak keagamaan (Kristen Protestan). Hal ini juga dikuatkan dari profil para guru di masa ini yang umumnya juga merangkap sebagai guru agama (Kristen). Dan sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan memiliki lisensi (surat izin) yang diterbitkan oleh VOC setelah sebelumnya mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi.[9]

Kondisi pendidikan di zaman VOC juga tidak melebihi perkembangan pendidikan di zaman Portugis atau Spanyol. Pendidikan diadakan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi, VOC memilih untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penduduk, tetapi mempergunakan mediasi para penguasa lokal pribumi. Jikalaupun ada, itu hanya berada di pusat konsentrasi pendudukannya yang ditujukan bagi para pegawai dan keluarganya. Beberapa lembaga pendidikan yang adapa pada masa jaman penajajahn belanda adalah :

  1. MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua tahun.
  2. AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
  3. HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa Barat, khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun. Didirikan pada tahun 1860
  4. Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881
  5. Sekolah pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu
  6. Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
  7. Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
  8. Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda.
  9. dll

II.4 Kurikulum Pendidikan

Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut: [10]

  1. Pendidikan Dasar

1.Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara,berdiri tahun 1630); Dll.

  1. Sekolah Latin

2.Diawali dengan sistem numpang-tinggal In de kost di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.

  1. Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)

3.Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.

  1. Sekolah Cina

4.1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.

  1. Pendidikan Islam

5.Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.

Pada tahun 1893 timbullah differensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan:[11]

  1. Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu padat.
  2. Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang harus mendapat pengjaran itu bukan hanya lapisan atas saja.
  3. Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa bawah.

Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:

  1. Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
  2. Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:

Kelas I[12]

Tujuan: memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan  perusahaan.

Lama bersekolah: 5 tahun

Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.

Guru-guru: keluaran Kweekschool

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Kelas II

Tujuan: Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum

Lama bersekolah: 3 tahun

Mata paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.

Guru-guru: persyaratannya longgar

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah/Melayu

Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah  lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

BAB III

KESIMPULAN

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sedikit banyak di pengaruhi oleh latar belakang sosial politik, apalagi ketika zaman penjajahan Belanda, yang merupakan penjajah paling lama bertahan di Indonesia, hal ini menyebabkan kerusakan tatanan keislaman yang sudah ada di Indonesia saat itu.

Keadaan kerajaan-kerajaan Islam sendiri menjelang datangnya belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia mengalami kemajuan, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik,  tetapi juga proses Islamisasinya.

Politik yang dijalankan pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasarkan oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya yaitu Kristen dan rasa kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka tetapkan berbagai peraturan dan kebijakan

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar   bahasa   daerah   (IS,   VS,   VgS),   dan   sekolah   peralihan.   (2)   Pendidikan   lanjutan   yang   meliputi   pendidikan   umum   (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zuhairini, Dra,  Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2010

2. Hasbullah, Drs, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

3. M.A, Badri Yatim Dra, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008


[1] Sartono kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 , jilid 1, (Jakarta : PT Gramedia, 1987), hlm. 70.

[2] Ibid., hlm. 61.

[3] KH. Saifudin Zuhri,  Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembanganya di Indonesia, PT Al Ma’arif, Bandung, 1978, hlm. 532.

[4] S. Brojonegoro, Sejarah Pendidikan Islam, dan Diklat Kuliah Sejarah Pendidikan Islam, oleh HR Mubangid.

[5] HR. Mubangid, Diktat Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam.

[6] H. Aqib Suminto, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1985), hlm. 2 .

[7] Baca H. Aqib Sumito, Politik Islam HIndia-Belanda, (Jakarta :LP3ES, 1986).

[8] E.Gobee dan C.Adriaanse,  Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda, seri khusus INIS VIII, Jakarta 1993.

[9] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 29

[11] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 36

[12] Prof. Dr. H. Afifuddin, Sejarah Pendidikan, (bandung: Prosfect, 2007), hlm. 37

RANGKUMAN FIQIH MUAMALLAH


FIQIH MUAMALAH

 

BAB I : Jual-beli (Al-Bai’)        

  • Pengertian         : Al-bai’ menurut bahasa artinya memberikan sesuatu dengan imbalan sesuatu atau menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sedangkan menurut syara’ adalah menukarkan suatu harta benda dengan alat oembelian yang sah atau dengan harta benda yang lain dan keduanya menerima untuk dibelanjakan dengan ijab dan qabul menurut cara yang diatur oleh syara’
  • Hukum                   : Mubah
  • Rukun                    : -Penjual

-Pembeli
-Barang yang diperjualbelikan
-Alat untuk menukar dalam kegiatan jual beli (harga)
-Aqad, yaitu ijab dan qabul antara penjual dan pembeli

  • Syarat                   :a. baligh

                                 b. berakal sehat

c. tidak ada pemborosan

d. Suka sama suka

e. barang yan diperjual belikan suci, bermanfaat, jelas dan milik

sendiri

 

BAB II : AL – QORDHU

  • Pengertian          : Menyerahkan sesuatu kepada orang yg bisa memanfaatkannya,

                          kemudian meminta pengembalian sebesar uang tsb.

  • Hukum                   : sunnah bagi muqridh (pemberi pinjaman/kreditur).
  • Syarat                    : 1. Besarnya harus diketahui dgn takaran, timbangan,atau

jumlahnya.

2. Sifat dan usianya harus diketahui jika dalam bentuk hewan.

3. Pinjaman berasal dr orang yg layak dimintai pinjaman.

 

 

 

 

 

BAB III : RIBA

  • Pngertian            : Menurut Bahasa : Az ziyadah (tambahan), An numuw (berkembang), Al Irtifa’ (meningkat), Al Uluw (membesar). Menurut Ulama : Riba adalah kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan/gantinya.
  • Hukum                 : haram
  • Jenis Riba            : -Riba jual beli

Riba An Nasiah (Timbul akibat utang piutang yg tidak

memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko )

Riba Fadli (Pertukaran barang sejenis yg tidak memenuhi

kriteria sama kualitasnya)

 

BAB IV : AL – RAHN

  • Pengertian          : Menjamin hutang dgn barang dimana hutang dimungkinkan bisa dibayar

                          dengannya, atau dari hasil penjualannya.

  • Hukum                 : Boleh
  • Rukun gadai        :
  1. Orang yang menggadaikan atau yang menyerahkan jaminan.
  2. Orang yang memberi hutang atau yang menerima jaminan. Kedua orang ini disyaratkan orang yang berhak membelanjakan hartanya.
  3. Barang yang menjadi jaminan disyaratkan tidak rusak sebelum sampai kepada pembayaran hutang.
  4. Hutang atau sesuatu yang menjadikan adanya gadai.
    1. Aqad (ijab dan qabul).
  • Syarat                  :-kedua belah pihak harus berakal dan mumaiyid

 -Marhin bih hendaklah barang yang wajib diserahkan.

-Marhun bih memungkinkan dapat dibayarkan.

– Hak atas marhun bih harus jelas.

– dll

BAB V : AL –ARIYYAH

  • Pengertian            : Al-‘ariyah menurut bahasa artinya sama dengan pinjaman, sedangkan menurut istilah syara’ aialah aqad berupa pemberian manfaat suatu benda halal dari seseorang kepada orang lain tanpa ada imbalan dengan tidak mengurangi atau merusak benda itu dan dikembalikannya setelah diambil manfaatnya.
  • Hukum                 : Sunnah
  • Rukun                  :
  1. 1.      Orang yang meminjamkan syaratnya :
    1. Berhak berbuat kebaikan tanpa ada yang menghalangi. Orang yang dipaksa atau anak kecil tidak sah meminjamkan.
    2. Barang yang dipinjamkan itu milik sendiri atau menjadi tanggung jawab orang yang meminjamkan.
  1. Orang yang meminjam syaratnya :
    1. Berhak menerima kebaikan. Oleh sebab itu orang gila atau anak kecil tidak sah meminjam karena keduanya tidak berhak menerima kebaikan.
    2. Hanya mengambil manfaat dari barang yang dipinjam.
  2. Barang yang dipinjam syaratnya :
    1. Ada manfaatnya.
    2. Barang itu kekal (tidak habis setelah diambil manfaatnya). Oleh sebab itu makanan yang setelah diambil manfaatnya menjadi habis atau berkurang zatnya tidak sah dipinjamkan.
  3. Aqad, yaitu ijab qabul.
  • Syarat                          :

a)              Mu’ir berakal sehat, dengan demikian, orang gila dan anak kecil yang tidak berakal tidak akan dapat meminjamkan barang.

b)             Pemegang barang oleh peminjam ariyah adalah transaksi dalam berbuat kebaikan, yang dianggap sah memegang barang adalah peminjam, seperti halnya dalam hibah.

c)              Barang (musta’ar) dapat dimamfaatkan tampa merusak zatnya, jika must’ar tidak dapat dimamfaatkan, akad tidak syah .

 

BAB VI : AL IJARAAH

  • Pengertian            : Kata “al-ijaarah” menurut bahasa artinya upah atau sewa, sedangkan menurut istilah syara’ ialah memberkan sesuatu benda kepada orang lain untuk diambil manfaatnya dengan ketentuan orang yang menerima benda itu memberikan imbalan sebagai bayaran penggunaan manfaat barang yang dipergunakan.
  • Hukum                 : mubah (boleh)
  • Rukun Sewa-menyewa
    1. Orang yang menyewa.
    2. Orang yang menyewakan.
    3. Benda yang disewakan.
    4. Upah (bayaran) sewa-menyewa.
    5. Aqad.
  • Syarat Sewa-menyewa
  1. Orang yang menyewa dan yang menyewakan disyaratkan :
    1. Baligh (dewasa)
    2. Berakal (orang gila tidak sah melakukan sewa-menyewa)
    3. Dengan kehendak sendiri (tidak dipaksa)
  2. Benda yang disewakan disyaratkan :
    1. Benda itu dapat diambil manfaatnya
    2. Benda itu diketahui jenisnya, kadarnya, sifatnya, dam jangka waktu disewanya
  3. Sewa (upah) harus diketahui secara jelas kadarnya.

BAB VII : AL QI-RADH

  • Pengertian            : al-qiradh” ialah menyerahkan harta milik, baik berupa uang, emas atau bentuk lain kepada seseorang sebagai modal usaha kerja dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dan keuntungan tersebut dibagi dua menurut perjanjian ketika aqad.
  • Hokum                 : Qiradh hukumnya mubah atau
  • Rukun Qiradh     :
  1. Modal berupa uang tunai atau emas atau benda erharga lainnya yang dapat diketahui jumlah dan nilainya.
  2. Pemilik modal dan yang menjalankan modal hendaknya orang yang sudah baligh, berakal sehat dan merdeka.
  3. Lapangan kerja, yaitu pekerjaan berdagang yang tidak dibatasi waktu, tempat usaha ataupun barang-barang yang diperdagangkan.
  4. Keuntungan ditentukan terlebih dahulu pada waktu mengadakan perjanjian.
  5. Ijab/qabul (aqad qiradh).

 

 BAB VIII : AS-SYIRKHAH

  • Pengertian            : Musyarakah kepemilikan (misal, krn waris)
  • Hokum                 : boleh
  • Rukun                  : –para pihak yang bersyirkhah

  –porsi kerja sama

 –Proyek usaha

 –ijab-qobul

 –nisbah

  • Syarat                   : 1. Merupakan transaksi yang bias diwakilkan

  2. persentase pembagian hasil jelas

3. keuntungan diambil dari hjasil laba

 

BAB IX : AL –LUQHATAH

  • Pengertian            : Al-luqathah” menurut bahasa artinya barang temuan, sedangkan

menurut istilah syara’ ialah barang yang ditemukan di suatu tempat dan tidak diketahui siapa pemiliknya.

  • Hukum luqathah :
  1. Wajib (mengambil barang itu), apabila menurut keyakinan yang menemukan barang itu, jika tidak diambil akan sia-sia.
  2. Sunnah, apabila yang menemukan barang itu sanggup memeliharanya, dan sanggup mengumumkan kepada masyarakat selama satu tahun.
  3. Makruh apabila yang menemukan barang itu tidak percaya pada dirinya untuk melaksanakan amanah barang temuan itu dan khawatir ia akan khianat terhadap barang itu.

BAB X : AL-WAKALAH

  • Pengertian          : wakalah adalah suatu ungkapan yang mengandung suatu pendelegasian sesuatu oleh seseorang kepada orang lain supaya orang lain itu melaksanakan apa yang boleh dikuasakan atas nama pemberi kuasa.
  • Hokum                : boleh
  • Syarat & rukun :

 Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil)

i.      Seseoarang yang mewakilkan, pemberi kuasa, disyaratkan memiliki hak untuk bertasharruf pada bidang-bidang yang didelegasikannya.

ii.      Pemberi kuasa mempunyai hak atas sesuatu yang dikuasakannya, disisi lain juga dituntut supaya pemberi kuasa itu sudah cakap bertindak atau mukallaf. Tidak boleh seorang pemberi kuasa itu masih belum dewasa yang cukup akal serta pula tidak boleh seorang yang gila.

Orang yang diwakilkan. (Al-Wakil)

i.            Penerima kuasa pun perlu memiliki kecakapan akan suatu aturan-aturan yang mengatur proses akad wakalah ini.

ii.            Seseorang yang menerima kuasa ini, perlu memiliki kemampuan untuk menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. ini berarti bahwa ia tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas, kecuali atas kesengajaanya,

Obyek yang diwakilkan.

i.      Obyek mestilah sesuatu yang bisa diwakilkan kepada orang lain

ii.      Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah badaniyah, seperti shalat, dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah maliyah seperti membayar zakat, sedekah, dan sejenisnya. Selain itu hal-hal yang diwakilkan itu tidak ada campur tangan pihak yang diwakilkan.

iii.                Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Sehingga obyek yang akan diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.

Shighat

i.                    Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. Dari mulai aturan memulai akad wakalah ini, proses akad, serta aturan yang mengatur berakhirnya akad wakalah ini.

ii.                  Isi dari perjanjian ini berupa pendelegasian dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa

iii.                Tugas penerima kuasa oleh pemberi kuasa perlu dijelaskan untuk dan atas pemberi kuasa melakukan sesuatu tindakan tertentu.

 

BAB IX : MUZARA’AH

  • Pengertian            : Muzara’ah ialah suatu aqad yang terjadi antara pemilik tanah dan pengelola tanah untuk digarap dengan ketentuan bahwa benih yang akan ditanam adalah dari pemilik tanah tersebut.
  • Hokum                 : boleh
  • Rukun                  : -pemilik tanah

  -penggarap tanah

 -objek tanah

-ijab-qobul

  • Syarat                   : -berakal, baligh, tanah yang digarap jelas dll